logo Kompas.id
β€Ί
Politik & Hukumβ€ΊSerangan Siber Pemilu 2019...
Iklan

Serangan Siber Pemilu 2019 Bisa Ganggu Demokrasi

Oleh
Antony Lee
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/OcVeOjSgYdMaEotTeMuHinz8moA=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F12%2F20181206_124420_1544103272.jpg
KOMPAS/ANTONY LEE

Para pembicara menyampaikan pandangan dalam Diskusi Publik Tantangan Keamanan Siber dalam Pemilu 2019 yang diselenggarakan Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) dan International IDEA di Jakarta, Kamis (06/12/2018). Dari kanan ke kini, moderator peneliti senior Netgrit Hadar Nafis Gumay, Riko Rasota dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Nuriman yang mewakili Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Peter Wolf, pakar teknologi informasi dan komunikasi International IDEA, dan peneliti Centre for Cyber Security and Cryptography Setiadi Yazid.

JAKARTA, KOMPAS – Serangan siber terhadap sistem informasi Pemilu 2019 tidak akan mempengaruhi hasil pemilu, tetapi bisa merusak kepercayaan terhadap penyelenggara pemilu, pemerintah, dan hasil pemilu yang akhirnya menganggu konsolidasi demokrasi. Ancaman serangan siber ini hanya bisa diminimalisasi apabila ada kolaborasi transparan yang melibatkan lembaga pemerintah, swasta, dan institusi internasional.

Kajian International Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA) yang dalam waktu dekat akan dipublikasikan, menunjukkan bahwa ancaman siber terkait pemilu yang muncul di beberapa negara umumnya berupa peretasan dan disinformasi. Dua serangan ini bisa diarahkan pada proses kepemiluan atau pemangku kepentingan kepemiluan dan kampanye.

Editor:
Bagikan