logo Kompas.id
NusantaraJejak Sengkarut Data Korona di...

Jejak Sengkarut Data Korona di Yogyakarta

Penanganan Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta diwarnai karut-marut dalam pendataan kasus kematian. Padahal, data kematian menjadi indikator penting untuk melihat kondisi penyebaran Covid-19 secara utuh.

Oleh
HARIS FIRDAUS
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/WqWC_-mqW_GJO2Cfs1avUtPWHkA=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F03%2F20200324-Humas-UGM4_1585036205.jpeg
ARSIP HUMAS UGM

Petugas menggunakan alat pelindung diri saat memakamkan jenazah Guru Besar Universitas Gadjah Mada Iwan Dwiprahasto, Selasa (24/3/2020), di pemakaman keluarga besar UGM di daerah Sawitsari, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Iwan merupakan pasien positif Covid-19 sehingga jenazahnya harus dimakamkan dengan tata cara khusus.

Sengkarut pendataan kasus Covid-19 yang belakangan disoal di tingkat nasional, jejaknya dapat dirunut dari daerah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketidakselarasan pendataan kasus kematian pasien menyulut tanya tentang transparansi informasi serta efektivitas kebijakan pemerintah.

Persoalan pendataan itu antara lain tampak dalam kasus kematian seorang laki-laki berinisial BS. Warga Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, DIY, itu awalnya mengalami batuk-batuk pada Minggu (22/3/2020). Sehari kemudian, pria berusia 47 tahun itu memeriksakan dirinya ke dokter. Namun, kondisinya tak kunjung membaik.

Editor:
Gregorius Magnus Finesso
Bagikan