logo Kompas.id
SosokSugianto Bangun Rumah PKL...

Sugianto Bangun Rumah PKL sebagai Penjaga Generasi

Banyak pengalaman dan punya keterampilan, Sugianto ingin membangun generasi muda berketerampilan dan berintegritas. Dia lalu mendirikan Tempat PKL Medan yang juga dia jadikan sarana berterima kasih kepada negara.

Oleh
MOHAMMAD HILMI FAIQ
· 5 menit baca
Sugianto
KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ

Sugianto

Sugianto merasa sudah terlalu banyak nikmat hidup yang dia rasakan. Sekarang waktunya berbagi, membantu para pelajar yang kesulitan mendapatkan bimbingan dan bekal keterampilan. Lewat Pusat PKL Siswa SMK/Mahasiswa dan Sekolah Wirausaha Tempatpklmedan.com

Siang itu, Selasa (12/4/2022), belasan siswa SMK memelototi laptop. Ada yang mengedit video, ada pula yang sedang membuat laporan dan mengecek Google untuk melihat tingkat view postingan tertentu. Sugianto selalu pengajar mereka, memperhatikan dan sekali-kali memberi arahan. Itu potongan suasana praktik kerja lapangan (PKL) di tempat Pusat PKL Siswa/Mahasiswa di Kompleks Puri Zahara, Kelurahan Medan Selayang, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan. Sejauh ini sudah 58 siswa dan mahasiswa yang lulus dari PKL tersebut.

Mereka datang dari berbagai kota mulai dari Medan, Kutalaimbaru (Deli Serdang, sampai Subulussalam (Aceh). Siang itu, Arofatul Ilma, sisma SMK Kutalimbaru, tengah membuat laporan PKL. Dia dan dua rekannya rela naik sepeda motor dengan jarak tempuh 1,5 jam dari rumahnya ke tempat PKL ini karena kualitasnya bagus.

Selain untuk pelajar, tempat PKL yang punya situs Tempatpklmedan.com ini juga mengajarkan berwirausaha untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sejauh ini sudah berjalan lima belas angkatan atau 150 pelaku UMKM. Para pelaku UMKM ini akhirnya menjadi mitra Sugianto dalam mengembangkan keterampilan para siswa dan mahasiswa. Dalam program outing class, dia perlu membawa siswa ataupun mahasiswa melihat dan bahkan terlibat langsung dalam proses usaha. Mereka ini dia bawa ke pelaku-pelaku UMKM yang pernah dia bina itu untuk dilatih.

Para peserta didiknya juga dia libatkan ke dalam proyek-proyek UMKM tersebut dan uangnya dia bagi sebagai bentuk apresiasi sekaligus menunjukkan bahwa tidak mudah sekaligus tidak sulit mencari uang. Dia mencontohkan, biasanya ada UMKM yang perlu dibantu optimasi promo produknya di media sosial atau internet. Sugianto lalu memberi arahan tentang apa saja yang perlu dilakukan. Lalu para siswa itu ada yang bantu memotret, mendesain, hingga membuat kata kunci tertentu agar mudah dicari dalam search engine optimization (SEO). ”Masuk anggaran itu, kami subsidi untuk adik-adik. Satu bulan bisa dapat satu juta, saya bagi tergantung berapa orang yang ikut. Jadi, mereka yang PKL di sini saya bimbing dapat skill dan mengaplikasikannya,” kata Sugianto.

Membangun karakter

Di tempat PKL ini, Sugianto tidak hanya membekali anak didiknya dengan kemampuan kognitif dan keterampilan. Dia juga membangun karakter agar mereka mempunyai bekal yang lebih dalam menghadapi kehidupan yang keras di luar sana. Karakter utama yang dia tanamkan adalah disiplin dengan cara meminta semua siswa untuk shalat Duha dan membaca Al Quran sebelum memulai belajar. Dari sini dia jadi tahu siapa saja yang selama ini yang disiplin belajar agama dan siswa mana yang jarang. Bahkan, akhirnya ketahuan banyak juga yang tidak bisa membaca Al Quran. Sugianto lalu mendatangkan guru mengaji, ustaz Fauzi, yang juga pelaku UMKM. Oleh karena pernah belajar berwirausaha di tempat Sugianto, ustaz Fauzi dengan sukarela bersedia mengajar mengaji.

