logo Kompas.id
OlahragaAntonio Conte Mengubah Para ”Pecundang” Jadi Pemenang

Antonio Conte Mengubah Para ”Pecundang” Jadi Pemenang

Sentuhan tangan dingin Antonio Conte kembali menciptakan ”keajaiban”. Pelatih eksentrik yang kerap mengubah barisan pecundang menjadi pemenang itu membawa Inter Milan juara Liga Italia dan meruntuhkan dominasi Juventus.

Oleh Yulvianus Harjono
· 6 menit baca
Memuat data...
AFP/MIGUEL MEDINA

Pelatih Inter Milan Antonio Conte memberikan instruksi selama pertandingan sepak bola Serie A Italia antara Parma dan Inter Milan di Stadion Ennio-Tardini di Parma, Italia, Jumat (5/3/2021) dini hari.

Bagi pelatih sepak bola asal Italia, Antonio Conte (51), kemenangan dan kejayaan adalah tujuan utama dalam hidupnya. Tidak heran, anak satu-satunya dinamai Vittoria (13) alias pemenang. Berbagai gelar juara pun kini selalu mengiringi langkah Conte di mana pun ia berpetualang.

Gelar juara itu terakhir kali diraihnya bersama Inter Milan. Klub berjuluk ”I Nerazzurri” itu dipastikan menjadi juara Liga Italia Serie A untuk pertama kali dalam 11 tahun terakhir. Trofi scudetto (gelar juara Liga Italia) ke-19 Inter menjadi penegas kepiawaian Conte yang sebelumnya pernah memberikan gelar juara liga untuk Juventus dan klub Inggris, Chelsea.

Berbeda dengan kebanyakan pelatih klub besar yang lebih sering meneruskan kejayaan para pendahulunya, Conte memilih jalan lainnya yang jauh lebih sulit. Ia memilih ”babat alas”. Serupa dengan yang dilakukannya di Juve dan Chelsea, Conte membuka jalan baru menuju kesuksesan saat Inter tengah tersesat lama di hutan belantara alias era tanpa prestasi dan jati diri.

Sebelum Conte hadir di Appiano Gentile, kawasan markas Inter di pinggiran Milan, ”La Beneamata” telah menghadirkan banyak pelatih untuk mengembalikan kejayaan mereka seperti pada era 1990 hingga 2000-an. Total 11 pelatih telah didatangkan Inter sejak terakhir kali mereka berjaya dengan meraih treble alias tiga gelar semusim pada era Jose Mourinho, 2010 silam. Dari 11 nama itu, sebagian di antaranya merupakan pelatih berkelas dunia, seperti Rafael Benitez, Roberto Mancini, dan Gian Piero Gasperini.

Baca juga : Conte, Alfa dan Omega Serie A dalam Satu Dekade

Namun, tidak satu pun dari mereka yang mampu memberikan prestasi mencolok. Capaian tertinggi mereka pada satu dekade terakhir di Liga Italia, sebelum Conte hadir di Gentile pada awal musim 2019-2020, adalah finis sebagai runner-up pada 2011 bersama Benitez dan Leonardo. Inter kehilangan jati dirinya sebagai tim yang disegani di Italia dan pernah meraih lima scudetto beruntun pada kurun 2006 hingga 2010. Satu dekade terakhir, mereka lebih kerap finis di luar empat besar.

Maka, tantangan Conte pun sangat berat ketika pertama kali menangani Inter pada 2019. Ia harus menanamkan mentalitas juara, hal yang sangat asing di skuad para pemain Inter saat ini. Dari 24 anggota skuad Inter pada musim ini, hanya gelandang Arturo Vidal yang pernah merasakan gelar juara liga, baik bersama Juve, Bayern Muenchen, maupun Barcelona.

”Pencapaian (gelar juara) ini berkat pemimpin hebat, seperti Conte. Dia membawa nilai-nilai penting dari karier hebatnya dan penuh gelar sebagai pemain ataupun pelatih. Ia meneruskannya kepada para pemain (Inter) saat ini. Tidak satu pun dari pemain ini yang pernah juara sebelumnya, kecuali Arturo (Vidal),” ujar Direktur Inter Milan Beppe Marotta dikutip Sky Sport Italia, Minggu.

