Carilah Solusi Meski Sampai ke Negeri China
Di Timur Tengah, China kini menjadi mitra utama perdagangan hampir semua negara di kawasan tersebut. Menurut Misyary al-Daidy, sangat wajar jika Arab Saudi dan Iran yang sering tidak akur, kini mencari solusi ke China.

Musthafa Abd Rahman
Dalam khazanah ilmu Islam klasik, cukup populer hadis Nabi yang berbunyi “Carilah ilmu meskipun sampai ke China”. Banyak penafsir memahami hadis Nabi itu sebagai perintah menuntut ilmu, sekalipun ke tempat yang sangat jauh, yakni negeri China. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, negeri China adalah tempat yang paling jauh jaraknya dari tanah Arab, karena pada era itu belum ditemukan benua Amerika dan Australia.
Ada penafsir lain yang menafsirkan negeri China adalah negeri yang maju saat itu. Maka Nabi mengimbau menuntut ilmu ke negeri yang sudah maju. Seiring dengan tercapainya kesepakatan rekonsiliasi Iran-Arab Saudi pada 10 Maret lalu dengan mediasi China, muncul lagi pameo “Carilah Solusi, Meskipun Sampai ke China”.
Baca juga: Rekonsiliasi Arab Saudi-Iran Ubah Peta Timur Tengah
Adalah kolomnis Arab Saudi, Misyary al Daidy, menurunkan tulisan kolom di harian Asharq Al Awsat edisi 15 Maret 2023 dengan judul “Carilah Solusi, Meskipun Sampai ke China”. Ia tentu menurunkan tulisan dengan judul tersebut, terinspirasi dengan hadis Nabi itu.
Ia secara tidak langsung ingin menyampaikan pesan, bahwa Nabi Muhammad SAW saja menyuruh belajar sekalipun sampai ke China, apalagi masa sekarang, dimana China telah meraih kemajuan luar biasa dalam segala bidang, termasuk teknologi.

Foto yang dikeluarkan oleh Istana Kerajaan Arab Saudi memperlihatkan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (kanan) menyambut kedatangan Presiden China Xi Jinping (Kiri), Kamis (8/12/2022). Xi menyebut kunjungan ini sebagai sebuah kunjungan untuk meneguhkan persahabatan lama antara kedua negara yang sudah berlangsung lebih dari 2000 tahun.
Bahkan China kini mampu bersaing dengan Amerika Serikat (AS) dalam teknologi dan ekonomi. China pun kini merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS di muka bumi ini. Banyak pengamat ekonomi memprediksi, kemajuan ekonomi China akan melewati AS dalam waktu kurang dari 10 tahun.
Di Timur Tengah, China kini menjadi mitra utama perdagangan hampir semua negara di kawasan tersebut. Neraca perdagangan Arab-China mencapai 275,5 miliar dollar AS pada tahun 2021 sesuai laporan ekonomi Arab tahun 2022.
Menurut Misyary al-Daidy, sangat wajar jika negara sekelas Arab Saudi dan Iran yang sering tidak akur, kini mencari solusi ke China demi mencapai kesepakatan normalisasi atau rekonsiliasi. China pun sukses besar mendamaikan Iran-Arab Saudi tersebut. Apa yang dilakukan Iran dan Arab Saudi itu sebagai dua negara Islam sesungguhnya punya landasan etik dan filosofi, yaitu hadis Nabi “Carilah Ilmu, sekalipun sampai ke China”.
Baca juga: Kisah Peran China di Balik Rekonsiliasi Arab Saudi-Iran
Pesan hadis Nabi itu yang kini dilaksanakan oleh Arab Saudi dan Iran. Tentu harapan adalah Iran dan Arab Saudi terus komitmen melaksanakan pesan hadis Nabi itu, sehingga rekonsiliasi kedua negara tersebut berandil besar menciptakan perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan di Timur Tengah.
Kapasitas China yang kini menjelma menjadi negara raksasa, baik secara ekonomi maupun teknologi, sangat sesuai dengan pesan hadis itu, carilah solusi meskipun sampai ke China. Iran maupun Arab Saudi sangat sadar akan posisi strategis China dengan kapasitasnya yang luar biasa itu.

Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Xinhua News pada Sabtu (11/3/2023) ini memperlihatkan Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Iran, Ali Shamkhani (kanan) berjabat tangan dengan mitranya Penasehat Keamanan Nasional Arab Saudi Musaad bin Mohammed al-Aiban (kiri) bersama diplomat senior China Wang Yi (tengah) dalam sesi foto bersama di Beijing, China.
Iran maupun Arab Saudi sudah menetapkan China sebagai mitra strategisnya. Kunjungan Presiden China, Xi Jinping, ke Arab Saudi pada Desember 2022 dan ke Iran pada Februari 2023, menunjukkan tentang kemitraan strategis antara Iran dan Arab Saudi dengan China saat ini.
Arab Saudi dan China telah memilih kota Jizan – barat daya Arab Saudi, sebagai kota titik tolak mega proyek jalur sutera China di Arab Saudi dan Timur Tengah. Kota Jizan yang bertepi ke laut Merah, dirancang untuk menjadi pusat industri dan investasi China di Arab Saudi. Dari kota Jizan, produk China dirancang akan berekspansi ke Afrika, Eropa dan dunia Arab.
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman (MBS), membuka jalan untuk investasi China di Arab Saudi, karena dianggap sesuai dan mendukung megaproyek visi Arab Saudi 2030. Dengan kata lain, megaproyek jalur Sutera China dan visi Arab Saudi 2030 memiliki persamaan visi.
Baca juga: Relasi Arab dengan Barat dan China
Sebaliknya China sudah sejak lama melihat Iran sebagai mitra staregisnya dalam megaproyek jalur Sutera, karena letak geografis Iran yang sangat strategis. Negeri Iran yang berbatasan dengan Asia Selatan, Asia Tengah dan Timur Tengah, bisa menjadi jalur transit menuju tiga wilayah tersebut. China juga melihat pemerintah para Mullah di Teheran masih cukup kuat dan mampu menciptakan stabilitas di Iran, meskipun sering digoyang oleh musuh-musuhnya, seperti AS dan Israel.
Karena itu, China sangat butuh Arab Saudi dan Iran dalam upaya menyukseskan megaproyek jalur Sutera tersebut. Sebaliknya juga Arab Saudi sangat butuh China untuk memuluskan megaproyek visi Arab Saudi 2030. Adapun Iran sangat butuh China pula untuk meringankan beban blokade negara-negara Barat, khususnya AS, atas Iran yang berlangsung sejak revolusi Iran 1979.

Dalam foto yang disediakan oleh Kantor Kepresidenan Iran tampak Presiden Iran President Ebrahim Raisi berjabat tangan dengan mitranya Presiden China Xi Jinping menjelang pertemuan bilateral yang digelar di Beijing pada Selasa (14/2/2023).
Iran juga berharap normalisasi hubungan dengan Arab Saudi turut meringankan beban blokade ekonomi terhadap Iran itu. Arab Saudi dan negara Arab Teluk lain diharapkan semakin membuka kran hubungan dagang dengan Iran pasca normalisasi hubungan Iran-Arab Saudi tersebut.
Timur Tengah Baru
Jika normalisasi hubungan Iran-Arab Saudi terus berkembang menuju situasi Timur Tengah yang lebih baik, aman dan stabil, maka inilah yang layak disebut Timur Tengah Baru hasil karya China, karena China yang berhasil mendamaikan Iran-Arab Saudi itu.
Nama Timur Tengah Baru itu pertama kali dilontarkan oleh mendiang Presiden Israel, Shimon Peres, pasca tercapainya kesepakatan Oslo antara Israel dan Palestina tahun 1993. Peres saat itu menggambarkan pasca kesepakatan Oslo, akan terwujud dua negara Israel dan Palestina yang hidup berdampingan secara damai dan lalu kesepakatan damai Israel-Arab secara luas.
Namun impian Peres tidak terwujud, karena Israel-Palestina masih terlibat konflik berdarah dan negara Palestina belum terwujud. Perkembangan lain bisa mewujudkan impian Timur Tengah Baru itu, yaitu rekonsiliasi Iran-Arab Saudi, bila proses rekonsiliasi itu berkembang ke arah lebih baik dan maju dengan niat tulus dari kedua negara Iran-Arab Saudi.