logo Kompas.id
β€Ί
Kajian Dataβ€ΊLebaran 2022 dan Momentum...
Iklan

Lebaran 2022 dan Momentum Pulihnya Pariwisata Indonesia

Masa liburan Idul Fitri 2022 menjadi daya dorong pulihnya pariwisata nasional. Meski demikian, masyarakat tetap harus menyadari bahwa pandemi Covid-19 masih belum usai.

Oleh
Agustina Purwanti
Β· 6 menit baca
Wisata Libur Lebaran - Pengunjung menikmati suasana senja di pelataran Candi Ijo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta (17/6/2018). Berbagai obyek wisata di DIY ramai dikunjungi pemudik yang memanfaatkan libur Lebaran mereka untuk sekalian berwisata.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Wisata Libur Lebaran - Pengunjung menikmati suasana senja di pelataran Candi Ijo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta (17/6/2018). Berbagai obyek wisata di DIY ramai dikunjungi pemudik yang memanfaatkan libur Lebaran mereka untuk sekalian berwisata.

Dunia pariwisata nasional berpeluang untuk kembali bangkit seiring momentum hari raya Idul Fitri 2022. Ratusan tempat wisata baru siap menyambut hadirnya jutaan pemudik yang hendak kembali ke kampung halaman.

Setelah lebih dari dua tahun melanda dunia, pandemi Covid-19 kian terkendali dan jumlah penularan virus menunjukkan tren menurun. Penurunan infeksi Covid-19 di Tanah Air terjadi di penghujung bulan Maret 2022. Sebelumnya, Indonesia sempat menghadapi puncak gelombang ketiga pandemi pada Februari 2022, seiring merebaknya virus varian Omicron.

Saat itu, kasus harian yang dilaporkan menembus angka lebih dari 60.000. Titik puncaknya terjadi pada 16 Februari 2022 dengan 64.718 kasus baru. Kasus penularan Covid-19 kemudian mulai melandai di bulan Maret. Memasuki bulan April 2022, kasus baru yang terkonfirmasi hanya berkisar 1.000 hingga 2.000 dalam sehari. Data terbaru, pada 13 April 2022 terdapat 1.551 penambahan kasus baru di Indonesia.

Pemerintah merespons perkembangan pandemi yang kian membaik itu dengan melonggarkan sejumlah aktivitas. Berdekatan dengan hari raya Ramadhan dan Idul Fitri 2022, pemerintah juga mengeluarkan izin mudik pada lebaran tahun ini. Masyarakat pun menyambut optimis kebijakan tersebut lantaran dua tahun sebelumnya kegiatan mudik dilarang akibat masih tingginya kasus Covid-19.

Hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara daring menunjukkan, hampir sepertiga responden menyatakan hendak melakukan perjalanan pada lebaran tahun ini. Dengan jumlah penduduk seluruh Indonesia sebanyak 270,2 juta jiwa, maka setidaknya ada 85,5 juta orang yang hendak bepergian.

Antrean penumpang kereta api jarak jauh untuk pemeriksaan tiket di peron Stasiun Pasar Senen, Jakarta (5/4/2022).
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Antrean penumpang kereta api jarak jauh untuk pemeriksaan tiket di peron Stasiun Pasar Senen, Jakarta (5/4/2022).

Tak hanya untuk keperluan mudik, survei yang dilakukan pada 22-31 Maret 2022 itu juga menemukan, lebih kurang lima juta di antara mereka akan bepergian untuk berlibur atau wisata. Hal tersebut membawa angin segar bagi dunia wisata Tanah Air. Pasalnya, selama pandemi Covid-19, pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak cukup dalam.

Sebagai gambaran, penyediaan akomodasi dan makan minum sebagai salah satu sektor penyokong pariwisata tumbuh minus 10,26 persen sepanjang tahun 2020. Hingga triwulan I 2021, kontraksi masih terjadi sebesar minus 7,27 persen.

