logo Kompas.id
β€Ί
Opiniβ€ΊMengelola Kecemasan

Mengelola Kecemasan

Anda mungkin tenggelam dalam perenungan, maka dengan lembut katakan kepada diri sendiri bahwa rasa cemas itu memang ada, tetapi Anda tidak tertarik untuk mencoba memikirkan jalan keluarnya.

Oleh
AGUSTINE DWIPUTRI
Β· 1 menit baca
Antrean orangtua calon murid yang mendatangi SMKN 26 Rawamangun, Jakarta Timur, yang ditunjuk sebagai posko penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2020 wilayah Jakarta Timur, Kamis (25/6/2020). Penerapan patokan umur dalam penerimaan peserta didik baru jalur zonasi di DKI Jakarta membuat sejumlah orangtua calon peserta didik cemas karena nilai rapor di atas rata-rata tak cukup meloloskan anak mereka ke sekolah idaman.
KOMPAS/RIZA FATHONI

Antrean orangtua calon murid yang mendatangi SMKN 26 Rawamangun, Jakarta Timur, yang ditunjuk sebagai posko penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2020 wilayah Jakarta Timur, Kamis (25/6/2020). Penerapan patokan umur dalam penerimaan peserta didik baru jalur zonasi di DKI Jakarta membuat sejumlah orangtua calon peserta didik cemas karena nilai rapor di atas rata-rata tak cukup meloloskan anak mereka ke sekolah idaman.

Kita semua pernah mengalami masa-masa merasa cemas. Beberapa orang mungkin lebih rentan terhadap kecemasan daripada yang lain. Faktanya, kecemasan adalah emosi yang muncul sebagai reaksi terhadap stres, yang bukan berupa kemarahan atau kesedihan.

Nevid (2005) mengartikan kecemasan sebagai suatu keadaan gelisah atau khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

Editor:
ICHWAN SUSANTO
Bagikan