logo Kompas.id
Politik & HukumKAMI, antara Intrik Politik...

KAMI, antara Intrik Politik dan Penyeimbang

Oposisi dibutuhkan dalam demokrasi sebagai penyeimbang. Gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia pun ingin berperan sebagai alat kontrol. Mampukah KAMI jadi kekuatan penyeimbang atau justru cuma intrik politik?

Oleh
PRAYOGI DWI SULISTYO
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/CEftaO5hS-cwDZObCMNAeR11KCM=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F04%2F20180424_GATOT_B_web.jpg
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo (tengah) berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo (kanan), Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho (kedua dari kanan), dan Pemimpin Redaksi Kompas TV Rosiana Silalahi (kiri) saat mengunjungi ruang redaksi Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV di Menara Kompas, Palmerah Selatan, Jakarta, Senin (23/4/2018) malam. Gatot Nurmantyo menjadi salah satu narasumber dalam acara Satu Meja yang ditayangkan di Kompas TV.

Sejumlah tokoh mendeklarasikan gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia. Sejumlah keprihatinan dilontarkan, termasuk soal menguatnya politik oligarki. Akankah KAMI mampu jadi kekuatan penyeimbang dalam demokrasi RI?

Dalam demokrasi, oposisi dibutuhkan sebagai penyeimbang. Sejak Partai Gerindra bergabung dengan pemerintah, tinggal Partai Keadilan Sejahtera yang berperan sebagai oposisi di parlemen. Ketidakseimbangan ini membuat DPR dipandang sebagai stempel pemerintah saja. Hingga pada akhirnya, muncul gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia atau KAMI yang ingin berperan sebagai kontrol sosial.

Editor:
suhartono
Bagikan