logo Kompas.id
RisetEkspresi Cinta dan Kehidupan...
Iklan

Ekspresi Cinta dan Kehidupan Orang Dayak Iban

Suku dayak Iban tinggal di rumah yang panjangnya hampir ratusan meter bersama dengan puluhan keluarga. Meskipun begitu, kisah hidup mereka menawarkan nilai-nilai kehidupan yang tidak pernah ditemukan di kota-kota besar.

Oleh
Martinus Danang Pratama Wicaksana
· 7 menit baca

JudulDi Rumah Panjang : Pergulatan Hidup dan Cinta Orang Dayak Iban
PenulisMulyawan Karim
PenerbitPenerbit Buku Kompas
Tahun terbit2021
Jumlah halamanxxiv + 280 halaman
ISBN978-623-346-216-7

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/iHSh4ZDhe844vA4KsIP1YKiS4us=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2FP_20211028_092535_SRES_1635433385.jpg
Kompas

Halaman muka buku berjudul \'Di Rumah Panjang\'

Pulau Kalimantan dahulu digambarkan sebagai wilayah dengan kelembapan hutan tropis dengan aneka fauna dan pohon-pohon yang lebat. Di dalam hutan tersebut tinggal suku Dayak Iban yang suka memberontak dan haus darah, pemburu orang-orang asing. Inilah gambaran populer dari narasi kolonial lewat novel The Castaways: a Story of Adventure in the Wilds of Borneo (1870) karangan Mayne Reid.

Namun, ternyata novel tersebut hanyalah sebuah cerita fiksi semata tanpa adanya riset panjang tentang masyarakat setempat. Sekitar abad ke-19 banyak peneliti antropologi dari Eropa yang datang ke Kalimantan untuk mengadakan penelitian. Mereka ikut tinggal bersama dengan masyakarat yang diteliti sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang orang-orang Dayak Iban. Para peneliti tersebut antara lain Victor King, Anton Willem Nieuwenhuis, H Hallier, G.A.F. Mollengraff, dan lain sebagainya.

Satu abad kemudian, penelitian mereka memotivasi orang-orang Indonesia untuk melakukan penelitian yang sama. Pada  1994, Kompas bahkan mengadakan Ekspedisi Kapuas-Mahakam untuk melihat kebudayaan masyarakat Dayak setempat. Ekspedisi ini melibatkan 20 peserta inti di mana salah satunya adalah Mulyawan Karim, penulis dari buku Di Rumah Panjang: Pergulatan Hidup dan Cinta Orang Dayak Iban (PBK, 2021).

Pada saat ekspedisi Mulyawan Karim yang mewawancarai sejumlah orang Iban tidak hanya disiapkan untuk tulisan yang akan dimuat di Kompas. Namun, ia juga menyiapkan untuk dimuat sebagai buku yang menceritakan kisah hidup orang-orang Iban selama penulis tinggal bersama mereka. Tetapi, riset yang telah ia lakukan sejak tahun 1994 tersebut baru benar-benar terbit menjadi buku setelah 30 tahun lamanya.

Dayak Iban

Suku Dayak Iban adalah satu dari sekian banyak sub suku Dayak yang tinggal di Pulau Kalimantan. Mereka tinggal dalam kelompok-kelompok berdasarkan su sukunya di suatu wilayah yang mereka kuasai. Dayak Iban sendiri banyak ditemui di Kalimantan Barat, Kabupaten Kapuas Hulu dan Sintang. Namun, ada juga orang Iban yang tinggal di wilayah Sarawak, Malaysia karena kedua tempat tersebut memang berdekatan.

Banyak peneliti mengatakan bahwa untuk melakukan riset tentang suku Dayak kita tidak bisa memisahkannya berdasarkan negara di Kalimantan yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Kita harus melihat suku bangsa Dayak dalam satu kesatuan Pulau Kalimantan.

