logo kompas.id
Artikel dengan Tagar

Setelah merayakan ulang tahun ke-80 empat bulan lalu, Sapardi Djoko Damono menapaki tahap baru yang diistilahkannya sebagai “menyeberang”. Kemarin, ia benar-benar ”menyeberang” dari kehidupan ragawi dalam suasana sepi.

Sapardi lahir di musim hujan, mulai berkarya di musim hujan, dan mengakhirinya di pengujung musim hujan. Karya Sapardi akan tetap abadi.

I wrote this note about 30 minutes after receiving the sad news: ”Prof. SDD has left us”.

Sajak-sajakmu, Sapardi, seperti kelepak sayap kata yang menggugurkan bunga-bunga, dan hinggap di hati pencintamu. Usiamu akan berjalan terus, sebagaimana pula sajak-sajakmu yang terus membuat perhitungan, kini dan nanti.

Media sosial seakan memberikan panggung pada musikalisasi puisi dalam beberapa tahun terakhir. Banyak akun di media sosial kini membagikan konten-konten bernuansa musikalisasi puisi, tetapi berdimensi curahan hati.

Ketika menengok ke belakang, terlihat bagaimana sastrawan besar almarhum Sapardi Djoko Damono memiliki konsistensi dan energi luar biasa dalam berkarya. Janjinya untuk terus berkarya ia genapi hingga hari terakhirnya.

Sapardi Djoko Damono telah dijemput keabadian. Kesederhanaan hidup dan tutur dalam syairnya menjadi ingatan kolektif buat publik.

Karya Sapardi Djoko Damono dianggap mampu menangkap momen puitik dalam kehidupan sehari-hari. Siapa pun pembaca karya dia akan diajak melihat hal-hal biasa, tetapi memiliki makna mendalam.

Kata Sapardi dalam sajaknya, ”Marsinah itu arloji sejati, / melingkar di pergelangan / tangan kita ini.” Atas cara itu Marsinah menciptakan sebuah oksimoron yang tidak kita sadari.

The poet Sapardi Djoko Damono is known and remembered (since 19 July 2020) as an observer of small events in daily life, but is able to give great meaning to his poems.

Halaman 1