logo Kompas.id
Politik & HukumCornelis Lay, Intelektual...

Cornelis Lay, Intelektual Jalan Ketiga

Karakter Cornelis Lay semasa hidup yang terlibat aktif dalam kekuasaan tanpa melupakan perannya sebagai intelektual patut jadi rujukan para cendekiawan masa kini. Kekuasaan dan ilmu pengetahuan tak seharusnya berjarak.

Oleh
RINI KUSTIASIH
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/cYI9l5RtJ4Xqa1WFSfO1uSeOEzo=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F02%2F20190206_GURU-BESAR_B_web_1549441955.jpg
KOMPAS/HARIS FIRDAUS

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Cornelis Lay berjalan kembali ke tempat duduk seusai menyampaikan pidato dalam acara pengukuhannya sebagai guru besar, Rabu (6/2/2019), di Balai Senat UGM, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ilmu pengetahuan-intelektual, dan kekuasaan, sejak lama dipisahkan oleh pandangan yang mengatakan keduanya berada pada sisi yang berlainan. Kekuasaan sebagai sesuatu yang ”kotor”, sementara ilmu pengetahuan-intelektual haruslah pada posisi netral atau sekurang-kurangnya berjarak dari kekuasaan.

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Cornelis Lay, yang tutup usia pada Rabu (5/8/2020), memandang keduanya tidak pada posisi solid semacam itu, tetapi dengan sudut pandang relasional, bahkan kolaboratif.

Editor:
Antonius Ponco Anggoro
Bagikan