Orang Iban sendiri sebenarnya berasal dari wilayah yang kini menjadi Provinsi Kalimantan Barat, namun kemudian mereka bermigrasi hingga ke wilayah Sarawak sekarang. Tetapi ada juga yang kembali dari Sarawak ke Kalimantan Barat menghindari kejaran dari pemerintah kolonial Inggris.

Kini orang Iban di Kalimantan Barat jumlahnya tidak terlalu besar dibandingkan orang Iban yang tinggal di Sarawak. Pada sensus 2010 populasi orang Iban di Sarawak berjumlah 8.585.242 jiwa. Sedangkan di Kalimantan Barat pada tahun 2017 jumlahnya hanya 19.978 jiwa.

Namun sebenarnya ada kemungkinan terdapat orang-orang Iban yang tinggal menyebar selain di Kapuas Hulu dan Sintang, meskipun jumlahnya tidak signifikan. Sehingga, orang Iban menjadi terhitung sebagai minoritas karena hidup bersama suku-suku lainnya yang populasinya lebih besar.

Rumah Panjang

Orang Iban biasa hidup dalam kelompok-kelompok yang masing-masing keluarga tinggal di sebuah rumah besar yang disebut rumah panjang atau rumah panjai. Disebut rumah panjang karena memang bentuknya yang memanjang hingga 100 meter bahkan lebih tergantung ketersediaan tanahnya. Rumah panjang dibangun secara tradisional dengan konsep rumah panggung dan memanfaatkan bahan-bahan dari alam sekitar.

Rumah panjang biasanya ditinggali oleh beberapa keluarga-keluarga besar yang jumlahnya bisa puluhan. Ibaratnya rumah panjang merupakan rumah yang dibangun saling menempel, sebelah-menyebelah ke arah samping. Saking banyaknya jumlah penghuni di rumah panjang sehingga rumah tersebut dianggap setara dengan kampung atau dusun.

Banyak antropolog dan peneliti lain yang menganggap bahwa rumah panjang Dayak Iban merupakan wujud dari organisasi sosial dan sistem kepemilikan yang bersifat komunal. Padahal anggapan tersebut adalah salah. Rumah panjang pada dasarnya adalah gabungan dari rumah individual yang masing-masingnya dibangun dan dimiliki sendiri oleh setiap keluarga penghuninya. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap keluarga penghuni bersifat independen dan tidak bergantung dari keluarga di sebelahnya.

Tiap-tiap keluarga yang menghuni rumah panjang tinggal di dalam sebuah ruangan yang bernama bilik. Bilik yang luasnya kira-kira 4x5 meter merupakan ruang keluarga sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda berharga, tempat untuk tidur, dan berkegiatan sehari-hari. Mereka yang tinggal di dalam bilik biasanya merupakan keluarga besar yang terdiri dari kakek, nenek, suami, istri, dan anak-anak.

Di atas bilik terdapat ruang penyimpanan yang disebut sebagai sadau. Tempat tersebut berfungsi untuk menimbun padi hasil ladang yang tersimpang di tong-tong besar terbuat dari kulit kayu. Kemudian di depan bilik terdapat jalan yang menghubungkan antar bilik yang dibernama ruai. Ruai adalah ruangan yang tidak terpotong oleh sekat-sekat dinding biasanya digunakan untuk akses jalan para penghuni. Sedangkan di bagian luar rumah panjang ada selasar yang bernama tanju yang digunakan untuk berbagai kegiatan luar ruangan.

Ngayap

Kehidupan orang Dayak Iban yang tinggal di pedalaman hutan Kalimantan tidaklah jauh berbeda dengan kebanyakan orang. Namun, aktivitas mereka sehari-hari tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan dan hukum adat.

Salah satu yang ditonjolkan dalam kumpulan kisah di buku ini adalah ekspresi cinta orang Iban antara laki-laki dengan perempuan. Bagi orang Iban hubungan cinta antar pasangan ini dinamakan sebagai ngayap.

