logo Kompas.id
Politik & HukumKomisi Yudisial Analisis Putusan

Komisi Yudisial Analisis Putusan

JAKARTA KOMPAS &mdash Menyikapi laporan sejumlah pihak mengenai putusan praperadilan Setya Novanto Jumat pekan lalu Komisi Yudisial masih menganalisis dan menginventarisasi persoalan-persoalan yang dilaporkan muncul dari proses persidangannya Kesimpulan atas analisis itu akan menjadi dasar la

· 3 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Menyikapi laporan sejumlah pihak mengenai putusan praperadilan Setya Novanto, Jumat pekan lalu, Komisi Yudisial masih menganalisis dan menginventarisasi persoalan-persoalan yang dilaporkan muncul dari proses persidangannya. Kesimpulan atas analisis itu akan menjadi dasar langkah Komisi Yudisial selanjutnya.Ketua Bidang Pengawasan Hakim dan Investigasi Komisi Yudisial (KY) Jaja Ahmad Jayus yang dihubungi dari Jakarta, Rabu (4/10), mengatakan, tim monitoring KY masih menganalisis hasil pemantauan persidangan. Tim harus mencocokkan setiap detail fakta persidangan itu dengan rekaman di praperadilan."Sampai akhir pekan ini kemungkinan analisis masih akan dilakukan karena tim juga harus mencocokkan satu per satu fakta yang terjadi dalam sidang dengan rekaman mereka. Laporan sementara masih berupa jalannya persidangan sehingga belum bisa diambil kesimpulan apakah memang ada dugaan pelanggaran dalam putusan hakim maupun jalannya persidangan," katanya.Terkait dengan praperadilan itu, KY baru menerima dua surat keberatan dan laporan dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI). Surat itu dikirim MAKI setelah putusan sela dibacakan hakim Cepi Iskandar, 22 September lalu. Surat bertanggal 23 dan 28 September itu meminta KY agar merekomendasikan pergantian Cepi dengan hakim yang lebih kredibel. Sebab, Cepi menolak permohonan intervensi yang diajukan oleh MAKI dalam praperadilan tersebut. Selain itu, MAKI juga mempersoalkan hakim Cepi yang menolak bukti rekaman keterlibatan Novanto dalam dugaan korupsi KTP elektronik diperdengarkan dalam sidang."Laporan kami baru sebatas pengiriman surat, tetapi belum secara resmi menyerahkan laporan dugaan pelanggaran kode etik hakim Cepi kepada Komisi Yudisial," ujar Koordinator MAKI Boyamin Saiman.Kepala Humas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Made Sutrisna mengatakan, khusus mengenai gugatan intervensi yang dilakukan pihak lain dalam kasus praperadilan itu tidak dapat diterima oleh pengadilan. Alasannya, gugatan intervensi tidak dikenal dalam persidangan praperadilan."Gugatan intervensi hanya dikenal di persidangan kasus perdata sehingga hal itu tidak bisa dipakai di praperadilan," ujar Made.Harus bersikapDirektur Pusat Studi Konstitusi (PuSaKo) Universitas Andalas, Padang, Feri Amsari mengatakan, dalam kasus praperadilan Novanto ini Komisi Yudisial harus bersikap tegas. Kendala alasan teknis yudisial pasti akan ditemui KY dalam pemeriksaan hakim. Namun, KY seharusnya kreatif dengan melihat persoalan lebih luas."Yang harus dilihat Komisi Yudisial adalah apakah putusan itu dijatuhkan tidak memiliki kepentingan atau melanggar etika serta konsistensi cara berpikir hakim. Konsistensi itu bisa dilihat dari putusan-putusan praperadilan terdahulu hakim Cepi. Jika ternyata putusan-putusan peradilannya terdahulu menentukan berbeda, itu dapat menjadi indikasi telah terjadi conflict of interest," kata Feri.Feri menilai KY selama ini kurang tegas dalam bersikap. KY kerap menjadi macan tanpa taring. KY dinilai perlu strategi dan langkah-langkah baru untuk menyelamatkan peradilan."Selama ini KY selalu mengeluh dengan kewenangannya yang terbatas. Padahal, sebagai lembaga negara, KY punya kewenangan konstitusional yang bisa dijabarkan dengan peraturannya sendiri," ujar Feri. (REK)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..