Memuat data...
AFP/MARCO BERTORELLO

Pelatih Inter Milan Antonio Conte (kiri) bereaksi setelah Inter mencetak gol ketiga mereka dalam pertandingan sepak bola Serie A Italia saat Inter Milan melawan Lazio Roma di Stadion San Siro, Milan, Italia, Senin (15/2/2021) dini hari WIB. Kemenangan Inter atas Lazio, 3-1, mengantarkan Inter Milan ke puncak klasemen Liga Italia dari genggaman AC Milan.

Resep kesuksesan

Lantas, apa resep kesuksesan Conte sehingga mampu ”menyulap” Inter menjadi barisan pemenang? ”Kerja keras dan keyakinan. Anak-anak ini (skuad Inter) sebelumnya tidak terbiasa menang dan juara. Saya menunjukkan cara (menjadi juara) dan mereka sepenuhnya percaya kepada saya. Pada akhirnya, kami menemukan jalan (kejayaan),” ujar Conte saat diwawancarai media Italia lainnya, Rai 2.

Perkataan serupa disampaikannya saat pertama kali melatih Juventus, Agustus 2011 silam. Serupa Inter, saat itu Juve tengah compang-camping sebagai dampak hengkangnya para bintang mereka menyusul skandal calciopoli (pengaturan wasit). Jangankan juara, apalagi mendominasi Italia, Juve adalah tim yang inferior. Juve finis dua kali beruntun di peringkat ketujuh Liga Italia, tepat sebelum Conte hadir.

”Setiap orang yang hadir di sini tampil buruk selama beberapa musim terakhir. Kita harus melakukan segala cara untuk mengangkat kembali harga diri dan kembali menjadi Juve seperti saya kenal. Membalikkan kapal karam ini bukanlah permintaan, melainkan perintah. Itu kewajiban moral. Untuk itu, kalian hanya perlu melakukan satu hal dan itu hal mudah, yaitu ikuti saya,” ujar Conte kepada skuad Juve saat itu, seperti disampaikan mantan anak asuhnya, Andrea Pirlo, dalam buku otobiografi berjudul Andrea Pirlo: I Think Therefore I Play (2013).

Setiap hari saya berkata kepada mereka (para pemain) bahwa kejayaan tim harus diutamakan ketimbang kesuksesan individu. Demi hal itu, pertama saya melatih pikiranmu. Kemudian, kaki-kakimu. (Antonio Conte)

Berkat gebrakannya, pada musim pertamanya di klub Turin itu, Juve langsung meruntuhkan oligopoli AC Milan dan Inter Milan. ”Si Nyonya Besar” meraih scudetto musim 2011-2012. Tidak kalah ajaibnya, mereka meraih status invincibles alias tidak terkalahkan dari 38 laga Liga Italia pada musim itu. Tak heran, sebagian fans Juve menjulukinya sebagai ”sang juru selamat”. Namanya pun diabadikan di lantai Stadion Juventus sebagai pengisi Walk of Fame bersama para legenda lainnya klub itu, seperti Zinedine Zidane, Alessandro Del Piero, Dino Zoff, dan Paolo Rossi.

Maka itu, saat menerima tawaran melatih Inter pada 2019 lalu, Conte sempat tersudut. Ia nyaris tidak punya kawan dan dibenci sebagian pendukung garis keras Juve yang menganggapnya berkhianat karena bersedia melatih tim rival. Ia bahkan dikabarkan pernah mendapatkan ancaman pembunuhan. Sebaliknya, para pendukung Inter sulit menerimanya karena masa lalunya yang erat dengan Juve, baik sebagai mantan pemain, kapten tim, maupun pelatih.

Memuat data...
AFP/MARCO BERTORELLO

Pelatih Inter Milan Antonio Conte memberi intruksi kepada anak asuhnya dari tepi lapangan saat bertanding melawan Shakhtar Donetsk di San Siro, Milan, Italia.