Ngayap adalah tradisi orang Iban dalam menjalin hubungan asmara ketika mereka berusia remaja. Mereka menjalin hubungan cinta dengan lawan jenis tetapi belum terikat perkawinan.

Namun, orang Iban memiliki keunikan tersendiri dalam mengekspresikan perasaan cintanya kepada lawan jenisnya. Ketika  seorang laki-laki Iban yang jatuh cinta kepada salah satu perempuan Iban tidak secara langsung memperkenalkan dirinya ataupun mengungkapkan perasaannya. Dia terlebih dahulu melakukan pengamatan di mana bilik dan rumah panjang tempat perempuan itu tinggal.

Setelah menemukan biliknya, pada malam hari laki-laki Iban akan menyelinap secara diam-diam masuk ke dalam bilik perempuan itu dan mengajaknya tidur bersama-sama, tetapi tidak boleh sampai berhubungan suami-istri. Hal ini harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak boleh diketahui oleh orangtua perempuan.

Namun, dalam ngayap seorang perempuan Iban diperbolehkan menolak ajakan tidur bersama laki-laki yang datang ke biliknya. Laki-laki yang ditolak tidak boleh marah dan harus menerima setiap keputusan perempuan yang diajaknya tidur. Hal ini membuat laki-laki Iban tidak hanya sekali melakukan ngayap tapi bisa berulang-ulang. Alasannya bisa saja dia belum menemukan perempuan yang mau diajaknya tidur atau juga ada yang senang tidur bersama perempuan tanpa harus memiliki perasaan cinta.

Apabila laki-laki dan perempuan Iban dalam ngayap sudah menemukan kecocokan mereka akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius yakni pernikahan. Tetapi dalam tradisi Iban pernikahan hanya bisa dilakukan apabila mendapatkan restu terlebih dahulu dari orangtua.

Tradisi menjodohkan anak ternyata juga terjadi di suku iban.  Akibatnya, ada saja pasangan yang sebelumnya telah ngayap dan mendapatkan kecocokan tetapi tidak direstui orangtua. Apabila pasangan tidak mendapatkan restu biasanya pesta pernikahannya akan berlangsung sederhana. Berbeda dengan mereka yang  mendapatkan restu. Pesta pernihakan yang mendapatkan restu orangtua biasanya diselenggarapan secara meriah.

Pernikahan orang Iban juga memiliki keunikan tersendiri. Mereka diperbolehkan menikah dengan saudara sepupunya sendiri yang sesama orang Iban.  Hanya menikah dengan saudara kandung  yang tidak diperbolehkan. Kebanyakan orang Iban juga menikah di usia belasan tahun atau ketika ia masih di tingkat remaja.

Pergeseran Budaya

Perkembangan zaman yang kian modern membuat tradisi dan kebudayaan orang Iban juga mengalami perubahan. Namun, masih  banyak tradisi yang tetap dipertahankan. Salah satu contoh, tradisi ngayap sudah sangat jarang dilakukan khususnya di Sarawak Malaysia. Tradisi ngayap kian ditinggalkan karena kian tergeser maknanya.  Aktivitas ngayap seringkali justru dimanfaatkan untuk melakukan hubungan suami-istri yang dilarang dalam adat.

Orang Iban yang tinggal di Kalimantan Barat Indonesia juga pernah mengalami perubahan kebudayaan. Pada tahun 1977 Pemerintah Indonesia membuatkan rumah-rumah tinggal yang berdiri sendiri di luar rumah panjang. Namun, setelah orang Iban tinggal di rumah itu mereka merasa tidak cocok karena dalam melakukan aktivitas sehari-hari mereka harus bekerja sendiri. Padahal, di rumah panjang mereka terbiasa saling bantu-membantu. Hal ini membuat orang Iban kembali lagi ke rumah panjang dan rumah yang dibangun pemerintah dibiarkan terbengkalai. (Litbang Kompas)

Editor:
santisimanjuntak
Bagikan