logo Kompas.id
OpiniNegara-Bangsa dan Algoritma...
Iklan

Negara-Bangsa dan Algoritma Pemikiran Gus Dur

Andai masih hidup, dalam Pemilu 2024 ini, Gus Dur pasti akan beroposisi dengan golongan yang menegasikan keberagamaan, mengutuk pluralitas, dan ekstrem-agama.

Oleh
AHMAD KHOTIM MUZAKKA
· 3 menit baca
https://cdn-assetd.kompas.id/rC7S3ZHrhhlX0FXnHT6Z7kpeoas=/1024x576/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F01%2F04%2F3a0a03c6-8185-4b44-9e45-d7def566aa49_jpg.jpg

Jika Gus Dur masih hidup, kira-kira siapakah yang didukung dalam Pilpres 2024? Pertanyaan ini saya ajukan agar haul Gus Dur tidak menjadi hanya sesuatu yang berulang tiap tahun, tetapi tidak merefleksikannya dengan lebih proporsional-kontekstual.

Sebagaimana tradisi di Nahdlatul Ulama, tiap tokoh agama yang berkontribusi bagi masyarakat selalu mendapatkan tempat spesial, yang salah satu perwujudannya tecermin dari diselenggarakannya peringatan haul dari tahun ke tahun. Menyambut perhelatan Pemilu 2024, di bulan Gus Dur ini perlu untuk merefleksikan tentang siapa pasangan capres-cawapres yang masuk dalam algoritma pemikiran Gus Dur.

Baca Berita Seputar Pemilu 2024
Baca Berita Seputar Pemilu 2024
Pahami informasi seputar pemilu 2024 dari berbagai sajian berita seperti video, opini, Survei Litbang Kompas, dan konten lainnya.
Kunjungi Halaman Pemilu

Tulisan ini saya angkat mengingat meski Gus Dur telah berpulang pada 2009, jejak pemikiran dan gerakannya masih terus menjadi pusat referensi intelektual para pemikir dan aktivis. Hal tersebut karena semasa hidupnya Gus Dur tidak (hanya) menjadi intelektual menara gading. Gus Dur selalu menempatkan masyarakat dalam konteks yang aktual, tecermin dari berbagai pembelaannya terhadap minoritas. Meskipun tindakan-tindakan Gus Dur sering kali tidak dipahami oleh banyak kalangan karena mungkin saja pemikirannya terlalu maju untuk zaman dan kaumnya.

Baca juga: Gus Dur dan Problem Bangsa Kita

Kita masih ingat bagaimana pembelaan Gus Dur kepada komunitas Ahmadiyah yang mendapatkan persekusi. Komunitas Tionghoa yang kini bisa merayakan Imlek dengan leluasa juga tidak dapat dilepaskan dari bagaimana Gus Dur melihat sesuatu dengan cara pandang di luar kebiasaan publik. Hal tersebut yang sering kali dianggap bertentangan dengan cara pandang konservatif, yang bahkan juga lahir dari bilik pesantren yang membesarkan namanya.

Warga melintas di depan spanduk yang mengutip pernyataan mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Minggu (10/8/2014).
KOMPAS/RIZA FATHONI

Warga melintas di depan spanduk yang mengutip pernyataan mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Minggu (10/8/2014).

Neo-moderatisme

”… NU and Abdurrahman Wahid will play a significant role in working to maintain social stability and intercommunal harmony. Abdurrahman may be a rather maverick figure much given to bold criticism of government figures, but there is no doubting his commitment as a moderate and a liberal to maintaining social harmony in Indonesia’s plural society.

Kutipan tersebut penulis temukan dari Greg Barton, penulis biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid yang monumental, di publikasinya bertajuk Indonesias Nurcholish Madjid and Abdurrahman Wahid as intellectual Ulama: The meeting of Islamic traditionalism and modernism in neo-modernist thought (2007).

Iklan

Salah satu perjuangan Gus Dur adalah bagaimana komitmennya menjaga moderatisme dan menyeimbangkan harmoni sosial di tengah pluralitas Indonesia.

Dari kutipan tersebut, saya memahami bahwa salah satu perjuangan Gus Dur adalah bagaimana komitmennya menjaga moderatisme dan menyeimbangkan harmoni sosial di tengah pluralitas Indonesia. Tidak ada keraguan sama sekali atas apa yang telah diperjuangkan Gus Dur semasa hidup. Beliau mendapatkan cacian dari banyak kalangan, salah satu yang penulis ingat adalah yang terucap dari salah satu tokoh eks Front Pembela Islam yang mengatakan bahwa negara ini dipimpin oleh orang yang buta mata dan buta hatinya.

