logo Kompas.id
RisetKajian DataPenerimaan Terbelah pada Anak Berkebutuhan Khusus

Penerimaan Terbelah pada Anak Berkebutuhan Khusus

Kehadiran anak berkebutuhan khusus yang dipersepsikan beragam, mulai dari faktor medis hingga magis, memengaruhi keberterimaan masyarakat.

Oleh M PUTERI ROSALINA
· 7 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Anak berkebutuhan khusus bertugas sebagai pembaca teks Pembukaan UUD 1945 saat upacara bendera di MI Muhammadiyah Program Khusus Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (16/9/2019).

Sebagian besar masyarakat sudah memiliki pemahaman yang sama mengenai anak berkebutuhan khusus. Meski demikian, adanya stigma negatif pada keberadaan anak yang memiliki keterbatasan fisik, mental, dan sosial tersebut membuat penerimaan masyarakat terbelah.

Anak berkebutuhan khusus atau ABK mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan anak-anak lain. Masyarakat mempunyai berbagai pandangan mengenai kehadiran anak spesial ini. Belum semua warga masyarakat bisa menerima utuh kehadiran ABK ini sehingga beberapa tahun lalu sempat menjadi bahan bercanda dalam percakapan sehari-hari.

Dalam Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 4 Tahun 2017, ABK disebut sebagai anak penyandang disabilitas. Definisinya adalah anak yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan sensorik dalam jangka waktu lama.

Anak dengan karakter ini membutuhkan waktu lama dalam berintegrasi dengan lingkungan. Mereka dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan anak lain.

Dari definisi tersebut, kata kunci memahami anak-anak spesial ini adalah memiliki keterbatasan fisik, mental-intelektual, sosial, ataupun emosional. Hasil jajak pendapat Kompas awal September lalu menunjukkan, 71 persen responden sudah memahami definisi anak berkebutuhan khusus.

Sebanyak 69,4 persen responden menyebutkan, ABK mempunyai keterbatasan fisik dan mental. Ada juga responden yang berpendapat, ABK ini berbeda dengan yang lain atau menyebutnya sebagai anak yang unik dan istimewa.

Pemahaman tersebut senada dengan laporan studi ”Kondisi Anak Berkebutuhan Khusus dan Pendidikan Inklusi di Lombok Tengah” (2019). Dalam penelitian tersebut, sebagian besar anak sudah cukup terbiasa dengan kekhususan ABK yang bersifat fisik.

Memuat data...

Misal, ketika seorang anak diminta menggambarkan ABK, yang tergambar adalah anak yang tidak memiliki bagian tubuh lengkap (seperti tangan dan kaki), tidak mampu berjalan, melihat dan mendengar, serta tidak mampu berpikir (dengan menunjuk bagian kepala). Seorang anak lain juga mampu menjelaskan, ada sesuatu dalam diri ABK yang tidak berfungsi seperti anak lain.

Pemahaman masyarakat dan orangtua tidak jauh berbeda. Jawaban mengenai ABK adalah kekhususan yang bersifat fisik. Pemahaman yang lebih luas tentang ABK diperoleh dari jawaban guru.

Anak berkebutuhan khusus bukan hanya karena perbedaan fisik saja, melainkan juga siswa yang lamban atau kesulitan belajar di kelas. Ada juga guru yang menyebutkan, ABK adalah anak-anak dengan kecerdasan super dan di atas rata-rata.

Persepsi tersebut tidaklah keliru. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membagi anak disabilitas tersebut menjadi 12 jenis.

Disabilitas itu antara lain menyangkut penglihatan, pendengaran, fisik, dan sosial. Selanjutnya, ada juga gangguan pemusatan perhatian, spektrum autisma, ganda, dan kemampuan komunikasi. Kemudian, lamban belajar, kesulitan belajar, kemampuan komunikasi, dan bakat istimewa juga termasuk di dalamnya.

Memuat data...

Baca juga: Pandemi Mengikis Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Pandangan pada ABK

Meski sebagian besar masyarakat memahami definisi anak berkebutuhan khusus, pandangan mengenai keberadaan ABK sangat beragam. Purwanta (2018), pakar anak kebutuhan khusus, dalam laporan studi kondisi ABK di Lombok Tengah menjelaskan adanya tiga pendekatan dalam menyikapi keberadaan ABK.

Ketiga pendekatan ini adalah kesehatan, kritis, dan magis. Pendekatan kesehatan menganggap disabilitas terjadi karena persoalan medis, seperti penyakit, keturunan, kecelakaan, dan penuaan. Pendekatan ini sejalan dengan jawaban mayoritas responden (55,6 persen) dalam jajak pendapat Kompas.

