logo Kompas.id
β€Ί
Utamaβ€ΊFIR dan Hidup Bertetangga Baik
Iklan

FIR dan Hidup Bertetangga Baik

Singapura memahami keinginan Indonesia untuk mengelola wilayah udaranya, di sisi lain Indonesia diminta memahami kebutuhan strategis Singapura.

Oleh
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/ie8WE7qenEuz8VorrmJoT6PExoc=/1024x643/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F09%2Ff2e03c3d-2c92-4f3e-adf6-e9086e0ab2c5_jpg.jpg
KOMPAS/ALIF ICHWAN

Maskapai penerbangan Batik Air dan Maskapai Garuda Indonesia siap lepas landas di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Rabu (25/9/2019. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang angkutan udara domestik pada Juni 2019 sebanyak 7,0 juta orang. Jumlah ini naik 33,55 persen dibandingkan bulan sebelumnya Mei 2019 yang tercatat hanya 5,3 juta orang.

Bertahun-tahun pemerhati dunia penerbangan Tanah Air mengamati penguasaan wilayah informasi penerbangan (FIR) di Kepulauan Riau oleh Singapura.

Penguasaan ini sesuatu yang ganjil dan juga mengganggu rasa kedaulatan. Dengan kondisi itu, setiap pergerakan pesawat di wilayah kedaulatan Indonesia harus mendapat izin dari otoritas penerbangan Singapura. Ini berlangsung sejak 1946, jauh sebelum Singapura lahir, dan Indonesia belum menjadi anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Saat itu, ICAO mewakilkan pengelolaan lalu lintas penerbangan kepada kolonialis Inggris di Singapura.

Editor:
Bagikan