logo Kompas.id
KesehatanBelum Semua Fasilitas Sanitasi...

Belum Semua Fasilitas Sanitasi Terhubung ke IPAL

Belum semua fasilitas sanitasi dikatakan aman karena air limbah domestiknya belum diolah dengan baik. Jika dibiarkan, hal ini dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan masalah kesehatan publik.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/6m4CtpjxSQAoHzzRtwDzxgvRf4s=/1024x635/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F02%2Fkompas_tark_2752504_71_0.jpeg
Kompas

Anak-anak bermain di tepi sungai di Agats, Asmat, Papua, Minggu (20/10/2013). Infrastruktur sanitasi yang tidak memadai serta ancaman penyakit malaria menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang tinggal di atas kawasan rawa tersebut.

JAKARTA, KOMPAS — Sebagian penduduk Indonesia belum memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak dan aman. Selain itu, sebagian fasilitas sanitasi belum terhubung ke instalasi pengolahan air limbah atau IPAL ataupun tangki septik sehingga dapat mencemari sumber air.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), akses publik terhadap fasilitas sanitasi yang layak dan aman pada 2020 adalah 79,53 persen. Namun, persentase sanitasi aman jauh lebih kecil dibandingkan sanitasi layak, yakni kurang dari 10 persen.

Sanitasi layak adalah yang memenuhi syarat kesehatan, antara lain, kloset menggunakan leher angsa. Selain itu, tempat pembuangan akhir tinja berupa tangki septik atau sistem pengolahan air limbah domestik setempat (SPALD-S) maupun terpusat (SPALD-T).

Sementara itu, sanitasi aman adalah yang tidak mencemari lingkungan. Sanitasi aman mesti terhubung ke IPAL domestik atau tangki septik yang disedot sekali dalam 3-5 tahun. Fasilitas sanitasi dikatakan aman apabila air limbah domestik dibuang ke instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT).

Salah satu komponen Indeks Kualitas Lingkungan Hidup adalah pencemaran sumber air. Proporsi air limbah domestik terhadap pencemaran sekitar 60 persen.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/9VIDBo-GsLQcswEBjDGaZyDiok4=/1024x1920/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F11%2F20181118H1_KID_TOILET_MUMEDWEB_1542560696.png

Baca juga : Pengolahan Air Limbah Perkotaan di Jakarta dan Sekitarnya Masih Buruk

Koordinator Bidang Air Minum dan Sanitasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Nur Aisyah Nasution mengatakan, air limbah domestik berkontribusi pada pencemaran sumber air. Hal ini menyebabkan masalah kesehatan, seperti diare dan tengkes (stunting).

”Salah satu komponen Indeks Kualitas Lingkungan Hidup adalah pencemaran sumber air. Proporsi air limbah domestik terhadap pencemaran sekitar 60 persen,” ucapnya pada pertemuan daring, Selasa (16/11/2021).

Pencemaran air

Dikutip dari laman Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK MR Karliansyah mengatakan, Indeks Kualitas Air meningkat sebesar 0,91 menjadi 53,53 di 2020. Kendati demikian, pencemaran air dari kegiatan domestik masih terdeteksi.

Menurut Adri Ruslan, Spesialis Senior Sanitasi United States Agency for International Development (USAID) dalam program Urban Water, Sanitation, and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua (IUWASH Plus), sanitasi perkotaan belum sepenuhnya aman. Sebagian fasilitas sanitasi sudah menggunakan kloset leher angsa, tapi limbahnya langsung dibuang ke sungai atau drainase tanpa diolah terlebih dulu. Ada juga yang limbahnya ditampung di tangki septik, tapi tidak pernah disedot hingga mencemari lingkungan.

Baca juga : Jalan Tengah Pemenuhan Sanitasi Aman Kawasan Urban

Sejumlah tangki septik juga tidak kedap. Pada 2018, Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PD PAL) Jakarta memperkirakan 80 persen dari 2 juta tangki septik di Jakarta berupa tangki rembesan. Bagian dinding tangki dibeton, namun bagian bawahnya terbuka sehingga limbah terserap ke tanah. Permukiman yang padat membuat tangki septik dan sumber air tanah sulit berjarak (Kompas.id, 1/11/2021).

Adri menambahkan, USAID IUWASH Plus berupaya membuat fasilitas sanitasi aman buat publik. Kerja sama dengan berbagai pihak seperti pemerintah daerah dan swasta pun dilakukan.

”Kami membuat jamban sehat dengan tangki septik atau IPAL, menyedot atau mengangkut lumpur tinja ke unit pengolahan, hingga sosialisasi praktik cuci tangan pakai sabun,” kata Adri.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/f8pH8Nn-hVig4RpIbBww_ZjgEu8=/1024x684/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F01%2Fkompas_tark_13206591_73_0.jpeg
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Pekerja memperbaiki dan membersihkan instalasi pengelolaan air limbah komunal dengan jaringan perpipaan yang dibangun sebagai bagian program Sanitasi Berbasis Masyarakat di Desa Sendangagung, Minggir, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (16/4/2015). Instalasi tersebut tersambung rumah warga setempat yang dihuni 300 jiwa. Program tersebut digalakkan, antara lain, untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat melalui ketersediaan fasilitas sanitasi yang layak serta keberadaan air tanah yang tidak tercemar limbah rumah tangga.

Menurut Subkoordinator Perencanaan Air Limbah dan Drainase Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Asri Indiyani, setiap warga negara berhak atas akses pengolahan limbah domestik. Berbagai upaya dilakukan untuk menangani isu sanitasi, seperti instalasi IPLT, membuat IPAL domestik terpusat skala regional, membuat IPAL domestik terpusat skala permukiman, hingga menyediakan fasilitas sanitasi di lembaga pendidikan keagamaan dan desa padat karya.

Ia menambahkan, fasilitas sanitasi umum masih dibutuhkan. Sebab, publik tidak hanya buang air di rumah, tetapi juga tempat mereka beraktivitas. Penyediaan sanitasi yang aman dan layak pun penting.

Baca juga : Akses Sanitasi Masyarakat Belum Aman

Teknologi

Teknologi dapat digunakan untuk memantau kondisi fasilitas sanitasi umum. CEO Jamban.id Rudy Wahyu Perdana mengatakan, perusahaannya membuat sistem terpadu untuk sanitasi umum. Melalui aplikasi, publik bisa memberi penilaian dan masukan ke pengelola atau pemilik toilet umum, hingga membayar biaya penggunaan toilet secara digital.

Aplikasi Janipro juga dapat memudahkan petugas kebersihan. Misalnya, untuk memantau jadwal kerja petugas, mencatat stok barang kebersihan, hingga mencatat performa petugas kebersihan. Perusahaannya juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan sejumlah pihak untuk merenovasi toilet umum yang bersih, sehat, dan nyaman.

Editor:
Adhitya Ramadhan
Bagikan