Kompas.id

Dana Kemanusiaan Kompas

Memuat data...

Aceh sangat rawan dilanda oleh bencana hidrometereologi karena cuaca buruk dan kontur tanah di perbukitan labil. Daerah seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues sangat sering terjadi longsor.

Memuat data...

Setiap pribadi bisa berefleksi diri, terutama umat Islam pada Idul Fitri dan tidak hanya menyangkut toleransi kehidupan antarumat beragama, tetapi juga praktik hidup sebagai umat beriman di dalam masyarakat.

Memuat data...

Kerugian sementara akibat badai siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur sekitar Rp 3,4 triliun, sementara dana yang dihimpun dari donor selama masa tanggap darurat sudah mencapai Rp 6,3 miliar.

Memuat data...

Layanan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur sejak badai siklon tropis Seroja menimpa wilayah Nusa Tenggara Timur, 3-5 April 2021, sampai hari ini belum terpenuhi.

Memuat data...

Dalam sepekan terakhir, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas menyalurkan 1.400 paket bantuan kebutuhan pokok kepada warga yang sangat membutuhkan.

Memuat data...

Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas menyalurkan bantuan buku kepada SD Pangudi Luhur Servatius Gunung Brintik Semarang. SD Gunung Brintik merupakan salah satu sekolah yang mendidik banyak siswa dari keluarga marjinal.

Memuat data...

Pemerintah terus melakukan pemantauan penanggulangan bencana di Nusa Tenggara Timur, sekaligus untuk memperkuat koordinasi penanggulangan dampak bencana siklon Seroja.

Memuat data...

Pemerintah mulai melakukan peletakan batu pertama pembangunan 300 rumah bagi warga terdampak badai siklon tropis Seroja di Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Jumat (31/4/2021).

Memuat data...

Dana tunggu hunian permanen senilai Rp 7,4 miliar dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana segera disalurkan kepada para korban badai siklon tropis Seroja.

Memuat data...

Sudah hampir sebulan, ratusan nelayan di Kota Kupang dan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur tidak melaut pasca Badai Seroja, karena perahu dan bagan milik nelayan rata-rata rusak berat.