logo Kompas.id
β€Ί
Sastraβ€ΊLelaki Harum Lahang
Iklan

Lelaki Harum Lahang

Ia begitu riang di beranda rumahnya, menandakan telah lama mengenal harum itu, serasa tengah ditemuinya seorang nenek sakti yang hanya memberikan harum itu kepadanya pada malam sepi yang sangat rahasia.

Oleh
A. Warits Rovi
Β· 1 menit baca
.
DIDIE SW

.

Ia menghidu sebentuk harum yang khas dan melekat kuat dalam ingatannya. Sekali lagi ia menghidu harum itu sambil memejam mata. Bibirnya merekahkan senyum serupa lengkung bulan terbalik di langit magrib. Ia begitu riang di beranda rumahnya, menandakan telah lama mengenal harum itu, serasa tengah ditemuinya seorang nenek sakti yang hanya memberikan harum itu kepadanya pada malam sepi yang sangat rahasia. Harum yang menyimpan kehidupan dan nyanyian panjang seorang suluk ketika semua yakin kedamaian lebih berpihak pada kesenyapan tanah kampung.

Ia masih terpejam menghirup dalam-dalam semerbak harum yang ditebar angin pagi seraya bersandar di kursi bambu. Dalam pejam, ia lihat gelantungan julur mayang pada ketiak daun siwalan yang berlenggok diterpa angin, kian waktu menebar bunga-bunga kecil kuning ke latar tanah, ia lihat seorang lelaki tersenyum kepadanya sebelum kakinya memanjat pohon siwalan melewati takik yang mengkilat, gesek salampar ritmis berkawin angin. Segala bunyi menyatu membentuk irama kampung yang damai. Berpaut dalam tembang panjang. Tapi kemudian ia tersentak dan tersedak setelah ia membuka mata dan sadar bahwa dirinya hanya duduk di beranda.

Editor:
MARIA SUSY BERINDRA
Bagikan