logo Kompas.id
PolitikPenguatan Ekonomi dan Deradikalisasi Jadi Fokus

Penguatan Ekonomi dan Deradikalisasi Jadi Fokus

JAKARTA KOMPAS &mdash Untuk memperkuat ekonomi rakyat yang menurun dan mencegah terjadinya radikalisme yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berencana menggelar Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU Munas dan Konferensi Besar NU y

· 3 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Untuk memperkuat ekonomi rakyat yang menurun dan mencegah terjadinya radikalisme yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul? Ulama berencana menggelar Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU. Munas dan Konferensi Besar NU yang bertemakan "Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Program Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi" ini dijadwalkan dilaksanakan pada 23-25 November di Islamic Centre, Lombok, Nusa Tenggara Barat.Saat memberi sambutan, dalam konperensi pers di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (22/9) malam, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan, tema tersebut diambil karena saat ini tren pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan penurunan. Sebaliknya, sikap radikalisme justru semakin tumbuh di Indonesia. Menurut Said, Munas dan Konferensi Besar NU yang akan memfokuskan pada upaya penguatan ekonomi dan deradikalisasi itu dinilai akan sangat bermanfaat untuk menyelesaikan sejumlah persoalan ekonomi dan mencegah terjadinya terorisme dan deradikalisasi di Tanah Air. "Pembahasan pada Munas dan Konferensi Besar NU nantinya menyoroti masalah tersebut dari aspek keagamaan yang bersifat aktual, tematik, dan perundang-undangan," kata Said. Contoh pembahasan keagamaan yang bersifat aktual, ujar Said, adalah investasi dana haji untuk pembangunan infrastruktur. Sementara pembahasan keagamaan yang bersifat tematik di antaranya menyoroti ujaran kebencian dalam dakwah. Adapun pembahasan keagamaan yang bersifat perundang-undangan di antaranya menyangkut Rancangan Undang-Undang (RUU) Berbangsa dan Bernegara, RUU Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dan RUU Terorisme. Lebih lanjut Said mengatakan, tema yang diambil dalam Munas dan Konferensi Besar NU saat ini relevan dengan kondisi bangsa dan masyarakat Indonesia. Pasalnya, Pancasila sebagai ideologi bangsa dinilai sudah tidak lagi menjadi kebanggaan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Persoalan lainnya adalah menurunnya tingkat perekonomian masyarakat dapat menyebabkan masyarakat mudah terpapar oleh virus radikal. Menopang KebangsaanRais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin yang juga hadir dalam acara konperensi pers tersebut menambahkan, NU harus menjadi organisasi keagamaan yang kuat dan bisa menopang kebangsaan di Tanah Air. "NU harus menyiapkan bekal untuk generasi selanjutnya karena NU mempunyai tugas dan tanggung jawab kebangsaan untuk mengawal negeri ini. Tugas tersebut mencakup tugas keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Ketiga tugas tersebut harus bersinergi dan tidak boleh terjadi benturan satu dengan lainnya," tutur Ma'ruf.Menurut rencana, Munas dan Konferensi Besar NU akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo. Hasil dari Munas dan Konferensi Besar NU itu diharapkan akan menjadi bagian dari langkah organisasi NU untuk terus mengonsolidasi diri. Selain itu, hasil Munas dan Konferensi Besar NU juga akan menjadi rekomendasi, yang selanjutnya akan disampaikan kepada masyarakat dan pemerintah untuk dapat ditindaklanjuti. Sejauh ini, Munas dan Konferensi Besar NU merupakan acara permusyawaratan di tingkat lingkungan NU yang terbesar kedua setelah Muktamar NU. Munas NU biasanya diselenggarakan minimal sekali dalam satu periode kepengurusan sesuai dengan perkembangan masalah keagamaan. Adapun Konferensi Besar NU diadakan satu kali di tengah periode kepengurusan PBNU. (DD15)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..