logo Kompas.id
OpiniArtikel OpiniMartabat Tempe dan Ironi Kedelai

Martabat Tempe dan Ironi Kedelai

Tempe, makanan asli Indonesia, telah mendunia, dan pemerintah akan mendaftarkan tempe sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Namun, di tengah upaya tersebut, tempe di Indonesia justru dihasilkan dari kedelai impor.

Oleh FADLY RAHMAN
· 1 menit baca
Memuat data...
Kompas/Wawan H Prabowo

Pedagang tempe dan tahu menunggu pelanggan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (8/1/2021).

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan mendaftarkan tempe sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Niat mulia ini bukan yang pertama kali dilakukan. Tahun-tahun sebelumnya—terlebih setelah tempe ditetapkan sebagai warisan budaya nasional pada 2017—langkah pengajuannya ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) ini pernah pula dilakukan seperti oleh Pergizi Pangan dan Forum Tempe Indonesia.

Upaya itu tentu sejalan dengan promosi Gastronomi Nusantara yang sekarang ini diprogramkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. Jika melihat citra masa lalu tempe, sepertinya tidak terbayangkan bagaimana bisa makanan berbahan baku kacang kedelai kegemaran rakyat ini bisa mendunia dan bahkan hendak dipatenkan sebagai warisan dunia milik Indonesia (biasanya ini untuk mengantisipasi agar produk-produk budaya Indonesia tidak diklaim oleh negara lain).

Editor: Yovita Arika
Bagikan
Memuat data..