logo Kompas.id
OpiniPesan untuk Muhammadiyah dan...

Pesan untuk Muhammadiyah dan NU

NU-Muhammadiyah yg mewakili arus utama Islam Indonesia harus semakin menancapkan jangkarnya di samudra Nusantara sedalam-dalamnya. Generasi baru kedua arus utama ini mesti berpikir besar dan strategis menjaga Indonesia.

Oleh
AHMAD SYAFII MAARIF
· 5 menit baca
Buya Syafii Maarif
KOMPAS

Buya Syafii Maarif

Di petang hari, Senin, 28 Desember 2020, Dr Ahmad Alim Muttaqin, SpA kirim WA ke ponsel saya yang berisi pesan: ”Saya dikirimi Gus Mus. Ini lukisan Pak Djoko Susilo. Salam takzim kagem (untuk) Buya.” Lukisan itu adalah tentang Gus Mus (Mustofa Bisri, mantan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), dan saya, yang digandengkan.

Bagi saya pesannya sangat jelas: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah harus berpikir besar, saling membantu, dan saling berbagi. Pada lukisan itu, Gus Mus dan saya sama-sama dengan kepala terbuka. Keduanya pakai kacamata.

Karena belum kenal dengan pelukis Djoko Susilo, saya segera minta Dr Alim mencarikan nomor kontaknya. Hanya dalam tempo kurang dari satu jam nomor yang dinanti itu telah sampai. Sebelumnya, sebuah komentar saya kirimkan dulu kepada Dr Alim: ”Imajinasi Pak Djoko sungguh mendahului zaman. I am proud of him.

Ungkapan ”mendahului zaman” saya maksudkan sebagai sebuah harapan akan munculnya corak tafsiran Islam Indonesia pasca-NU-Muhammadiyah, sebuah Islam yang tidak tercemar oleh warisan silang sengketa mazhab, sejarah, dan kepentingan politik.

Lukisan Djoko Susilo telah menuntun imajinasi saya ke jurusan itu.

Siapa tahu Gus Mus dan saya bisa dikategorikan sebagai mewakili arus kultural NU-Muhammadiyah dan sekaligus menjadi simbol masa depan Islam yang ramah, lapang dada, mengayomi, dan inklusif. Lukisan Djoko Susilo telah menuntun imajinasi saya ke jurusan itu.

Pada petang yang sama, inilah pembicaraan saya dengan sang pelukis: ”Pak Djoko, matur nuwun sanget (terima kasih banyak). Di bawah ini catatan saya atas lukisan Pak Djoko yang dahsyat itu.” Lalu saya kirimkan kepadanya komentar yang sebelumnya telah disampaikan kepada Dr Alim, seperti tertulis di atas.

Pelukis Djoko segera menjawab: ”Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.… Ngapunten sanget (mohon maaf sekali) Buya, saya baru tahu ini nomor Buya…. Apakah Buya berkenan menerima lukisan dari saya…? Saya akan bikinkan lukisan persis itu….”

Langsung saya balas: ”Matur nuwun sanget (terima kasih banyak). Sangat tajam dan gagasan sebuah corak Islam pasca-NU-Muhammadiyah. Luar biasa.” Lima menit kemudian Pak Djoko menulis: ”Siap Buya, saya lukis ulang lukisan itu untuk Buya. Mtrwn (terima kasih) Buya.”

Foto lukisan wajah Buya Ahmad Syafii Maarif dan KH Mustofa Bisri karya pelukis Djoko Susilo.
DOK. BUYA AHMAD SYAFII MAARIF

Foto lukisan wajah Buya Ahmad Syafii Maarif dan KH Mustofa Bisri karya pelukis Djoko Susilo.

Dari informasi Dr Alim yang berasal dari Gus Mus kemudian saya terima kalimat ini: ”Ternyata Pak Djoko Susilo… sudah lama punya obsesi membuat pameran dengan tajuk NU-Muhammadiyah. Dan lukisan tadi merupakan salah satu lukisan yang akan dipamerkan.”

Rentetan pembicaraan ini saya sebarkan juga kepada anak-anak muda Muhammadiyah dan kepada Zuhairi Misrawi, intelektual Indonesia dari subkultur NU.

Semua mereka senang dengan menyampaikan serba tanggapan yang memberi harapan.

Bergandengan tangan

Apa artinya semuanya ini? Bagi saya, maknanya dalam sekali. Seorang pelukis Djoko Susilo dengan kepekaan batinnya yang tajam punya gagasan yang jauh ke depan: NU-Muhammadiyah mesti bergandengan tangan untuk menjaga keutuhan Indonesia dari segala macam tangan-tangan perusak, termasuk dari mereka yang memakai bendera agama.

Setidak-tidaknya begitulah tafsiran saya terhadap lukisan Pak Djoko Susilo yang sejak petang itu, pertalian batin kami terasa telah akrab. Sependek ingatan saya, baru pertama kali ini kami berhubungan, berkat uluran tangan Gus Mus via Dr Alim.