Pernyataan tersebut sangat membekas tidak hanya karena diucapkan tokoh tersebut, tetapi juga karena hal tersebut berkaitan dengan persinggungan ideologi Gus Dur dengan tokoh tersebut yang sering kali bergesekan dalam memperjuangan Islam dan kebebasan beragama di Indonesia. Hal itu terutama terkait dengan pembelaan Gus Dur terhadap Ahmadiyah dan kalangan minoritas lain.

Mural salah satu pernyataan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tergambar di sebuah gang di kawasan Cipayung, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/4/2021). Pernyataan Gus Dur terkait pluralisme dan kesetaraan masih relevan hingga kini sebagai landasan berkehidupan bernegara yang majemuk.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Mural salah satu pernyataan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tergambar di sebuah gang di kawasan Cipayung, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/4/2021). Pernyataan Gus Dur terkait pluralisme dan kesetaraan masih relevan hingga kini sebagai landasan berkehidupan bernegara yang majemuk.

Sikap penerus Gus Dur

Dalam beberapa kesempatan, KH Yahya Cholil Tsaquf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menegaskan bahwa penggunaan politik identitas yang berjalan dalam beberapa tahun terakhir telah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Dalam kosakata generasi Z atau milenial: sudah mau masuk jurang. Hal tersebut tecermin pada fakta ketegangan yang mengemuka selama masa kontestasi politik yang terlihat lebih mengedepankan identitas alih-alih prestasi individu dan rekam jejak. Terkait politik identitas ini, saya pernah menulis esai di Kompas bertajuk Eufemisme Politik Identitas (10/4/2023).

Bahkan, dalam sambutannya yang diunggah Channel NU Online (15/5/2023), Gus Yahya secara tegas mengkritik penggunaan simbol agama dengan cara yang salah. ”Kepada orang banyak, kalau ikut saya masuk surga, nyoblos saya masuk surga, nggak nyoblos saya neraka, tidak berhak dishalati kalau mati, misalnya. Ini mempermainkan agama. Jangan sampai kita nantang kuwalat seperti ini.”

Baca juga: Gus Dur dan Tantangan Kebangsaan

Bagi publik Indonesia, Gus Dur merupakan tokoh yang sangat teguh membela minoritas, memberikan ruang kepada mereka, dan sangat tegas terhadap kelompok yang mempersekusi kelompok lain atas nama perbedaan keyakinan. Dalam pandangan saya, Gus Dur juga segan bergandengan tangan dengan komunitas yang tidak memahami betul multikulturalisme Indonesia dan mereka yang selalu memaksakan ideologi keagamaan yang cenderung tidak menerima fakta pluralitas sebagai fakta sosiologis-antropologis. Ya, Gus Dur konsisten menolak mereka yang bersekutu dengan kelompok radikal agama.

Dalam beberapa tahun terakhir, identitas pribadi yang given dan dieksploitasi sedemikian rupa telah merusak nalar publik dalam menentukan pilihan. Kita telanjur tercebur dalam kubangan politisasi identitas yang mengeras antara satu golongan dan golongan lain. Gerakan ekstrem kanan yang mengatasnamakan agama dan ingin ”menguasai” negara, bahkan lewat jalur politik sekalipun, mesti kita curigai sebagai upaya untuk mengubah arah kultural bangsa Indonesia yang telah menerima pluralitas sebagai basis negara.

Sekali lagi, saya ajukan pertanyaan, jika Gus Dur harus menjatuhkan pilihan, siapa yang akan didukung? Saya berkeyakinan bahwa Gus Dur akan beroposisi dengan golongan yang menegasikan keberagamaan dan yang mengutuk pluralitas (baik dalam ideologi ataupun aksi) dengan kelompok yang ekstrem-agama yang selalu membenturkan Islam dan keberagaman.

Ahmad Khotim Muzakka, Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN KH Abdurrahman Wahid, Pekalongan; Khadim Rahmatan Institute Indonesia

Ahmad Khotim Muzakka
DOK. PRIBADI

Ahmad Khotim Muzakka

Editor:
YOVITA ARIKA
Bagikan
Logo Kompas
Logo iosLogo android
Kantor Redaksi
Menara Kompas Lantai 5, Jalan Palmerah Selatan 21, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia, 10270.
+6221 5347 710
+6221 5347 720
+6221 5347 730
+6221 530 2200
Kantor Iklan
Menara Kompas Lantai 2, Jalan Palmerah Selatan 21, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia, 10270.
+6221 8062 6699
Layanan Pelanggan
Kompas Kring
+6221 2567 6000