logo Kompas.id
β€Ί
Kajian Dataβ€ΊMerancang Ulang Adaptasi dan...
Iklan

Merancang Ulang Adaptasi dan Mitigasi Krisis Iklim

Laju pemanasan Bumi yang kian cepat memerlukan rancangan ulang proses adaptasi dan mitigasi terencana. Ini harus dilakukan untuk menahan dampak yang lebih buruk.

Oleh
Yoesep budianto
Β· 6 menit baca
Aktivis meneriakkan seruan protes saat menghadiri gerakan "Aksi untuk Bumi" di depan Kongres Nasional di Brasilia, Brasil, Rabu (9/3/2022). Mereka mengingatkan bencana lingkungan yang baru-baru ini terjadi di Brasil, seperti tanah longsor di Negara Bagian Rio de Janeiro yang menewaskan lebih dari 200 orang serta banjir di Negara Bagian Bahia dan Minas Gerais merupakan dampak perubahan iklim yang serius.
AP PHOTO/ERALDO PERES

Aktivis meneriakkan seruan protes saat menghadiri gerakan "Aksi untuk Bumi" di depan Kongres Nasional di Brasilia, Brasil, Rabu (9/3/2022). Mereka mengingatkan bencana lingkungan yang baru-baru ini terjadi di Brasil, seperti tanah longsor di Negara Bagian Rio de Janeiro yang menewaskan lebih dari 200 orang serta banjir di Negara Bagian Bahia dan Minas Gerais merupakan dampak perubahan iklim yang serius.

Prediksi rata-rata suhu Bumi yang akan memanas melampaui batas 1,5 derajat celsius makin mendekati kenyataan. Akibatnya, sekitar 3,6 juta orang rentan terdampak krisis iklim. Adaptasi dan mitigasi terencana masih menjadi solusi menahan dampak yang lebih buruk.

Pengamatan terhadap suhu Bumi yang telah dilakukan sejak 1850 menunjukkan lonjakan besar kenaikan suhu global. Bahkan, peningkatan suhu tersebut diprediksi melewati ambang batas toleransi kehidupan di permukaan Bumi. Saat ini, tercatat suhu global bertambah 1,1 derajat celsius. Akibatnya, Bumi berubah menjadi tempat yang tak lagi sama dengan beberapa abad sebelumnya.

Banyak kejadian cuaca ekstrem di seluruh dunia yang terekam dalam satu dekade terakhir. Pada Juli 2021, gelombang panas mencapai 38 derajat celsius terjadi di Australia selama tujuh hari. Hujan intensitas tinggi turun di Kazakhstan saat musim dingin pada November 2021, kejadian serupa terjadi pada tahun 1915 (106 tahun yang lalu).

Sementara itu, Jerman mengalami gelombang beku terparah dalam 40 tahun terakhir. Gelombang beku terjadi selama 13 hari pada April 2021. Kejadian ekstrem lainnya adalah banjir besar yang mengakibatkan sedikitnya 1.500 rumah rusak terjadi di Nigeria pada Juli 2021. Filipina turut merasakan cuaca ekstrem dengan kejadian siklon tropis pada Oktober 2021 yang menyebabkan 13.000 rumah rusak.

Pemandangan Gletser San Rafael di wilayah Aysen, Chili selatan (13/2/2022). Mencairnya gletser adalah fenomena alam yang dipercepat oleh perubahan iklim secara signifikan,
AFP/PABLO COZZAGLIO

Pemandangan Gletser San Rafael di wilayah Aysen, Chili selatan (13/2/2022). Mencairnya gletser adalah fenomena alam yang dipercepat oleh perubahan iklim secara signifikan,

Indonesia turut mencatat anomali iklim pada 2021 yang ditandai munculnya siklon tropis Seroja dekat dengan daratan dan masuk area ekuator. Secara alami, siklon bergerak menjauhi wilayah ekuator karena faktor gaya coriolis Bumi yang akan membelokkan jalur angin secara global.

Badan Meteorologi Dunia meyakini bahwa kejadian cuaca ekstrem adalah hilir dari krisis iklim. Pengamatan data iklim yang dilakukan bahkan sebelum masa industrialisasi, tiga gas rumah kaca utama (karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida) meningkat terus. Hal serupa terjadi pada permukaan laut global yang bertambah 4,4 milimeter per tahun.

