logo Kompas.id
Paparan TopikKedelai: Impor, Konsumsi, Tata...

Kedelai: Impor, Konsumsi, Tata Niaga, dan Perkembangan Harga

Indonesia masih bergantung impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan bahan baku utama tempe dan tahu yang digemari sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal pada masa Orde baru, Indonesia sudah berhasil swasembada kedelai yang puncaknya dicapai tahun 1992 dengan produksi 1,8 juta ton.

Oleh
Dwi Erianto
· 1 menit baca
Pekerja menurunkan karung kemasan 50 kilogram berisi kedelai impor di salah satu toko di sentra pembuatan tahu tempe di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (23/2/2022). Kedelai tersebut akan dikirimkan ke sejumlah perajin tahu tempe yang mulai memesan kedelai untuk bahan baku pembuatan tahu tempe setelah mereka mogok produksi selama tiga hari. Harga kedelai yang melesat naik hingga Rp 12.000 per kilogram telah menyulitkan para produsen tahu tempe.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Pekerja menurunkan karung kemasan 50 kilogram berisi kedelai impor di salah satu toko di sentra pembuatan tahu tempe di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (23/2/2022). Kedelai tersebut akan dikirimkan ke sejumlah perajin tahu tempe yang mulai memesan kedelai untuk bahan baku pembuatan tahu tempe setelah mereka mogok produksi selama tiga hari. Harga kedelai yang melesat naik hingga Rp 12.000 per kilogram telah menyulitkan para produsen tahu tempe.

Indonesia termasuk dalam daftar negara pengimpor kedelai tertinggi kedua setelah Cina. Badan Pusat Statistik mencatat, impor kedelai Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir di atas 2 juta ton per tahun atau senilai tak kurang dari Rp14 triliun.

Impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri yang mencapai 3 juta ton per tahun. Kebutuhan itu tak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri yang masih di bawah 1 juta ton per tahun. Sekitar 70 persen dari kebutuhan kedelai itu digunakan perajin untuk bahan baku tempe, 25 persen tahu, dan sisanya untuk produk lain.

Editor:
Topan Yuniarto
Bagikan