Dalam kaitan dengan masalah medis, penelitian ”Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus” (Dinie Ratri, 2016) menjelaskan lahirnya ABK menurut tiga klasifikasi penyebab. Pertama, penyebab medis yang terjadi sebelum kelahiran, kemudian pada saat kelahiran, dan penyebab medis sesudah anak lahir.

Penyebab medis sebelum kelahiran (prenatal) dipengaruhi faktor internal, seperti genetik. Selain itu juga ada faktor eksternal, di antaranya pendarahan yang dialami ibu atau asupan makanan bagi ibu hamil yang kurang bergizi.

Penyebab medis berikutnya, yakni pada saat kelahiran, dipengaruhi misalnya oleh kelahiran yang sulit, pertolongan yang salah, atau persalinan tidak spontan. Anak lahir prematur, berat badan lahir rendah, serta infeksi karena ibu mengidap penyakit juga menjadi penyebab ABK pada saat kelahiran.

Kondisi setelah anak dilahirkan pun masih memungkinkan untuk membuat anak mempunyai keterbatasan fisik, mental, dan sosial. Hal ini dapat dipicu oleh kecelakaan, keracunan, tumor otak, kejang, dan diare pada masa bayi.

Selain pandangan kesehatan, studi Purwanta juga menunjukkan adanya masyarakat yang beranggapan bahwa kekhususan pada ABK terjadi karena proses marjinalisasi. Sebagian kecil responden (0,56 persen) juga memiliki pandangan semacam itu. Mereka memersepsikan kerentanan sebagai faktor penyebab ABK.

Memuat data...

Baca juga : Orangtua Melek Informasi, Anak Berkebutuhan Khusus Aman dari Pandemi

Pandangan magis

Selain itu, ada juga sekitar seperempat responden yang memersepsikan penyebab ABK dari sudut pandang magis. Di antara responden masih menyebut ABK lahir karena takdir dan cobaan Tuhan. Sebagian kecil responden (0,37 persen) juga memersepsikan kehadiran ABK karena gangguan roh halus.

Pendapat ini diperkuat oleh hasil penelitian ”Anak Berkebutuhan Khusus: Studi Kualitatif Proses Pemaknaan dan Stigmatisasi pada Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus di Surabaya” (Indah, 2013). Penelitian yang dilakukan pada tujuh keluarga di Surabaya itu menyebutkan, ada anggapan responden sedang diuji oleh Tuhan dan menganggap ini adalah takdir Tuhan.

Anggapan takdir Tuhan ini juga diperoleh dari laporan studi mengenai ABK di Lombok Tengah. Mayoritas informan menyebutkan, masyarakat tidak tahu penyebab adanya ABK. Mereka tidak terlalu membicarakannya karena ini sudah takdir Tuhan. Istilah cobaan Tuhan juga muncul dalam kelompok masyarakat suku Sasak di Lombok Tengah sebagai penganut agama yang taat mempraktikkan ajaran agamanya.

Memuat data...
KOMPAS/MELATI MEWANGI

Anak berkebutuhan khusus belajar berhitung dan angka di Amanda Learning Center, Karawang, Jawa Barat, Kamis (10/9/2020). Mereka wajib menggunakan masker saat pembelajaran.

Baca juga : Anak Berkebutuhan Khusus Juga Berhak Punya Masa Depan

Berbeda penerimaan

Perbedaan persepsi antara faktor medis dan magis tersebut membuat penerimaan masyarakat pada keberadaan anak-anak spesial ini terbelah. Hampir separuh (49,54 persen) berpendapat, masyarakat memandang positif dan bisa menerima kehadiran ABK.

Namun, sebagian responden lain beranggapan bahwa masyarakat belum bisa mengakomodasi kehadiran anak dengan karakteristik khusus ini. Sebanyak 41,6 persen responden berpendapat, masyarakat belum sepenuhnya menerima ABK. Bahkan, 8,35 persen dengan tegas menyatakan, masyarakat belum bisa menerima ABK.

Di sisi lain ada yang beranggapan, anak disabilitas akan membawa kesialan bagi keluarga yang memilikinya. Bahkan, pada tahun 2018, ada seorang ibu mengungkapkan ketidaksenangannya pada ABK di media sosial. Tertulis dalam status media sosialnya bahwa ABK berisik dan membuat sakit kepala. Tulisan ibu tersebut menjadi viral dan setelah itu mendapat kecaman dari para netizen.

