logo Kompas.id
β€Ί
Ekonomiβ€ΊEkonomi Digital

Ekonomi Digital

Pandemi Covid-19 telah memunculkan banyak perubahan, mulai dari yang bersifat fundamental hingga perilaku.

Oleh
A Prasetyantoko - Rektor Unika Atma Jaya
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/3BXEm6w8dvc8JqnRAFAhK2j2YBI=/1024x575/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F11%2FScreen-Shot-2020-11-18-at-15.07.26_1605686868.jpg
E-CONOMY SEA 2020/GOOGLE/TEMASEK/BAIN & COMPANY

Nilai pasar ekonomi digital di sejumlah negara Asia Tenggara berdasarkan hasil studi Google, Temasek, dan Bain & Company yang dipublikasikan dalam laporan berjudul ”E-Conomy SEA 2020”.

Berita baik keberhasilan pengujian vaksin Covid-19 oleh Pfizer dan BioNTech dengan efektivitas 95 persen membuat saham Zoom terperosok cukup dalam (The Economist, 21/11/2020). Berita ini menunjukkan, betapa kita semakin tergantung pada teknologi saat pandemi. Penemuan vaksin berpotensi menyurutkan kinerja sektor teknologi. Meski demikian, kita tak akan kembali pada fase sebelum pandemi. Beberapa hari kemudian, saham Zoom naik lagi, meski tidak pada nilai tertinggi.

Laporan e-Conomy SEA 2020 terbitan Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan, sejak pandemi Covid-19, penggunaan layanan digital di kawasan Asia Tenggara melonjak 36 persen. Sementara di Indonesia sedikit lebih tinggi, yakni 37 persen. Peningkatan di Singapura dan Thailand lebih rendah atau 30 persen. Perlu diingat, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 271 juta jiwa atau sekitar 46 persen dari kawasan tersebut. Jadi kenaikan itu punya implikasi besar dari sisi skala bisnisnya.

Editor:
dewiindriastuti
Bagikan