Wilayah es di Bumi turut menunjukkan perburukan situasi dengan catatan suhu melampaui 0 derajat celsius. Ini artinya terjadi proses pencairan es yang luar biasa. Tak hanya suhu menghangat, di Greenland bahkan tercatat terjadi tiga kali hujan dalam sembilan tahun terakhir. Padahal, sebelumnya hujan hanya terjadi satu kali selama abad ke-20.

Hujan tidak akan terjadi di wilayah iklim dingin yang kering karena dibutuhkan tingkat kelembaban tertentu untuk proses penguapan. Oleh karena itu, kejadian hujan menandakan bahwa wilayah tersebut menghangat dan menciptakan kelembaban dari proses penguapan air.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/ULSgVOMPis8AdogId6dQz-pBro4=/1024x3969/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F03%2F16%2Fe8559d86-2a33-463f-87b0-0aa74b4934dd_png.png

Malaadaptasi

Memburuknya kondisi Bumi karena krisis iklim telah konsisten disampaikan oleh para ahli melalui laporan-laporan penelitian dalam berbagai forum, seperti Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), The World Economic Forum (WEF), atau World Meteorological Organization (WMO). Paling baru, laporan tahun 2022 menuntut keseriusan pemimpin-pemimpin negara untuk menahan dampak krisis iklim melalui perbaikan radikal adaptasi dan mitigasi.

Gagasan adaptasi terhadap krisis iklim telah dirumuskan selama bertahun-tahun, bahkan praktiknya sudah dilakukan ribuan tahun kehidupan manusia di permukaan Bumi. Adaptasi mampu memperkuat tujuan akhir pembangunan berkelanjutan, termasuk alternatif untuk memikirkan kembali langkah-langkah penanganan krisis iklim.

Seiring perburukan kondisi Bumi, dibutuhkan lebih kuat adaptasi dari sebelumnya. Sayangnya, pergeseran paradigma adaptasi terjadi di sejumlah upaya pengendalian krisis iklim. Banyak upaya adaptasi yang membingungkan dan malah menjadi bumerang atau malaadaptasi.

Salah satu contohnya adalah pembangunan tembok/tanggul di pantai (seawall). Tanggul laut merupakan corak pertahanan pesisir yang dibangun untuk melindungi daerah konservasi dan tempat tinggal manusia dengan menahan pasang surut gelombang laut.

Iklan

Pada umumnya seawall dibuat dari konstruksi padat seperti beton sehingga memiliki kemampuan memantulkan kembali gelombang laut. Strukturnya yang bersifat statis dan kokoh membuat seawall dapat menghambat pertukaran sedimen antara darat dan laut. Karena itu, pembangunan tanggul laut ini harus melalui perencanaan mendalam dengan mempertimbangkan penghitungan dampak lingkungan dan pergerakan sedimen.

Foto udara tanggul laut di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, 27 Juli 2021). Keberadaan tanggul dianggap penting untuk mengantisipasi laju penurunan muka tanah pesisir utara dan penahan banjir rob.
KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS)

Foto udara tanggul laut di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, 27 Juli 2021). Keberadaan tanggul dianggap penting untuk mengantisipasi laju penurunan muka tanah pesisir utara dan penahan banjir rob.

Idealnya, pembangunan seawall harus melihat aspek iklim, posisi pantai, tinggi gelombang, dan bentuk lahan yang akan dibangun. Tanpa pemahaman terhadap fungsi dan dampak yang ditimbulkan, pembangunan seawall bisa bertentangan dengan sifat pantai yang malah berpotensi menimbulkan kerugian dalam jangka panjang.

Bangunan tanggul laut tersebut juga dapat menggeser paradigma kerentanan yang menempatkan masyarakat pesisir menjadi korban pertama saat terjadi kegagalan infrastruktur. Bangunan seawall juga mengubah tatanan bentang alam dan berimbas pada sumber pendapatan serta pangan warga.

Tak hanya adaptasi, proses-proses mitigasi yang dibangun selama ini dinilai kurang signifikan. Sebagai contoh, WMO mencatat, meskipun terjadi penurunan 5,6 persen buangan karbon dari bahan bakar fosil tahun 2020, masih jauh lebih tinggi daripada rata-rata selama satu dekade terakhir. Tak hanya itu, perlu diingat bahwa penurunan tersebut bersifat terpaksa karena pandemi Covid-19.

