logo Kompas.id
Politik & HukumAdu Strategi Capres-Cawapres...
Iklan

Adu Strategi Capres-Cawapres Meyakinkan Pemilih Bimbang

Selain harus tampil maksimal di debat, di tengah masa kampanye Pemilu 2024 ini, setiap capres-cawapres dan parpol pengusung harus mampu berkampanye secara lebih tersegmentasi.

Oleh
NIKOLAUS HARBOWO
· 7 menit baca

Ketiga calon presiden (kanan ke kiri) Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo mengikuti debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di kantor KPU, Jakarta, Selasa (12/12/2023).
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Ketiga calon presiden (kanan ke kiri) Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo mengikuti debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di kantor KPU, Jakarta, Selasa (12/12/2023).

Dua bulan menjelang hari pemungutan suara Pemilihan Presiden 2024, pemilih bimbang justru meningkat. Ketiga pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pun beradu strategi untuk bisa merebut hati mereka. Pekerjaan rumah menanti para kandidat, begitu pula partai politik pengusungnya, demi memastikan kemenangan pada pemilihan presiden mendatang.

Baca Berita Seputar Pemilu 2024
Pahami informasi seputar pemilu 2024 dari berbagai sajian berita seperti video, opini, Survei Litbang Kompas, dan konten lainnya.
Kunjungi Halaman Pemilu

Setelah digelar debat calon presiden perdana pada Selasa (12/12/2023) malam, Komisi Pemilihan Umum (KPU) setidaknya masih akan memfasilitasi empat debat lagi bagi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres). Debat selanjutnya adalah debat antarcawapres yang bakal digelar pada 22 Desember 2023 dengan tema ekonomi, keuangan, investasi pajak, perdagangan, pengelolaan APBN-APBD, infrastruktur, dan perkotaan.

Performa kandidat harus dipersiapkan secara matang karena debat memiliki potensi elektoral yang tak bisa diremehkan. Mengacu pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, ada sekitar 36 persen dari total pemilih yang menyaksikan debat capres-cawapres. Sebagian dari mereka menjadikan debat sebagai salah satu faktor dalam menentukan pilihan calon pemimpin nasional.

Apalagi, survei Litbang Kompas pada 29 November-4 Desember 2023 memotret adanya peningkatan pemilih bimbang (undecided voters) yang signifikan. Dalam survei Kompas terbaru itu, pemilih bimbang mencapai 28,7 persen. Angka ini lebih besar dibandingkan dengan survei sebelumnya pada Agustus 2023. Saat itu, ketika survei masih sebatas capres, jumlah pemilih bimbang berada di 15,4 persen.

Baca juga: Prabowo-Gibran Unggul, Pemilih Bimbang Meningkat

Dekan Fisipol UGM Wawan Mas’udi
KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Dekan Fisipol UGM Wawan Mas’udi

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Wawan Mas’udi, dalam acara Satu Meja the Forum bertajuk ”Usai Debat Perdana, Pemilih Bimbang ke Mana?” yang disiarkan Kompas TV, Rabu (13/12) malam, mengatakan, dalam sejarah pilpres secara langsung, jumlah pemilih bimbang yang mencapai 28,7 persen di 60 hari menjelang masa pemilihan merupakan jumlah yang sangat tinggi. Sebab, biasanya jumlah pemilih bimbang hanya sekitar 10-15 persen.

Situasi ini, menurut dia, bisa menjadi peluang yang baik bagi para kandidat untuk bisa memperbesar ceruk pemilihnya. Namun, di sisi lain, bisa pula menjadi ancaman karena salah satu calon bisa saja menang dalam satu putaran.

”Ini (pemilih bimbang) akan bisa berakhir dua trajectory. Satu, bisa akan memilih. Kedua, bisa tidak memilih. Nah, gawatnya kalau 28,7 persen ini tidak memilih semua. Itu bisa satu putaran. Karena, kalau dihitung-hitung bisa langsung menang yang paling tinggi saat ini. Karena itu, kita harus bisa meyakinkan yang 28,7 persen tadi bisa memberikan hak suaranya,” ujar Wawan.

Selain Wawan, narasumber lain dalam diskusi yang dipandu Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Budiman Tanuredjo itu adalah Anggota Dewan Pertimbangan Tim Nasional Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Syaiful Huda; Wakil Komandan Fanta (Pemilih Muda) Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Rahayu Saraswati; anggota Tim Pemenangan Nasional Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Eriko Sotarduga; dan peneliti senior Litbang Kompas, Bestian Nainggolan.

Baca juga: Basis Anies dan Ganjar Masih Kokoh

Tiga pasangan capres-cawapres menunjukkan nomor urut saat rapat pleno terbuka pengundian dan penetapan nomor urut dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2024 di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (14/11/2023).
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Tiga pasangan capres-cawapres menunjukkan nomor urut saat rapat pleno terbuka pengundian dan penetapan nomor urut dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2024 di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (14/11/2023).