Akhir November lalu, ribuan pendukung Inter menyuarakan pemecatan Conte melalui gerakan #Conteout yang menjadi topik hangat di Twitter. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, ia membawa Inter kembali disegani lewat capaian ke final Liga Europa serta runner-up Liga Italia. Namun, seperti biasa, ia bergeming. Ia menjadikan kritik sebagai cambuk untuk berupaya lebih baik.

Cambuk dan teladan

Cambukan itu juga tidak segan diberikan Conte kepada para pemainnya. Sejak Conte hadir, para pemainnya, termasuk di Inter, kehilangan zona nyamannya. Striker Inter, Romelu Lukaku, misalnya, menggambarkan suasana latihan bersama Conte tidak ubahnya medan perang. Para pemain Inter digenjot fisiknya sehingga muntah-muntah. Namun, tidak hanya memerintah, Conte juga memberi teladan.

Ia jarang sekali tertidur pulas saat malam, semata-semata hanya memikirkan taktik timnya. Seluruh hidupnya adalah tentang sepak bola. Tak heran, Pirlo sempat berseloroh, Conte punya dua istri karena kerap bermalam di kantornya. Istri pertamanya Elisabetta Muscarello dan yang kedua sepak bola. ”Pelatih kami engan bermain-main. Ia tidak suka kami tampil setengah-setengah,” ujar Lukaku mengenai Conte.

Conte pun bukan pria mata duitan. Baginya, prestasi dan trofi adalah hal abadi yang bakal terukir dan dikenang selamanya, melampaui harta dan kekayaan. Tidak heran, ia pernah melabrak mantan anak asuhnya di Juve, Gianluigi Buffon, saat memotong diskusi video rekaman tentang permainan calon lawan. Saat itu, Buffon membahas usulan bonus karena sukses menjuarai Liga Italia di luar prediksi, 2012 silam.

Memuat data...
POOL VIA REUTERS/DEAN MOUHTAROPOULOS

Ekspresi kegirangan Pelatih Inter Milan Antonio Conte saat menghadapi Bayer Leverkusen pada babak perempat final Liga Europa, 10 Agustus 2020 lalu.

Baca juga: Inter Akhiri Dominasi Juve

”Setiap hari saya berkata kepada mereka (para pemain) bahwa kejayaan tim harus diutamakan ketimbang kesuksesan individu. Demi hal itu, pertama saya melatih pikiranmu. Kemudian, kaki-kakimu,” ujar Conte, pelatih perfeksionis yang dikenal berkarakter keras dan sangat disiplin, seperti dikutip AFP.

Kini, gaya melatih Conte banyak diterapkan pelatih-pelatih ternama dunia lainnya, seperti Gian Piero Gasperini yang sukses membawa Atalanta tampil sebagai kuda hitam paling menakutkan di Italia saat ini. Taktik khas Conte, 3-5-2, ataupun variasinya, 3-4-3, juga menjadi tren baru di Italia, Inggris, dan Spanyol. Taktik itu berorientasikan pada kolektivitas dan pengorbanan antarpemain.

Namun, masa depan Conte masih menjadi misteri. Ia belum berkomitmen untuk bertahan di Inter. Bisa jadi, ia akan berlabuh ke klub lainnya untuk mencari tantangan baru, yaitu mengubah barisan pecundang lainnya agar bisa menjadi pemenang.

Antonio Conte

Lahir: Lecce, Italia, 31 Juli 1969

Isteri: Elisabetta Muscarello

Anak: Vittorio Conte

Karier Melatih:

- 2007-2009: Bari

- 2009-2010: Atalanta

- 2010-2011: Siena

- 2011-2014: Juventus

- 2014-2016: Tim nasional Italia

- 2016-2018: Chelsea

- 2019-sekarang: Inter Milan

Prestasi:

- Juara Liga Italia Serie A (2012, 2013, 2014, dan 2021 )

- Piala Super Italia (2012 dan 2013)

- Liga Primer Inggris (2017)

- Piala FA Inggris (2018)

Penghargaan:

- Pelatih Terbaik Liga Italia Serie A (2012, 2013, dan 2014)

- Manajer Terbaik Liga Primer Inggris (2017)

- Runner-up Pelatih Terbaik Dunia (2017)

Editor: Maria Susy Berindra
Bagikan
Memuat data..