Sugianto juga ingin anak didiknya mempunyai imbas baik terhadap lingkungan. Sebulan sekali, dia mengerahkan anak didiknya untuk mengangkut sampah di lingkungan perumahan, termasuk di selokan. Sugianto secara pribadi menyumbang dana tambahan untuk lima petugas satpam perumahan. Itu praktis membalik kesan warga sekitar yang sebelumnya sempat memprotes kegiatan di tempat PKL itu karena dinilai mengganggu ketenteraman.

Bagi peserta PKL dari luar kota, dia wajibkan untuk tinggal di asrama. Sugianto menyewa dua rumah di dalam kompleks tersebut untuk siswa putri dan putra. Mereka tinggal terpisah. Setiap peserta diwajibkan langganan katering yang dikelola warga. Jajan juga harus beli di warung milik warga. Sugianto ingin mereka membawa dampak baik secara optimal bagi warga. Hanya pada akhir pekan anak-anak itu dia izinkan keluar kompleks. Dengan demikian, Sugianto lebih mudah mengontrolnya.

Murni sosial

Sugianto, yang lulusan pascasarjana Teknik Informatika Universitas Sumatera Utara ini, pernah menjadi dosen Universitas Harapan dan sekarang dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma, Medan. Sebagai akademisi, dia tergerak untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi anak muda. Melongok pengalamannya yang juga pernah menjadi trainer di Google dan melatih di banyak tempat, dia ingin berbuat lebih banyak, terutama untuk siswa yang kesulitan mendapat pendampingan yang memadai. Selama ini dia mengamati anak-anak latihan di tempat PKL hanya diminta bantu fotokopi berkas atau membungkus makanan.

Sugianto
KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ

Sugianto

Pada saat yang sama, Sugianto tergerak untuk berterima kasih kepada negara. Sebab, istrinya, dr Pebri Warita Pulungan, SpOG, lulus kuliah dokter spesialis lewat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dia perkirakan sampai ratusan juta. Istrinya kini bisa bekerja dengan penghasilan yang lebih dari cukup. Uang beasiswa itu uang negara, uang rakyat. Sugianto berkewajiban mengembalikannya kepada rakyat. ”Saya ingin bermanfaat bagi banyak orang. Urip kudu urup,” kata Sugianto mengenang nasihat mendiang ibunya.

Oleh karena itu, tempat PKL yang dia kelola sama sekali tidak berorientasi mengambil keuntungan finansial. Jika pun ada hasil, dia kembalikan untuk pengembangan program atau dibagi dengan anak didik yang terlibat. Biaya operasional yang habis antara Rp 6 juta sampai Rp 7 juta per bulan dia tutupi dari sebagian gajinya sebagai dosen dan subsidi dari gaji istrinya sebagai dokter.

Pada masa awal menjelang jadi mahasiswa, Sugianto pernah kerja menjaga warnet, lalu belajar coding, dan akhirnya menjadi programmer. Kini dia menjadi Instruktur Program Digital Entrepreneurship Academy (DEA) di bawah kementerian Komunikasi dan Informatika. Dia ingin menyebarkan ilmu, pengetahuan, dan pengalamannya kepada sebanyak mungkin orang. Nama situs Tempatpklmedan.com itu adalah salah satu karya genial dia. Alasannya, saat orang mencari tempat PKL, mereka tidak akan menulis nama tempatnya di mesin mencari, tetapi cenderung menulis langsung ”tempat PKL Medan”. Jadi, Tempatpklmedan.com akan selalu berada di urutan atas hasil pencarian. Ini salah satu ilmu yang dia bagikan kepada anak didiknya secara gratis.

Sugianto

Lahir : 12 Mei 1982

Pendidikan:

- S-1 Teknik Telekomunikasi Sekolah Tinggi Teknik Harapan Medan (kini Universitas Harapan Medan) (2008)

- S-2 Teknik Informatika, Universitas Sumatera Utara (2014)

Istri: dr Pebri Warita Pulungan, SpOG

Anak:

- Nayyira Nadhirrizky Gianra

- Emir Yusuf Alzahrawi Gianra

Buku:

- Teaching From Home: dari Belajar Merdeka menuju Merdeka Belajar (2020).

- Smart Entrepreneurship: Peluang Bisnis Kreatif dan Inovatif di Era Digital (2020).

- Keamanan Data dan Sistem Informasi (2020).

Editor:
MARIA SUSY BERINDRA
Bagikan