logo Kompas.id
β€Ί
Risetβ€ΊMatinya Filosofi Permainan di ...
Iklan

Matinya Filosofi Permainan di Piala Dunia

Percuma bermain indah nan filosofis bila tidak ada satu pun piala mampu dijangkau di akhir musim, begitulah dogma industri sepak bola modern.

Oleh
Yohanes Mega Hendarto
Β· 1 menit baca
Pemain Spanyol, Sergio Busquets, terjatuh setelah diganjal pemain Jepang, Hidemasa Morita, dalam pertandingan di fase Grup E di Stadion Khalifa, Qatar, Jumat (2/12/2022) dini hari WIB. Jepang mengalahkan Spanyol 2-1. Jepang dan Spanyol lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2022.
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Pemain Spanyol, Sergio Busquets, terjatuh setelah diganjal pemain Jepang, Hidemasa Morita, dalam pertandingan di fase Grup E di Stadion Khalifa, Qatar, Jumat (2/12/2022) dini hari WIB. Jepang mengalahkan Spanyol 2-1. Jepang dan Spanyol lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2022.

Apakah penting bagi kesebelasan memiliki suatu filosofi permainan? Antara ya dan tidak. Ya, jika kesebelasan tersebut ingin terus dikenang dengan idealisme dan karakteristiknya. Tidak, jika membawa pulang tiga poin menjadi sebuah tuntutan dalam kompetisi.

Bagi penggemar bola kawakan, istilah-istilah filosofi permainan untuk sejumlah tim unggulan sudah tidak asing lagi. Brasil piawai memainkan joga bonito, Inggris berlari cepat dengan model kick and rush, Belanda bermain rapat ala total football, Jerman perlahan memanas layaknya der panzer, Italia setia bertahan dengan catenaccio, dan Spanyol memainkan orkestra tiki taka.

Editor:
BUDIAWAN SIDIK ARIFIANTO
Bagikan