Kontraksi tersebut tak lepas dari turunnya jumlah wisatawan di Indonesia. Kementerian Pariwisata mencatat, setidaknya terdapat 16,1 juta wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia sepanjang tahun 2019. Setelah pandemi melanda, jumlahnya merosot tajam menjadi empat juta orang pada tahun 2020, dan semakin berkurang menjadi 1,5 juta orang di tahun 2021.

Begitu pula dengan jumlah wisatawan nusantara. Tahun 2020, jumlahnya turun sebanyak 28,2 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Artinya, dengan antusiasme berwisata selama lebaran tersebut, dapat menjadi babak awal kembali pulihnya sektor wisata Tanah Air.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/IE115w-pqYr20LBwU4Q_ON_4DUY=/1024x896/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2020%2F05%2F20%2F20200520-ADI_Pemulihan-Wisata3-mumed_1589967597_png.png

Kebangkitan wisata

Merujuk pada Statistik Wisatawan Nusantara tahun 2020 yang disusun oleh BPS, rata-rata pengeluaran masyarakat untuk berlibur sebesar Rp 1,7 juta dalam sekali perjalanan. Dengan estimasi sekitar lima juta orang yang akan berlibur, maka setidaknya akan ada perputaran uang sebesar Rp 8,5 triliun bersamaan dengan momentum lebaran tahun ini.

Boleh jadi jumlah wisatawan akan lebih dari jumlah yang diprediksi. Pasalnya, sekitar 51 juta orang melakukan perjalanan untuk tujuan mudik. Bukan tidak mungkin mereka juga akan berwisata sembari mudik.

Nada optimis disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno yang memperkirakan akan ada lebih dari 48 juta orang pemudik mengunjungi tempat-tempat wisata selama Lebaran 2022. Semakin banyaknya pemudik yang juga berwisata membuat jumlah perputaran uang untuk kegiatan wisata pun akan jauh lebih besar.

Iklan

Berdasarkan hasil survei Kemenhub, Jawa menjadi wilayah yang akan diserbu oleh para pelaku perjalanan. Beranjak dari temuan survei ini, perputaran uang dalam kegiatan liburan diperkirakan juga lebih banyak terjadi di Pulau Jawa.

Baca juga: Separuh Lebih Pemudik Diprediksi Kunjungi Obyek Wisata

Obyek wisata Mata Air Cokro di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten dipadati pengunjung dalam liburan lebaran (12/9/2010). Pengunjung berasal dari eks Karesidenan Surakarta dan pemudik.
KOMPAS/SRI REJEKI

Obyek wisata Mata Air Cokro di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten dipadati pengunjung dalam liburan lebaran (12/9/2010). Pengunjung berasal dari eks Karesidenan Surakarta dan pemudik.

Jawa Tengah menjadi tujuan pelaku perjalanan terbanyak, yakni sekitar 23,5 juta orang atau 27,5 persen dari total pelaku perjalanan yang diprediksi oleh Kemenhub. Tak berbeda dengan kondisi nasional, pariwisata Jawa Tengah juga sempat tiarap diserang pandemi.

Jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, tahun 2020 berkurang lebih dari 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Akibatnya, sektor penyedia akomodasi dan makan minum turut terkontraksi sebesar minus 7,98 persen.

Berikutnya adalah Jawa Timur. Wilayah dengan beragam daya tarik wisata ini, baik alam maupun buatan, juga terdampak pandemi. Sektor penyokong pariwisata mengalami kontraksi hingga 8,85 persen sepanjang tahun 2020, dan berangsur membaik di tahun berikutnya. Kehadiran para pemudik yang juga akan berwisata, akan mampu mendorong pariwisata kembali menggeliat.