Meski sudah terjadi dua tahun lalu, stigma tersebut masih terjadi sampai sekarang. Hal itu, antara lain, diungkapkan Melany Broto (37), seorang ibu yang juga mempunyai ABK. Pengalaman itu terjadi saat ia mengajak anaknya, Arka (9), ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, Arka yang mendadak tantrum mengundang tatap mata sinis dari pengunjung lain di pusat perbelanjaan tersebut.

Bagaimana anak spesial ini di mata anak-anak normal yang lain? Melany bercerita bahwa Arka dengan karakteristik khususnya tersebut belum bisa berbaur dengan anak-anak lain.

Anak-anak tetangga yang bermain dengan adik Arka masih melihat Arka sebagai sosok yang aneh. Meski demikian, sekarang anak-anak tersebut lebih bisa menerima setelah mendapatkan penjelasan.

Memuat data...

Baca juga : Beban Berlipat Orangtua dan Anak Berkebutuhan Khusus

Perundungan

Anak berkebutuhan khusus juga kerap mendapatkan perundungan di lingkungan sekolah. Merujuk penelitian ”Sikap Siswa Reguler terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus dan Kecenderungan Bullying di Kelas Inklusi” (Hasanah, 2018), ABK menjadi kurang percaya diri karena kerap mendapat ejekan dari temannya.

Hal ini mengakibatkan ABK menjadi lebih cepat marah atau menangis. Tak jarang juga, perundungan membuat ABK enggan datang ke sekolah dan keluar rumah.

Situasi ini dialami Tobi (7), ABK di Bekasi. Kisah Tobi dibagikan Loren, ibunya, di sebuah Instagram Live @tcanakpelangi minggu lalu. Tobi pernah tidak mau masuk sekolah sampai satu bulan karena didorong secara fisik oleh teman sekolahnya.

Pandangan negatif anak pada ABK juga didapat dari orangtuanya. Laporan studi di Lombok Tengah yang menyebutkan, masih ada orangtua yang memandang ABK dapat menularkan ”penyakit” kepada anak-anak lain. Hal ini membuat orangtua bersikap negatif terhadap pendidikan inklusi yang menggabungkan ABK dengan anak lain di kelas yang sama.

Sebanyak 41,6 persen responden berpendapat, masyarakat belum sepenuhnya menerima ABK. Bahkan, 8,35 persen dengan tegas menyatakan, masyarakat belum bisa menerima ABK.

Baca juga : Lindungi Anak Berkebutuhan Khusus

Pentingnya keberpihakan

Di antara cerita-cerita ketidakberpihakan masyarakat kepada ABK, ada juga kelompok masyarakat yang berpihak terhadap anak dengan kekhususan fisik dan mental ini. Menurut penjelasan Purwanta, kelompok masyarakat dengan pendekatan medis dan kesadaran kritis akan lebih bisa menerima keberadaan ABK.

Mereka akan ikut menangani ABK dengan rehabilitasi fisik, sosial, dan vokasional. Selain itu, mereka cenderung akan melakukan advokasi agar ABK dapat memperoleh hak-haknya.

Hasilnya, seperti yang dikutip dari laporan studi di Lombok Tengah, ABK merasa diterima teman-teman di sekolah dan bisa bermain dengan siapa saja. Beberapa siswa normal juga membantu ABK dalam proses pembelajaran. Hal yang sama juga dialami Rafa (11), ABK yang tinggal di Tangerang Selatan. Ia masih bisa ikut lomba perayaan 17 Agustus di kompleks tempat tinggalnya.

Masyarakat yang belum sepenuhnya menerima kehadiran ABK dapat semakin menyulitkan perkembangan mereka pada masa pandemi. Dalam lingkup internal saja, keluarga yang memiliki ABK sudah sulit memandu mereka belajar di rumah karena berbagai stres, kecemasan, dan perubahan suasana hati. Belum lagi, mengakses layanan kesehatan bagi ABK juga tidak mudah pada masa pandemi ini.

Ke depan, ABK sangat memerlukan penerimaan masyarakat. Langkah awal adalah meniadakan ”cap” negatif pada anak spesial ini, diikuti dengan kesediaan mengakomodasi segala kekhususan mereka. Bagaimanapun, ABK juga mempunyai hak setara dengan anak-anak lain. (LITBANG KOMPAS)

Editor: Bima Baskara Sakti
Memuat data..