Wawan melanjutkan, bukan hal yang mudah untuk bisa meyakinkan pemilih bimbang. Selain harus tampil maksimal di debat, di tengah masa kampanye ini, setiap kandidat dan parpol pengusung harus mampu berkampanye secara lebih tersegmentasi. Artinya, melihat lebih detail segmen-segmen pemilih yang ada, baik dari sisi teritorial, kluster demografi, maupun jender. Kemudian, untuk mendekati setiap segmen tersebut digunakan isu yang berbeda-beda.

”Saya kira ini menjadi PR (pekerjaan rumah) terbesar bagi seluruh calon, seluruh partai jika ingin meyakinkan rakyat atau mereka yang masih bimbang. Jangan lagi menggunakan isu-isu yang bersifat umum, tetapi semakin segmented. Dengan begitu, kampanyenya semakin programatik. Jika kampanye programatik, pemilu semakin berkualitas,” ucap Wawan.

Baca juga: Menembus ”Belantara” Pemilu dengan Basis Saintifik

Di sisi lain, ucapnya, parpol harus semakin memperkuat konsolidasi internalnya. Sebab, tampak dari hasil survei Kompas periode Desember 2023, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru lebih rendah dari elektabilitas partai pengusungnya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Diketahui, elektabilitas Ganjar-Mahfud sekitar 15 persen, sementara PDI-P memperoleh elektabilitas hampir 20 persen.

Kemudian, tak bisa dimungkiri bahwa Jawa Tengah menjadi salah satu kunci kemenangan pilpres. Dalam konteks ini, Solo Raya dianggap akan sangat menentukan kemenangan kandidat karena Solo Raya sangat besar, yakni terdiri dari tujuh kabupaten/kota, serta memiliki jumlah pemilih yang sangat besar.

https://cdn-assetd.kompas.id/I5Y_MY3B6Q6l8dCda81KkVQoz20=/1024x1258/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F12%2F10%2F8a6c9004-e850-4eea-9be3-4936062fa0d2_jpg.jpg

Perubahan konfigurasi

Bestian Nainggolan sependapat dengan Wawan. Konsolidasi internal partai dan penguatan di basis setiap partai dibutuhkan karena belum ada soliditas pemilih terhadap pasangan capres-cawapres yang diusung oleh partainya.

Misalnya saja, PDI-P, soliditas pemilih partainya kepada Ganjar-Mahfud paling rendah, yakni 58 persen. Sementara jika dibandingkan dengan Partai Gerindra sebagai partai penyokong Prabowo-Gibran dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai partai penyokong Anies-Muhaimin, soliditasnya sudah mencapai 75 persen.

Iklan

Bestian menyebut, salah satu penyebab kebimbangan pemilih atau belum adanya soliditas pemilih khususnya pada PDI-P ialah perubahan konfigurasi dari pasangan capres-cawapres kali ini. Sebagaimana diketahui, Gibran merupakan putra sulung Presiden Joko Widodo. Ganjar dan Gibran sama-sama lahir dari rahim PDI-P, tetapi Gibran justru pada Oktober lalu, memutuskan mendampingi Prabowo pada Pilpres 2024.

”Nah, ini berubah konfigurasinya. Di survei bulan Agustus 2023, sebesar 40-45 persen mereka memilih Pak Ganjar. Nah, sekarang menjadi 23-25 persen yang memilih Pak Ganjar. Ke mana sisanya? Sisanya pergi ke Prabowo. Selain itu, ada juga yang masih bimbang, yakni para pemilih dari Pak Jokowi dan Pak Ma’ruf Amin (pada Pilpres 2019),” kata Bestian.

Baca juga: Gerindra Menyusul PDI-P

https://cdn-assetd.kompas.id/dk7K2Ds1TjUrIdq1652Tt3aacnA=/1024x1554/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F12%2F10%2Fb9ea1a67-8bd2-4b27-a6bb-f16bdda32216_jpg.jpg

Jika didalami lebih jauh, jumlah pemilih bimbang terbesar pun berada di Jawa Tengah yang merupakan basis PDI-P. Setidaknya 34 persen responden belum memutuskan pilihan pasangan capres-cawapres atau apakah akan menggunakan hak pilihnya.

Bestian juga menegaskan bahwa survei-survei Litbang Kompas selama ini dilakukan secara independen. Dari segi pembiayaan, Harian Kompas membiayai semua proses survei hingga selesai. Semua hasil wawancara pun terpantau dalam suatu sistem sehingga bisa terekam di mana dan kapan waktu wawancara dilakukan, isi wawancaranya, hingga berapa lama proses wawancara dilakukan.

Ketika dipersoalkan mengenai adanya ”siraman” bantuan sosial sebelum survei ini dilakukan, Bestian pun menyampaikan bahwa setiap survei Kompas selalu diuji berdasarkan data. Lagi pula, tidak ada perbedaan pilihan politik responden, baik oleh mereka yang menerima bantuan sosial maupun yang tidak menerima bantuan sosial.

