logo Kompas.id
NusantaraMinat Pemuda Jepara pada Seni ...

Minat Pemuda Jepara pada Seni Ukir Kian Tergerus, Regenerasi Terancam

Sebagian besar pengukir merupakan sisa-sisa generasi lama yang berusia lebih dari 50 tahun. Meski demikian, tetap ada segelintir anak muda yang tetap minat pada seni ukir demi kelanjutan regenerasi.

Oleh
ADITYA PUTRA PERDANA
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/qFmFLQepKX_Lenrg2tfFQa9i2us=/1024x574/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2Ffc6284af-dc40-4998-9bb4-81e5b1fc00f5_jpg.jpg
KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA

Pengukir memahat kayu di salah satu tempat produksi di Desa Langon, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Jumat (12/11/2021). Permasalahan tak mulusnya regenerasi pengukir di Jepara telah lama mendera karena semakin sedikit anak muda yang berminat menjadi pengukir. Namun, masih ada segelintir pemuda yang masih melakukannya, salah satunya demi merawat dan menjaga identitas Jepara sebagai kota ukir.

JEPARA, KOMPAS — Minat pemuda Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, untuk menjadi pengukir semakin tergerus seiring kian beragamnya peluang kerja, termasuk di pabrik garmen, tekstil, dan sepatu yang tumbuh lima tahun terakhir. Kemauan dan kesadaran kian menipis. Identitas sebagai bumi ukir pun terancam.

Rendra Setiawan atau Wawan (40), pengasuh Sanggar Persing yang salah satu kegiatannya terkait konservasi seni ukir Jepara, menilai, berdirinya pabrik-pabrik yang menyerap tenaga kerja sebenarnya bukan alasan utama. Namun, dengan berbagai tantangan, minat dari diri para pemuda sendiri untuk menjadi pengukir sudah sangat berkurang.

Editor:
Gregorius Magnus Finesso
Bagikan