logo Kompas.id
Pendanaan dan Infrastruktur Diperlukan untuk Hidupkan Ekosistem Seni

Pendanaan dan Infrastruktur Diperlukan untuk Hidupkan Ekosistem Seni

Sejumlah kegiatan seni kembali menggeliat sejak dihantam pandemi Covid-19 sejak 2020. Untuk mendorong pulihnya ekosistem seni di 2022, dibutuhkan bantuan dana dan infrastruktur.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
· 1 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/Dokumentasi Agung Abi

Para seniman sedang berlatih untuk pertunjukan seni bertajuk "Taksu Ubud". Pertunjukan itu hasil kerja sama Titimangsa Foundation dengan Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pertunjukan ini disiarkan secara daring di di kanal Youtube Budaya Saya mulai Selasa (6/7/2021) hingga 12 Juli 2021. Pertunjukan yang diproduseri Happy Salma ini melibatkan sejumlah aktor dan seniman, seperti Reza Rahadian, Christine Hakim, Cok Sri, Agung Oka Dalem, dan lainnya.

JAKARTA, KOMPAS – Kendati kegiatan masyarakat sudah menggeliat kembali, dampak pandemi Covid-19 di bidang seni diperkirakan akan bertahan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Pendanaan dan ketersediaan infrastruktur dibutuhkan untuk menghidupkan seni di 2022.

Wakil Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Hikmat Darmawan mengatakan, dampak ekonomi akibat pandemi dapat berkepanjangan. Ini karena seniman dan pekerja seni kehilangan momen produksi hingga distribusi seni selama pandemi. Pelonggaran aktivitas masyarakat hingga hadirnya media digital untuk distribusi seni tidak serta-merta bisa menutup kerugian ekonomi para seniman.

Editor:
Aloysius Budi Kurniawan
Bagikan