logo kompas.id
Artikel dengan Tagar
Bebas Akses

Suladi Memahami Eyang Merapi

Sosok ·
Memuat data...

Merapi sekali lagi tak pernah ingkar janji. Tak hanya memuntahkan material vulkanis saat erupsi, gunung ini memberi pelajaran saling peduli pada manusia yang hidup di punggung dan kakinya. Suladi mengabadikan pesan itu.

Memuat data...

Adinda menceritakan udara berpolusi tinggi dengan kandungan serpihan partikel amat kecil—biasa disebut particulate matter (PM 2,5)—pernah membuat paru-parunya yang sehat menjadi seperti terserang asma.

Memuat data...

Puluhan tahun melestarikan batik peranakan Tionghoa Cirebon, Bu Giok ikut menyemai kasih dan toleransi dalam setiap cantingnya. Kiprahnya memberi senyum bagi banyak orang yang belum beruntung saat menjalani hidup.

Memuat data...

Konflik sosial yang memorakporandakan Maluku sekitar dua dekade silam menyeret banyak orang tumbuh dalam lingkungan dan pemikiran segregatif. Eklin Amtor de Fretes (28) bertekad meretas sekat segregasi itu.

Memuat data...

Bunga anggrek menjadi bahasa komunikasi dengan warga sekitar kawasan hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dimulai dari anggrek, perlahan, urusan konservasi hutan pun tercapai.

Memuat data...

Surwedi tak kenal lelah melestarikan wayang jawa timuran. Dengan usahanya, dia membukukan bahan ajar pewayangan yang lebih runut dan rapi.

Memuat data...

Tak mudah membangun kesadaran bersama untuk menjaga dan hidup berdampingan secara berkelanjutan dalam lingkungan yang terjaga. Darwin mengambil peran itu walau harus meninggalkan kemeriahan hidup di kota.

Memuat data...

Kejelian Yohan W Noerahmat (37) mencari celah penjualan kelapa dan produk turunannya berbuah manis. Sabut kelapa yang awalnya hanya limbah kini membuat bangga Indonesia saat sukses melanglang buana ke sejumlah negara.

Memuat data...

Wilhelmina Bona yang kini berusia 94 tahun dan Margareta Muti yang berusia 75 tahun terus menenun. Mereka menjaga tradisi yang wajib dimiliki setiap perempuan di tanah Timor, NTT.

Memuat data...

Menjadi guru agama di pelosok desa tak cukup bagi Icang Aini (26). Pengalaman orangtuanya dulu sebagai petani juga ia tekuni. Semangat besarnya menjadi inspirasi banyak pemuda yang hampir putus sekolah.

Halaman 1