logo Kompas.id
MetropolitanTransjakarta Pastikan Aspek...

Transjakarta Pastikan Aspek Keselamatan Dipenuhi

Hampir dua bulan berlalu sejak Transjakarta menerima rekomendasi perbaikan aspek keselamatan dari KNKT. Sejumlah perbaikan mulai dikerjakan, ditargetkan bulan keenam semua rekomendasi terpenuhi.

Oleh
HELENA FRANSISCA NABABAN
· 5 menit baca
Direktur Utama Transjakarta Mochammad Yana Aditya, Sabtu (4/12/2021).
Kompas/FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY

Direktur Utama Transjakarta Mochammad Yana Aditya, Sabtu (4/12/2021).

JAKARTA, KOMPAS — PT Transportasi Jakarta memastikan rekomendasi keselamatan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi dipenuhi dan diterapkan dalam layanan. Sejumlah langkah dilakukan, mulai pembentukan divisi keselamatan, penempatan kembali petugas layanan di dalam bus, pengaturan rencana operasi mingguan, hingga penyediaan sopir langsir untuk menghindarkan kelelahan.

”Ini sudah berjalan di bulan kedua, harapannya semua berjalan di bulan keenam,” kata M Yana Aditya, Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, dalam diskusi daring bertema, ”Peningkatan Layanan Transjakarta yang Aman, Nyaman, dan Berkeselamatan di Jabodetabek” yang digelar Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Rabu (9/02/2022).

Yana melanjutkan, sejak kejadian kecelakaan di triwulan terakhir 2021 yang terus-menerus dan membuat Transjakarta mendapatkan sorotan, PT Transjakarta menggandeng Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Transjakarta meminta KNKT melakukan audit atas Transjakarta sehingga menjelang akhir Desember 2021 KNKT sudah menyerahkan sejumlah rekomendasi untuk aksi keselamatan.

Baca juga: KNKT Sarankan Transjakarta Punya Unit Keselamatan

Ketua Komisi Kelaikan dan Keselamatan DTKJ Prayudi mengungkapkan, di sepanjang 2021 total kecelakaan pada Transjakarta ada 508 kejadian. Triwulan I-2021 menjadi periode dengan angka kejadian tertinggi. Di Januari 2021 sebanyak 75 kejadian, lalu Maret 2021 dengan 72 kejadian, dan di Februari dengan 63 kejadian.

Dari data statistik kecelakaan yang melibatkan bus-bus milik operator, jelas Prayudi, operator yang busnya paling banyak terlibat dalam kecelakaan adalah PPD 34 persen, disusul Mayasari 32 persen, Steady Safe 16 persen, Kopaja 13 persen, Trans Swadaya 3 persen, Pahala Kencana 1 persen, dan Bianglala 1 persen.

Suasana di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (16/1/2020).
Ayu Pratiwi untuk Kompas

Suasana di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (16/1/2020).

Dari mitigasi permasalahan, menurut Prayudi, ada tiga aspek yang harus mendapatkan perhatian penuh. Pertama adalah aspek manajemen operasional di mana saat itu di antaranya tidak ada divisi keselamatan, lalu sistem target tempuh 100 km yang membuat pengemudi tidak memiliki jiwa melayani, serta standar operasi prosedur yang fokus terhadap keselamatan.

Aspek kedua adalah prasarana dan aspek ketiga adalah pengemudi.

Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT, dalam diskusi daring itu menjelaskan, dalam audit terhadap Transjakarta, ditemukan sejumlah masalah. Sama seperti penjelasan Prayudi, ada sejumlah temuan pada organisasi dan manajemen yang belum mencerminkan aspek keselamatan.

Lalu temuan pada skema operasional bus. Dalam skema ini, pola rencana operasi bus dalam bentuk harian sehingga pengemudi kesulitan memahami rute dan mencermati titik-titik bahaya dari satu rute. Lainnya adalah petugas pembantu pengemudi yang ditiadakan, terjadi pengurangan petugas pengaman rute di koridor, hingga waktu kerja total pengemudi melebihi batas jam kerja maksimum.

Baca juga: DKI Mulai Benahi Internal Transjakarta

Selanjutnya, KNKT juga mendapati masalah pada pola penyiapan pengemudi di mana di antaranya kompetensi pengemudi masih belum memenuhi standar, pergantian pengemudi terlalu dinamis akibat pola operasi secara harian, hingga keluar masuk pengemudi di perusahaan mitra Transjakarta cukup tinggi dan tidak diimbangi dengan sistem perekrutan dan pelatihan yang baik.

