logo Kompas.id
UtamaUE Belum Akui ISPO, Pengusaha ...

UE Belum Akui ISPO, Pengusaha Sawit Butuh Lobi Bilateral Pemerintah

Uni Eropa belum mengakui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Untuk itu, pelaku usaha dan industri di sektor kelapa sawit menantikan lobi bilateral pemerintah ke negara-negara anggota Uni Eropa.

Oleh
MARIA PASCHALIA JUDITH JUSTIARI
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/g36p14uOauxyv2avgAwUhzAjjMg=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F02%2F75893113_1550763168.jpg
KOMPAS/FABIO M LOPES COSTA

Sejumlah mesin pengolahan tandan buah segar dari kelapa sawit menjadi minyak kelapa sawit mentah (CPO) telah terpasang di Pabrik Tulip Mill di Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, Kamis (21/2/2019). Pabrik milik PT Tandan Sawita Papua dapat memproduksi 1.800 ton CPO selama 20 jam beroperasi.

JAKARTA, KOMPAS — Uni Eropa belum mengakui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO yang dapat menjadi salah satu bukti tata kelola kelapa sawit berkelanjutan bagi konsumen di tingkat internasional. Oleh sebab itu, pelaku usaha dan industri di sektor kelapa sawit menantikan lobi bilateral pemerintah ke negara-negara anggota Uni Eropa.

Climate Change and Environment Counsellor-Delegation of the European Union to Indonesia Michael Bucki mengatakan, agar ISPO mendapatkan pengakuan di Uni Eropa (UE), negara-negara anggota UE mesti mengajukannya ke Komisi UE. Sebab, UE belum mengakui sertifikasi yang berskema kebijakan pemerintah seperti ISPO.

Editor:
Hendriyo Widi
Bagikan