logo Kompas.id
NusantaraAlasan Konservasi, Bangunan...

Alasan Konservasi, Bangunan Candi Borobudur Masih Ditutup untuk Turis

Sejumlah tempat wisata, termasuk tiga candi di Jawa Tengah dan DIY, akan kembali dibuka. Namun, demi alasan menjaga kelestarian, bangunan Candi Borobudur akan tetap tertutup bagi turis.

Oleh
REGINA RUKMORINI
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/NiI25-MFVUgmAouYrOdBgVbUvxs=/1024x966/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F09%2F20200914egiA-bkb_1600088968.jpg
KOMPAS/REGINA RUKMORINI

Kepala BKB Wiwit Kasiyati

MAGELANG, KOMPAS — Meskipun Taman Wisata Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, akan segera dibuka untuk umum, bangunan utama candi masih akan ditutup dan dilarang dimasuki wisatawan. Penutupan tidak hanya terkait pandemi Covid-19, tetapi juga alasan konservasi.

Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Wiwit Kasiyati, Sabtu (11/9/2021), mengatakan, sebelum aturan teknis kunjungan diselaraskan dengan upaya konservasi candi, bangunan Candi Borobudur akan terus ditutup hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

”Kunjungan perlu dihentikan karena selama ini kunjungan wisatawan menjadi faktor yang berdampak signifikan pada kelestarian batuan candi. Selain itu, di masa pandemi seperti sekarang ini, bangunan candi tidak mungkin dimasuki wisatawan karena lorong-lorongnya yang sempit akan membuat pengunjung kesulitan menjaga jarak aman satu sama lain,” ungkap Wiwit.

Saat ini, menurut dia, BKB masih berupaya merumuskan sistem yang memungkinkan pengunjung tetap bisa berwisata dan mengetahui segala sesuatu perihal Candi Borobudur, tanpa harus naik ke bangunan candi.

Baca juga: Dapat Izin Pemerintah, Tiga Candi di Jateng-DIY Bakal Kembali Buka

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/8iRzTHIFJRuiMBdfXksG5h4BbDc=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F07%2FTuris-Asing-di-Candi-Borobudur_87915983_1583516127_jpg.jpg
Kompas

Wisatawan mancanegara mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (6/3/2020). Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke candi itu turun dari 15.603 orang pada Januari 2020 menjadi sekitar 11.000 orang pada Februari 2020. Pengelola Candi Borobudur berupaya menekan potensi penyebaran Covid-19, antara lain, dengan memindai suhu tubuh wisatawan yang berkunjung dan membekali petugas keamanan dengan masker.

Salah satunya, BKB tengah menyiapkan berbagai informasi terkait Candi Borobudur agar bisa diakses secara mudah melalui aplikasi digital memanfaatkan telepon seluler. Selain itu, tahun ini, mulai dilakukan pelatihan untuk semakin meningkatkan kompetensi dan pengetahuan para pemandu wisata.

”Tidak hanya semata-mata bisa bicara perihal sejarah, dengan pelatihan ini, diharapkan para pemandu wisata juga bisa bertutur soal OUV (outstanding universsal value) yang membuat Candi Borobudur dijadikan sebagai salah satu warisan budaya dunia,” ujarnya.

Selain itu, Wiwit mengatakan, pihaknya juga masih perlu berkoordinasi dengan desa-desa sekitar untuk menggerakkan potensi wisata di desa. Diharapkan, setiap wisatawan bisa didorong lebih banyak menghabiskan waktu ke kawasan sekitar candi dan tidak hanya mengunjungi Candi Borobudur.

”Dengan menggerakkan kunjungan ke kawasan sekitar candi, nantinya wisatawan pun bisa menghabiskan waktu lebih lama saat berwisata ke Borobudur,” ujarnya.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/67iWjSKxG9Pzt2usisoY5hHmMdk=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F06%2F831e7787-ef27-4be1-95cc-48b33dee5527_jpg.jpg
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Petugas Balai Konservasi Borobudur membersihkan abu vulkanik di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (22/6/2020). Pembersihan dilakukan setelah Gunung Merapi meletus sehari sebelumnya dan abu vulkanik dari gunung itu mencapai Candi Borobudur. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mencegah pelapukan pada batuan candi akibat abu vulkanik. Candi tersebut saat ini belum dibuka untuk wisatawan.

Untuk selanjutnya, demi menjaga kelestarian bangunan candi yang dibangun sekitar abad ke-8 tersebut, jumlah pengunjung yang naik ke bangunan akan tetap dibatasi. Saat ini BKB tengah menghitung batasan jumlah yang tepat agar wisatawan bisa nyaman berwisata. Keberadaan wisatawan diharapkan tidak akan mengganggu dan merusak bangunan candi.

Pamong ahli madya BKB, Yudi Suhartono, mengatakan, BKB sebenarnya sudah pernah melakukan perhitungan bahwa kenyamanan kunjungan hanya bisa terwujud saat jumlah wisatawan maksimal hanya 128 orang per jam. Adapun batasan maksimal jumlah wisatawan di halaman candi adalah 523 orang.

Baca juga : Laju Keausan Batuan Candi Borobudur Mengkhawatirkan

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/9YiuEKmLx929ZhkQPb_bqQE7lAM=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F02%2F20190221egiL-brb_1550744177.jpg
KOMPAS/REGINA RUKMORINI

Gesekan alas kaki pengunjung dengan batuan candi menyebabkan keausan batuan Candi Borobudur terus bertambah setiap tahun.

Kunjungan wisatawan yang tidak terkendali, menurut dia, menjadi faktor pemicu keausan batuan candi. Terbukti keausan kerap dijumpai pada batuan tangga dan lantai candi yang sering dilalui wisatawan.

Berdasarkan perhitungan BKB di tahun 2010, 70 persen batuan di bagian tangga candi telah aus. Adapun laju keausan batuan candi di tangga naik terukur 0,175 sentimeter per tahun, sedangkan laju keausan di tangga turun terukur 0,2 sentimeter per tahun. Sementara itu, laju keausan di bagian lantai 0,042 sentimeter per tahun.

Kenyamanan kunjungan hanya bisa terwujud saat jumlah wisatawan maksimal hanya 128 orang per jam. (Yudi Suhartono)

Yudi mengatakan, data perhitungan terakhir tersebut dibuat ketika jumlah pengunjung Candi Borobudur baru sekitar 2 juta per tahun. ”Karena tahun 2019 jumlah wisatawan di Candi Borobudur sudah 4 juta orang lebih, bisa dibayangkan laju keausan sudah dua kali lipat dari angka yang pernah kami hitung,” ujarnya.

Keausan, menurut Yudi, tidak sekadar terjadi pada bagian lantai. Perilaku pengunjung yang kerap naik ke bagian atas untuk berfoto atau ingin menyentuh bagian dalam stupa juga membuat keausan di bagian stupa. Hal tersebut, antara lain, terlihat dari sebagian ukiran berbentuk bunga lotus di bagian alas stupa yang kini nyaris tidak tampak lagi.

Editor:
Gregorius Magnus Finesso
Bagikan