logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanTeguhkan Fondasi Kesetaraan Jender

Teguhkan Fondasi Kesetaraan Jender

Kendati sudah berlangsung hingga 90 tahun, peringatan Hari Ibu masih sering dipandang sama seperti Mother’s Day yang dirayakan di dunia. Hari Ibu lahir dari gerakan perempuan sejak Kongres Perempuan I tahun 1928.

Oleh SONYA HELLEN SINOMBOR
· 1 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati menuliskan pesan pada mural bertema lingkungan hidup di pagar Banjar Kertasari, Kelurahan Panjer, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, Rabu (9/12/2020). Darmawati  berunjung ke Banjar Kertasari menemui penyelenggara pilkada dan saksi serta petugas pengaman di TPS 17 Banjar Kertasari, yang semuanya adalah perempuan.

JAKARTA, KOMPAS — Peringatan Hari Ibu menjadi momentum menghapus budaya patriarki, memperkuat fondasi kesetaraan jender, serta meneguhkan perjuangan untuk menghapus perkawinan anak, kawin paksa, perdagangan perempuan, poligami, dan berbagai kekerasan lain. Karena itu, Hari Ibu 2020 seharusnya meneguhkan komitmen gerakan perempuan yang telah disuarakan sejak Kongres Perempuan I pada 22 Desember 1928.

Kemampuan dan resiliensi atau ketahanan yang ditunjukkan ibu-ibu di sejumlah daerah saat menghadapi pandemi Covid-19 diharapkan jadi kekuatan bagi bangsa Indonesia untuk melewati masa krisis. Selain menjadi penyangga keluarga, sejumlah ibu/perempuan selama pandemi Covid-19 juga menjalankan peran berlapis menjaga kehidupan rumah tangga, menjadi pendidik, sekaligus menopang ekonomi keluarga.

Editor: Evy Rachmawati
Bagikan
Memuat data..