logo Kompas.id
›
Riset›Covid-19 Menjinak, Apresiasi...

Covid-19 Menjinak, Apresiasi Meningkat

Ada berbagai bukti yang menguatkan pengendalian Covid-19 sukses berlangsung. Apresiasi publik terhadap kinerja pemerintah turut meningkat.

Oleh
Reza Felix Citra
· 5 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/tsVxK7u-49i8swMbQaY-rCra_mM=/1024x848/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F01%2FWhatsApp-Image-2021-01-13-at-12.09.41-PM_1610529536.jpeg
BPMI SEKRETARIAT PRESIDEN

Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang mendapatkan vaksinasi Covid-19 di Indonesia (13/1/2021). Ini sekaligus menandai program vaksinasi untuk 181,5 juta warga Indonesia dalam upaya pengendalian wabah Covid-19.

Tahun 2021 menjadi momen paling meletihkan bagi bangsa ini dalam bertarung mengendalikan badai Covid-19. Setelah sempat terseok di pertengahan tahun, beruntung jika pada paruh akhir tahun ini, Covid-19 menjinak. Apresiasi publik terhadap kinerja pemerintah dalam pengendalian Covid-19 pun meningkat.

Ada berbagai bukti yang menguatkan pengendalian Covid-19 sukses berlangsung. Sejak pertengahan Oktober 2021, misalnya, penambahan kasus positif Covid di Indonesia berada di level terendah. Kasus harian, hanya kurang dari  1.000 kasus. Dapat dikatakan, kondisi saat ini kurang lebih sama dengan periode awal tatkala virus ini masuk ke Indonesia, di bulan  April – Mei 2020.

Hasil yang sama juga diperlihatkan dari Indeks Pengendalian Covid-19 (IPC-19) Kompas. Angka indeks terus memperlihatkan peningkatan dan terjadi di setiap gugus pulau di negeri ini.  Apabila sebelumnya, rentang selisih angka indeks berkisar pada 17 poin, kini semakin menyempit.  Pada minggu pertama di bulan Desember menjadi 4 poin saja, yang sekaligus mengindikasikan  penanganan pandemi antar gugus pulau sudah semakin merata.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/RhblfkzNhnHHS7TSVDBUslj_b0I=/1024x1228/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211213-ARJ-indeks-1-mumed_1639406599.png

Perbaikan kondisi sejatinya terjadi pada setiap aspek pengendalian Covid-19. Baik dari sisi Manajemen Infeksi maupun Manajemen Pengobatan bergerak positif, yang sekaligus menunjukkan capaian perbaikan.

Akan tetapi, jika ditelusuri lebih jauh, gerak positif setiap aspek bervariasi. Pada sisi Manajemen Infeksi, misalnya, sejak dua bulan terakhir cenderung stagnan. Jika dielaborasi, dari ketiga indikator yang membentuk manajemen infeksi, yaitu: Rata-rata kasus positif harian terhadap kasus harian tertinggi, Positivity Rate, dan Persentase vaksin 2 dosis terhadap populasi tiap provinsi, peningkatan vaksinasi menjadi penghambat.

Fakta menunjukkan, kurun waktu dua bulan terakhir peningkatan jumlah penduduk yang divaksin bergerak sangat lambat. Sampai tanggal 27 November 2021, capaian vaksinasi Covid-19 di Indonesia baru sekitar 138,1 juta orang yang sudah menerima suntikan dosis pertama (66,3 persen dari target) dan 93,7 juta orang yang sudah menerima dua dosis suntikan vaksin Covid-19 (45 persen dari target). Capaian ini masih jauh di bawah target untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity) yaitu 208 juta orang (70 persen dari total penduduk).

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/51Re53z5DN9DA9SIyEhoPt-6uM8=/1024x928/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211213-ARJ-indeks-2-mumed_1639406597.png

Hasil yang berbeda terlihat pada pergerakan skor aspek Manajemen Pengobatan. Sekalipun terjadi peningkatan, namun arah pergerakan tampak lebih bergelombang yang sekaligus menandakan jika manajemen pengobatan di tiap wilayah masih belum stabil.

Adanya variasi menandakan kesiapan tiap daerah berbeda-beda  yang tergantung pada keberhasilan pada setiap indikator Manajemen Pengobatan. Dalam Manajemen Pengobatan, terdapat tiga indikator yaitu persentase pasien sembuh terhadap total kasus, rata-rata kematian terhadap jumlah kasus tertinggi, dan rata-rata Bed Occupation Rate (BOR) di tiap daerah.

