logo Kompas.id
Nusantara”Klitih” dan Jejak ”Koboi”...

”Klitih” dan Jejak ”Koboi” Remaja Jalanan Yogyakarta

Kekerasan jalanan, seperti klitih, geng remaja, dan premanisme, mengakar panjang di Yogyakarta. Faktor sosial, ekonomi, bahkan politik berperan. Di tengah sesaknya kota, butuh ruang ekspresi yang humanis bagi remaja.

Oleh
GREGORIUS MAGNUS FINESSO
· 1 menit baca
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Garda Ummat DIY menggelar aksi Warga Jogja Melawan Klitih di Titik Nol, Yogyakarta, Senin (3/1/2022). Aksi itu untuk mendorong aparat keamanan meningkatkan perlindungan bagi warga terhadap aksi klitih serta meminta pemberian hukuman berat bagi para pelaku klitih.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Garda Ummat DIY menggelar aksi Warga Jogja Melawan Klitih di Titik Nol, Yogyakarta, Senin (3/1/2022). Aksi itu untuk mendorong aparat keamanan meningkatkan perlindungan bagi warga terhadap aksi klitih serta meminta pemberian hukuman berat bagi para pelaku klitih.

Kekerasan jalanan atau kerap disebut klitih seperti borok yang menggerogoti peradaban di Daerah Istimewa Yogyakarta. Luka itu tak sembuh tuntas karena akar masalahnya tak ditangani tuntas. Faktor sosial, ekonomi, hingga politik memengaruhi jejak panjang kekerasan oleh ”koboi-koboi” remaja di Yogyakarta.

Belakangan, istilah klitih dan Jogja kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Beberapa hari terakhir muncul meme menggelitik merespons kondisi Yogyakarta yang dinilai kian tak aman. Ada warganet yang mengilustrasikan kisah Cinderella yang buru-buru pulang saat sedang berdansa dengan Sang Pangeran. Si Cinderella menjawab, takut menjadi korban klitih yang umumnya terjadi lewat tengah malam.

Editor:
GESIT ARIYANTO
Bagikan