logo Kompas.id
InternasionalBeri Bukti Militer Tak Didukung Rakyat, PNS Myanmar Mogok

Beri Bukti Militer Tak Didukung Rakyat, PNS Myanmar Mogok

Rezim militer Myanmar bisa lumpuh jika sebagian besar pegawai negeri meninggalkan mereka tanpa aparat negara. Para PNS ini sudah nekad.

Oleh Pascal S Bin Saju
· 1 menit baca
Memuat data...
AP

Unjuk rasa antikudeta yang berlangsung sejak awal Februari tersebut telah memakan korban jiwa. Tiga pengunjuk rasa dan satu laki-laki yang sedang ronda keliling kampung tewas ditembak aparat. Foto 24 Februari 2021.

Rumah sakit umum sepi. Kantor pemerintah dibiarkan “mati”. Kereta api diam di tempat. Sebagian besar pegawai negeri sipil (PNS) atau pamong praja telah melakukan mogok massal, sejak pekan lalu dan berlanjut Jumat (26/2/2021) ini.

Banyak PNS Myanmar menolak bekerja untuk melayani rezim junta militer. Mereka tidak peduli dengan risiko akibat terganggunya mata pencarian atau pekerjaan mereka. Misinya hanya satu: lawan otorianisme rezim militer, “pembunuh bayi demokrasi” yang beranjak tumbuh.

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Editor: Pascal S Bin Saju
Memuat data..