logo Kompas.id
Politik & HukumKRI Nanggala-402 Dulu Jadi...

KRI Nanggala-402 Dulu Jadi Ujung Tombak Sengketa Blok Ambalat

Pencarian terus dilakukan untuk menemukan Kapal Selam KRI Nanggala-402 yang hilang di perairan di utara Bali. Dahulu kapal selam ini sempat jadi andalan Indonesia dalam sengketa wilayah dengan Malaysia di Blok Ambalat.

Oleh
Edna C Pattisina
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/A4gjMktTJ9r1D4AdknuZtiP3Af0=/1024x680/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F04%2F20120206Bah8_1618999023.jpg
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Anggota TNI AL membawa prototipe sesaat Kapal Selam KRI Nanggala-402 saat merapat di Dermaga Madura Komando Armada RI Kawasan Timur di Surabaya, Senin (6/2/2012). Kedatangan KRI Nanggala setelah menjalani perbaikan di Korea Selatan disambut langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno dan anggota Komisi I DPR.

Pada 8 April 2005, Kapal Republik Indonesia (KRI) Tedong Naga 819 menyerempet Kapal Diraja Rencong dari Malaysia di perairan Karang Unaran, Nunukan, Kaltim. Buku 71 Tahun TNI AL mencatat, aksi ini terpaksa dilakukan karena KD Rencong berkali-kali melakukan manuver yang membahayakan pembangunan mercusuar Karang Unarang. Insiden ini adalah bagian dari konflik perebutan blok Ambalat yang kaya migas.

Setelah peristiwa itu, pada Mei 2005, Kapal Selam KRI Nanggala 402  dioperasikan di kawasan itu. Tugas KRI Nanggala adalah menjadi ujung tombak alias bersiap-siap. Kalau terjadi apa-apa, KRI Nanggala yang maju. Tugasnya sesuai dengan peran kapal selam untuk mengintai, menyusup, dan memburu sasaran-sasaran strategis. Semua sesuai dengan keputusan politik pemerintah.

Editor:
Antony Lee
Bagikan