Litbang Kompas juga melakukan survei di lebih dari 600 kelurahan dan desa. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan lembaga survei lain yang hanya sekitar 120-200 kelurahan dan desa. Tak heran, dinamika atau homogenisasi pilihan tidak terjadi di suatu daerah.

https://cdn-assetd.kompas.id/SNi6JcR7mn9UoRsjPWCztZHNpag=/1024x1554/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F12%2F10%2F0fe6ade8-a1dc-4601-8dcf-263436332b92_jpg.jpg

Pertarungan menarik

Syaiful Huda berharap sebesar 28,7 persen pemilih bimbang menjadi bagian dari pemilih yang mempertimbangkan gagasan dari pasangan capres-cawapres. Karena itu, Anies-Muhaimin berkomitmen akan menjemput mereka dengan lebih mengintesifkan dialog ke akar rumput.

”Kami akan on the spot langsung di lapangan, termasuk di Jawa Tengah tadi karena porsinya besar, di Jawa Timur juga. Kami ingin mendialogkan visi misi ini sehingga mereka yang sekarang menunda untuk memilih atau bimbang nantinya bisa memilih AMIN (Anies-Muhaimin),” ucap Huda.

Ia pun mencatat, dari 28,7 persen pemilih yang masih bimbang, ternyata juga banyak terdiri dari perempuan. Untuk itu, di empat kali panggung debat kandidat nanti, Anies-Muhaimin akan menaruh perhatian soal isu perempuan.

Baca juga: Dramaturgi Panggung Depan Politisi

https://cdn-assetd.kompas.id/0m7NAeZZ1FdG-9kfgR6sIMB26lQ=/1024x1554/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F12%2F10%2Ff42d6535-ac06-432f-bf93-ae1f1e70dc14_jpg.jpg

Sementara Rahayu Saraswati mengungkapkan, pihaknya telah mempunyai strategi khusus untuk fokus menarik hati kalangan anak muda dan perempuan. Terutama untuk meyakinkan hati undecided voters, tidak ada pilihan lain kecuali bertemu langsung dengan mereka.

Ia pun mengklaim, sejak daftar calon tetap anggota legislatif ditetapkan, para kandidat legislatif lebih masif turun ke bawah. Ia bersyukur, dengan begitu, elektabilitas Gerindra dan Prabowo-Gibran terus meningkat.

”Jadi, kalau misalkan persoalan elektabilitas (Gerindra dan Prabowo-Gibran) yang terus naik, saya rasa itu kombinasi dari beberapa hal. Yang pertama, tentu, kami semua pasti punya marching orders. Semua pasti punya tugas untuk harus turun ke lapangan. Karena, walaupun media sosial itu suatu battle-field, itu ceruknya sangat spesifik,” ucap Saraswati.

https://cdn-assetd.kompas.id/vVI3sR_tQ2cA1A5-fI3s8vuHyMA=/1024x946/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F12%2F12%2Fb0ba363c-d6ff-4ba2-84e3-8f1011bb5825_jpg.jpg

Adapun Eriko Sotarduga mengatakan, bagi PDI-P, tidak ada pilihan lain untuk menang kontestasi Pemilu 2024, tidak cukup hanya berkampanye dengan mengandalkan media sosial, tetapi juga harus menggalang suara dari pintu ke pintu (door to door). Salah satunya, meyakinkan pemilih di Jawa Tengah.

Selain itu, ia meyakini, jika seluruh calon anggota legislatif dari partai pengusung solid bergerak dan memenangkan pasangan capres-cawapres yang diusung, maka kemenangan itu akan bisa diraih.

”Enggak usah jauh-jauh, hari (Rabu) ini saya keliling hampir 1.000 kepala keluarga di Petukangan Selatan dan Petukangan Utara, mereka menyampaikan bahwa masyarakat butuh penjelasan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Nah, ini Jakarta, apalagi di daerah,” ucapnya.

Baca juga: Caleg Tandem, Simbiosis Mutualisme demi Gaet Suara Pemilih

Ia menegaskan, masih ada waktu sekitar dua bulan lagi bagi parpol dan kandidat untuk memperebutkan ceruk pemilih bimbang atau bahkan menguasai ceruk kandidat lain. Ini, menurut dia, akan menjadi pertarungan yang menarik karena semua akan berlomba-lomba untuk meyakinkan hati pemilih.

”Dan, yang sudah menentukan pilihan, apakah tidak ragu-ragu juga? Kurang lebih masih bisa swing, kurang lebih 40 persen. Nah, ini kami bersaing dengan Mbak Saraswati dan Mas Syaiful Huda untuk memperebutkan ini. Nah, tentu berapa target? Kami menghitung 50 persen dari undecided voters dan 50 persen dari yang masih ragu atau bisa jadi swing voters ini kami rebut. Dan, angka itu kurang lebih di 37-43 persen untuk kemudian bisa menambah elektabilitas Ganjar-Mahfud saat ini,” tuturnya.

Editor:
ANTONIUS PONCO ANGGORO
Bagikan
Logo Kompas
Logo iosLogo android
Kantor Redaksi
Menara Kompas Lantai 5, Jalan Palmerah Selatan 21, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia, 10270.
+6221 5347 710
+6221 5347 720
+6221 5347 730
+6221 530 2200
Kantor Iklan
Menara Kompas Lantai 2, Jalan Palmerah Selatan 21, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia, 10270.
+6221 8062 6699
Layanan Pelanggan
Kompas Kring
+6221 2567 6000