Sekalipun pada awalnya berfluktuasi, namun belakangan ini disparitas antar wilayah dalam Manajemen Pengobatan semakin berkurang. Saat ini, perbedaan skor manajemen pengobatan antar gugus pulau mengecil.

Hanya saja, capaian perbaikan bukan  berarti semua daerah sudah dapat menangani pengobatan pasien dengan sama baik. Penambahan kasus yang rendah menjadi faktor yang paling dominan dalam menggambarkan situasi yang terjadi belakangan ini.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/fZ_jATFpomjQZvqAOHb85N9vlHM=/1024x966/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211213-ARJ-indeks-3-mumed_1639406595.png

Kepuasan meningkat

Sejalan dengan terjadinya perbaikan kondisi, ekspresi kepuasan masyarakat pun terhadap kinerja pemerintah belakangan ini meningkat. Survei terakhir, misalnya, menunjukkan sebanyak 60,2 persen responden puas terhadap upaya pemerintah dalam mengendalikan situasi.

Jika dicermati, sepanjang masa pandemi, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah bergerak fluktuatif. Ada kalanya, tingkat kepuasan mencapai titik yang rendah. Sebaliknya, seperti yang belakangan terjadi, kepuasan menjadi dominan.  Fluktuasi semacam ini tampaknya tergantung pada kebijakan pemerintah yang sedang diterapkan dan pengaruhnya terhadap masyarakat pada setiap periode waktu survei.

Sebagai contoh, tatkala terjadi lonjakan jumlah kasus pada pertengahan tahun ini dan pemerintah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, maka tingkat kepuasan masyarakat berada di level yang rendah. Sebaliknya, ketika keadaan berangsur-angsur membaik dan pemerintah menerapkan pelonggaran kegiatan, maka tingkat kepuasan masyarakat meningkat ke titik tertinggi selama pandemi ini.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/5JzEt4lj4-ht8xyEUnZE_Fg2QjQ=/1024x817/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211213-ARJ-indeks-4-mumed_1639406591.png

Pada sisi lain, apresiasi yang dinyatakan kali ini diikuti pula oleh semakin tingginya tingkat keyakinan mereka terhadap kemampuan pemerintah dalam mengatasi pandemi. Masyarakat tampak optimis bahwa pemerintah mampu mengatasi pandemi.

Namun , seperti juga tingkat kepuasan, tingkat keyakinan masyarakat juga bergerak naik-turun tergantung seberapa tinggi kepuasan yang dialami masyarakat. Jika dilakukan analisa korelasi antara keduanya, maka akan diperoleh tingkat korelasi positif yang cukup tinggi. Dalam hal ini, ketika kepuasan masyarakat menurun, maka tingkat keyakinan juga akan turun, begitu juga sebaliknya.

Tingkat keyakinan masyarakat yang selalu optimis ini merupakan modal positif dalam menghadapi pandemi. Setidaknya, masyarakat yang yakin akan lebih mendukung kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Ditambah lagi tingkat kepuasan yang juga makin meningkat, maka Indonesia akan lebih siap dalam menghadapi tantangan tahun 2022 mendatang.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/LfQo00NVYnWVfzYOvV0u90RVVvg=/1024x957/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211213-ARJ-indeks-5-mumed_1639406593.png

Terlebih, dalam menghadapi kemungkinan ancaman kehadiran varian baru Omicron dari Covid-19 ini. Sebagaimana dinyatakan Organisasi kesehatan dunia (WHO),  Omicron sebagai varian virus Covid-19 perlu diwaspadai, lantaran beberapa bukti menunjukkan bahwa varian ini memiliki peningkatan risiko infeksi ulang yang lebih cepat dibandingkan varian Covid-19 yang ada saat ini.

Pemerintah sendiri segera bertindak cepat dengan menutup pintu masuk bagi Warga Negara Asing (WNA) yang memiliki riwayat perjalanan dalam 14 hari terakhir dari 11 negara di mana varian Omicron ini sudah ditemukan. Ke-11 negara tersebut adalah Afrika Selatan, Botswana, Lesotho, Eswatini, Mozambique, Malawi, Zambia, Zimbabwe, Angola, Namibia, dan Hong Kong.

Berbagai upaya pencegahan yang dilakukan sangat beralasan. Bagaimanapun,  pancaragam problema pandemi yang dihadapi sepanjang tahun ini sudah sedemikian rupa menguras segenap energi bangsa. Itulah mengapa, di penghujung tahun 2021 ini, di saat kondisi menjadi semakin terkendali, jangan pernah sedikit pun lengah. Pertarungan belum usai. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga: Di Balik Angka Indeks Pengendalian Covid-19

Editor:
Toto Suryaningtyas
Bagikan