Jawa Barat (Non Bodebek) dan Jabodetabek menjadi daerah tujuan utama sebagian besar pemudik lainnya. Tak ketinggalan, DI Yogyakarta juga menjadi tujuan perjalanan 3,9 juta penduduk pada lebaran tahun ini. Daerah yang terkenal dengan keindahan alam dan budaya ini tentu akan menyambut baik para pelaku perjalanan yang hendak berwisata.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/iCTymqSCE56xZ0kUzmV2o0TPwTM=/1024x1492/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F04%2F12%2F67af5bfb-2d5d-4e14-8aa3-df5dd7b2c25b_png.png

Wisata baru

Tak hanya memberi harapan pada pelaku wisata yang sudah sejak lama ada, potensi naiknya jumlah wisatawan juga disambut meriah oleh para pelaku wisata baru. Pasalnya, meski pandemi melanda dan turut memorak-porandakan dunia wisata, tak menyurutkan para insan kreatif untuk menghadirkan wisata-wisata baru.

Di Jawa Tengah misalnya, jumlah daya tarik wisata di tengah pandemi tetap naik cukup signifikan. BPS Jateng mencatat, daya tarik wisata tahun 2019 baru sebanyak 917 lokasi. Namun, di tahun 2020, jumlahnya sudah mencapai 1.069 tempat wisata.

Penambahan jumlah tempat wisata itu pun tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota, seperti Kabupaten Banyumas, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Rembang, Kabupaten, Klaten, Kota Semarang, hingga Kabupaten Banjarnegara.

Begitu juga dengan Jawa Barat. Tahun 2021, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat mengidentifikasi setidaknya 50 tempat wisata baru. Lokasi yang ditawarkan berupa wisata alam. Hadirnya wisata baru yang disusul potensi tingginya jumlah pengunjung pada momen lebaran tahun ini memberi sinyal pemulihan sektor wisata Jabar. Pada kondisi normal, sektor pariwisata mampu menyumbang 16 persen dari total realisasi pendapatan asli daerah (PAD) Jabar.

Ribuan orang memadati Pantai Ancol, Jakarta, Sabtu (11/9). Hari kedua lebaran, tempat-tempat wisata dipenuhi pengunjung untuk menikmati liburan bersama keluarga. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS) 11-09-2010
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN (HAS)

Ribuan orang memadati Pantai Ancol, Jakarta, Sabtu (11/9). Hari kedua lebaran, tempat-tempat wisata dipenuhi pengunjung untuk menikmati liburan bersama keluarga. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS) 11-09-2010

Jawa Timur, sebagai salah satu tujuan pelaku perjalanan terbanyak pun tak ketinggalan. Pandemi juga tak membuat pelaku usaha wisata di Jatim patah arang. Sejumlah wisata baru dihadirkan dan siap menyambut para pengunjung saat situasi mulai membaik.

Salah satu wisata yang diperkuat oleh pemerintah Jawa Timur adalah desa wisata. Beberapa di antaranya adalah Desa Wisata Coban Goa Jalmo di Kabupaten Pasuruan, Desa Tamansari di Kabupaten Banyuwangi, hingga Desa Ranupani di Kabupaten Lumajang.

Tak hanya di Jawa Timur, menjamurnya desa wisata juga terjadi secara nasional. Menurut catatan Kementerian Pariwisata terdapat 1.831 desa wisata yang mendaftar sebagai peserta Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Namun, jumlah ini terus meningkat. Pada 10 April 2022 jumlahnya naik hampir dua kali lipat menjadi 3.516 desa wisata.

Jumlah yang kian bertambah itu menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak habis diterjang pandemi, tetapi justru memoles diri untuk menyambut pengunjung ketika situasi pulih kembali. Pulihnya pariwisata nasional mendapat momentum dengan hadirnya masa liburan Idul Fitri 2022. Libur Lebaran di tengah situasi pandemi yang kian terkendali menjadi harapan tumbuhnya kembali pariwisata nasional.

Meski demikian, pandemi Covid-19 masih belum usai. Karenanya, protokol kesehatan masih wajib diterapkan dengan pengawasan yang ketat. Apalagi, jumlah wisatawan dapat dipastikan membludak seiring perayaan hari raya Idul Fitri. Tentu tak diharapkan pemulihan yang telah dinanti-nanti justru menjadi bumerang yang dapat membuat dunia pariwisata kembali terkontraksi. (LITBANG KOMPAS)

Editor:
ANDREAS YOGA PRASETYO
Bagikan