Puluhan armada bus Transjakarta menunggu giliran untuk mengambil penumpang di halte Bus Transjakarta di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, Senin (13/12/2021).
Kompas/Wawan H Prabowo

Puluhan armada bus Transjakarta menunggu giliran untuk mengambil penumpang di halte Bus Transjakarta di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, Senin (13/12/2021).

Tim KNKT mendapati ada masalah pula pada pemetaan hazard atau potensi bahaya pada lintasan. Di antaranya seperti terdapat cukup banyak hazard pada lintasan, kerusakan pada beberapa titik koridor, konflik yang cukup tinggi pada jalur BRT (yang salah satu cirinya memiliki jalur khusus) dan non-BRT, hingga belum adanya risk journey bagi pengemudi.

”Dari rekapitulasi data kecelakaan BRT dan non-BRT pada Januari-Oktober 2021, kecelakaan paling banyak terjadi di rute non-BRT. Untuk rute BRT, kecelakaan paling banyak terjadi di koridor 1 dan 7,” kata Soerjanto.

Berangkat dari temuan-temuan tersebut, KNKT memberikan sejumlah rekomendasi untuk perbaikan aspek keselamatan di Transjakarta.

Dari rekapitulasi data kecelakaan BRT dan non-BRT pada Januari-Oktober 2021, kecelakaan paling banyak terjadi di rute non-BRT.

Yana melanjutkan, ada 15 aksi yang pelan-pelan dikerjakan. Dari aspek organisasi dan manajemen ada lima poin yang dikerjakan. Di antaranya perbaikan data dan pelaporan kecelakaan, penempatan petugas di atas bus, pemberlakuan batas kecepatan, kajian standar remunerasi pramudi, dan penyusunan kurikulum pelatihan pramudi.

Untuk penempatan petugas di atas bus, menurut Yana, akan ada 800 petugas yang kembali ditempatkan di atas bus atau sebagai petugas layanan dalam bus. Selama ini petugas di atas bus juga di halte dikurangi bahkan tidak ada karena pandemi. Namun mulai tahun ini akan diadakan kembali.

Transjakarta, disebutkan Yana, konsisten dengan pemberlakuan batas kecepatan. Kepada para operator mitra, batas kecepatan diatur di 50 km per jam.

Warga menunggu kedatangan bus Transjakarta di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, Senin (13/12/2021).
Kompas/Wawan H Prabowo

Warga menunggu kedatangan bus Transjakarta di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, Senin (13/12/2021).

Terkait remunerasi pramudi, menurut Yana, Transjakarta dalam pembenahan manajemen juga berupaya bisa mengaudit operator. Tujuannya untuk memastikan salah satunya pramudi mendapatan remunerasi sesuai ketentuan.

Baca juga: Transjakarta, Antara Keselamatan, Kesehatan, dan Inovasi

Demikian juga dengan pemetaan potensi bahaya di rute atau routehazard mapping, ada dua hal yang diperhatikan. Pertama, keberadaan petugas patroli jalur akan dilakukan realokasi ke koridor-koridor yang memiliki potensi bahaya. Para petugas itu akan diatur kembali karena mereka membantu pramudi menghadapi adanya gangguan atau hambatan di rute atau koridor.

Kedua, menurut Yana, adalah penyusunan risk journey. Pola operasi yang semula harian kini sudah diubah menjadi pola operasi mingguan. Sehingga didukung dengan pemetaan risk journey yang disosialisasikan kepada para pramudi, mereka akan memahami rute-rute dan potensi bahaya di jalur pelayanan mereka.

Dari aspek kesiapan awak, ada tujuh aspek yang diperbaiki. Di antaranya, untuk mendukung kebugaran pramudi, ujar Yana, Transjakarta secara perlahan menyiapkan lokasi istirahat bagi pramudi di ujung koridor, pelan-pelan menyiapkan pramudi pengganti atau langsir, serta juga memastikan kesehatan seluruh pramudi dengan medical check up, hingga pelaksanaan SOP fit to work pramudi.

”Namun kita juga sudah membentuk divisi keselamatan. Divisi itu ada di bawah direktur operasi dan keselamatan,” jelas Yana.

Dengan upaya perbaikan yang dikerjakan, Yana optimistis, pelan-pelan perbaikan bisa terpenuhi hingga bulan keenam. Perbaikan juga akan meningkatkan lagi kepercayaan pelanggan kepada Transjakarta yang bahkan di hari-hari ini sudah kembali melayani 580.000 penumpang per hari.

Editor:
NELI TRIANA
Bagikan