NU-Muhammadiyah yang mewakili arus utama Islam Indonesia harus semakin menancapkan jangkarnya di samudra Nusantara sedalam-dalamnya.

NU-Muhammadiyah yang mewakili arus utama Islam Indonesia harus semakin menancapkan jangkarnya di samudra Nusantara sedalam-dalamnya. Generasi baru dari kedua arus utama ini mesti berpikir besar dan strategis dalam upaya menjaga dan mengawal kepentingan keindonesiaan yang kadang-kadang terasa masih goyah.

Tentu bersama-sama dengan kekuatan masyarakat sipil lainnya yang derajat kesetiaannya kepada Indonesia sudah teruji. Sekiranya riak-riak kecil yang ”agak aneh” yang menyusup ke dalam kedua jemaah santri ini harus cepat disadarkan agar tubuhnya menjadi aman dan kebal terhadap serbuan ideologi impor yang sedang terkapar di tanah asalnya.

Muhammadiyah-NU adalah benteng utama untuk membendung infiltrasi ideologi yang telah kehilangan perspektif masa depan untuk Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Untuk melangkah kepada tujuan besar dan mulia itu, Muhammadiyah dan NU mesti mengembangkan sikap-sikap yang lebih dewasa dan terukur dalam menghadapi isu-isu semasa yang kadang-kadang dapat mengundang salah paham yang tidak perlu.

Baca juga Lumpuhnya Pancasila

Baca juga Kesaktian Pancasila dan Kecelakaan Sejarah

Karakteristik hubungan NU-Muhammadiyah pascaproklamasi dapat bercerita banyak kepada kita tentang apa yang saya maksud. Sekalipun ranah khilafiah sudah terkubur dalam mencoraki hubungan Muhammadiyah-NU, di ranah lain dalam masalah keduniaan masih memerlukan perbaikan-perbaikan yang konkret, terbuka, dan jujur.

Kedua kubu santri ini dalam kaitannya dengan masalah kenegaraan mesti mengubah paradigma berpikirnya untuk tidak lagi terjebak ”berebut lahan” dalam kementerian tertentu yang dapat mempersempit langkah besar ke depan.

Muhammadiyah-NU seharusnya tampil dan berfungsi sebagai tenda besar bangsa dan negara. Pertanyaannya kemudian adalah apakah generasi baru Muhammadiyah-NU yang lebih terbuka dan relatif punya radius pergaulan yang lebih luas bersedia keluar dari kotak-kotak sempit selama ini? Semestinya tidak ada alasan lagi untuk terus berkurung dalam lingkaran terbatas yang bisa menyesakkan napas dan sia-sia.

Kepala Dewan Pengarah dan Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif (kiri belakang) bersama sembilan anggota melakukan sumpah dalam pelantikan UKP-PIP di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/6). Sembilan anggota dari UKP-PIP tersebut adalah Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Said Aqil Siradj, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Ma'ruf Amin, Megawati Soekarnoputri, mantan Ketua MK Mahfud MD, Andreas Anangguru Yewangoe, Sudhamek, dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif. Pelantikan tersebut tindak lanjut dari Peraturan Presiden (Pepres) Nomor 54 Tahun 2017 sebagai payung hukum pembentukan UKP PIP.
ANTARA/ROSA PANGGABEAN

Kepala Dewan Pengarah dan Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif (kiri belakang) bersama sembilan anggota melakukan sumpah dalam pelantikan UKP-PIP di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/6). Sembilan anggota dari UKP-PIP tersebut adalah Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Said Aqil Siradj, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Ma'ruf Amin, Megawati Soekarnoputri, mantan Ketua MK Mahfud MD, Andreas Anangguru Yewangoe, Sudhamek, dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif. Pelantikan tersebut tindak lanjut dari Peraturan Presiden (Pepres) Nomor 54 Tahun 2017 sebagai payung hukum pembentukan UKP PIP.

Akhirnya, sebagaimana pernah saya sampaikan, apabila benteng Muhammadiyah-NU jebol ditembus infiltrasi ideologi impor dengan teologi kebenaran tunggalnya, integrasi nasional Indonesia akan goyah dan oleng. Oleh sebab itu, kedua arus besar komunitas santri ini harus tetap awas dan siaga dalam menghadapi segala kemungkinan buruk itu.

Energi jangan lagi dikuras untuk memburu kepentingan pragmatisme jangka pendek. Islam terlalu besar dan mulia untuk hanya dijadikan kendaraan duniawi yang bernilai rendah. Eman-eman (sangat disayangkan). Lukisan Djoko Susilo harus dibaca dalam perspektif masa depan yang lebih adil dan ramah untuk semua.

Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005

Catatan redaksi: Artikel opini tulisan almarhum Ahmad Syafii Maarif (31 Mei 1935-27 Mei 2022) di atas pernah terbit di harian Kompas edisi 5 Januari 2021. Kami terbitkan kembali untuk mengenang almarhum.

Editor:
SRI HARTATI SAMHADI, YOHANES KRISNAWAN
Bagikan