Jurnal Maladaptation: When Adaptation to Climate Change Goes Very Wrong dan Adaptation and Carbon Removal (2020) mencatat bahwa praktik-praktik malaadaptasi memunculkan bias besar dalam sektor infrastruktur, kebijakan, serta pola hidup masyarakat. Hal tersebut karena muncul hasil yang tidak diharapkan dari strategi yang awalnya dilakukan dengan niat baik.

Oleh karena itu, memandang upaya penanganan krisis iklim harus selalu dilihat bahwa satu upaya transformasi yang ideal menuju ketahanan iklim bisa saja memiliki kerentanan tinggi di sisi lainnya. Artinya, seluruh upaya adaptasi dan mitigasi harus membedah detail titik-titik kerentanan dari tawaran program yang disusun.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/qiMzTvu4nMvobrpSqbkmZU_UBRM=/1024x1322/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F02%2F23%2F959f5345-6971-4154-b417-c1568ce8ac09_jpg.jpg

Peringatan berulang

Urgensi pembenahan adaptasi dan mitigasi krisis iklim memang menjadi solusi yang tidak bisa dinegosiasikan lagi. Laporan terbaru Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2022 menunjukkan makin nyatanya dampak krisis iklim terhadap ekosistem dan kehidupan manusia. Apabila dilihat secara mendalam, isi laporan tersebut tidaklah jauh berbeda dengan laporan tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan, temuan para ahli yang konsisten tercatat di dalam laporan selama beberapa tahun terakhir menggambarkan sebuah kepastian bahwa kondisi Bumi sedang menuju perburukan. Hampir seluruh sistem kehidupan manusia terdampak, mulai dari pangan, kesehatan, kebutuhan air, hingga keamanan nasional sebuah negara.

Saat mencapai 1,5 derajat celsius, perubahan besar akan terjadi di berbagai belahan Bumi. Dampak perubahan iklim terhadap degradasi ekologi bersifat sangat besar sehingga berimbas pada sistem kehidupan manusia, seperti ketersediaan air dan produksi pangan, kesejahteraan dan kesehatan, serta keberlanjutan area tempat tinggal dan infrastruktur.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengajak semua negara untuk bekerja sama serta mencari solusi dalam mengatasi masalah air serta perubahan iklim. Hal ini disampaikan dalam pembukaan The 2nd Asia Water Week, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Senin (14/3/2022).
Kompas/Nina Susilo

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengajak semua negara untuk bekerja sama serta mencari solusi dalam mengatasi masalah air serta perubahan iklim. Hal ini disampaikan dalam pembukaan The 2nd Asia Water Week, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Senin (14/3/2022).

Pada akhirnya, hilir dari krisis iklim adalah migrasi terpaksa dan wabah penyakit yang muncul melalui siklus beberapa dekade. Kekhawatiran terhadap krisis iklim memang yang paling dirasakan secara global, baru persoalan konflik sosial, krisis kemanusiaan, penyakit menular, dan konfrontasi kekuatan militer di sejumlah wilayah.

Laporan terbaru The Global Risk 2022 masih konsisten menunjukkan bahwa isu lingkungan adalah ancaman terbesar umat manusia saat ini hingga satu dekade ke depan. Urutan pertama yang dinilai paling mengancam adalah kegagalan penanganan krisis iklim, diikuti cuaca ekstrem dan kehilangan kekayaan biodiversitas.

Baca juga: Kepedulian dan Donasi Kita Menjaga Kelestarian Bumi

Signifikansi dampak krisis iklim telah dirasakan, mulai dari level individu, komunitas, hingga negara. Tidak ada jalan alternatif lainnya selain menahan kerusakan karena krisis iklim melalui adaptasi dan mitigasi yang konsisten dilakukan hingga kondisi membaik.

Laju pemanasan Bumi yang kian cepat memerlukan rancangan ulang proses adaptasi dan mitigasi terencana untuk menahan dampak yang lebih buruk. Inilah saat-saat pertaruhan terbesar manusia untuk menjaga Bumi. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga: Perubahan Iklim Memperparah Kejadian Bencana dan Wabah

Editor:
MATHIAS TOTO SURYANINGTYAS
Bagikan