logo Kompas.id
Ekonomi”Daur Ulang” Hasil ”Booming”...
Iklan

”Daur Ulang” Hasil ”Booming” Komoditas Guna Jaga Tren Pertumbuhan

Dampak positif dan negatif ”booming” komoditas bisa dilihat dari sisi korporasi, rumah tangga, dan fiskal negara. Dari sisi korporasi dan rumah tangga, korporasi lebih diuntungkan ketimbang rumah tangga.

Oleh
Hendriyo Widi
· 1 menit baca
Proses produksi minyak goreng di pabrik pengolah minyak sawit milik PT Smart di Kawasan Industri Marunda Center, Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu. Pabrik ini mengolah minyak sawit menjadi beragam produk turunan, seperti minyak goreng, margarin, dan mentega, dengan kapasitas produksi 1.800 ton minyak sawit per hari. Produk yang dihasilkan selain dipasarkan di dalam negeri, juga untuk ekspor ke sejumlah negara di Timur Tengah dan Eropa.
KOMPAS/IWAN SETYAWAN

Proses produksi minyak goreng di pabrik pengolah minyak sawit milik PT Smart di Kawasan Industri Marunda Center, Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu. Pabrik ini mengolah minyak sawit menjadi beragam produk turunan, seperti minyak goreng, margarin, dan mentega, dengan kapasitas produksi 1.800 ton minyak sawit per hari. Produk yang dihasilkan selain dipasarkan di dalam negeri, juga untuk ekspor ke sejumlah negara di Timur Tengah dan Eropa.

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah dan korporasi diharapkan ”mendaur ulang” hasil booming komoditas untuk menjaga tren pertumbuhan ekonomi di tengah potensi kenaikan inflasi. Pendapatan dari kenaikan sektor komoditas itu dapat dialokasikan ke sektor-sektor lain atau diinvestasikan kembali untuk mengembangkan usaha.

Kepala Ekonom Citibank Indonesia Helmi Arman, Rabu (8/6/2022), mengatakan, Indonesia merupakan negara eksportir sekaligus importir bersih komoditas pangan dan energi. Tidak mengherankan jika kenaikan harga batubara, minyak mentah, dan minyak kelapa sawit mentah dapat memberikan ”durian runtuh” (windfall) sekaligus memunculkan tambahan pengeluaran akibat kenaikan harga pangan dan energi di dalam negeri.

Editor:
MUKHAMAD KURNIAWAN
Bagikan