logo Kompas.id
OpiniSeabad Chairil Anwar, Memaknai...
Iklan

Seabad Chairil Anwar, Memaknai Keindonesiaan Kita

Chairil Anwar dan Indonesia memiliki hubungan teks yang kuat. Memperingati seabad usia Chairil bisa dijadikan aras dan arus berpikir futuristik untuk menimbang semangat kebebasan Chairil serta keindonesiaan saat ini.

Oleh
Nizar Machyuzaar
· 1 menit baca
Supriyanto
SUPRIYANTO

Supriyanto

Chairil dan Indonesia memiliki hubungan teks yang kuat. Kedua nama ini meriwayatkan visi kebebasan. Setidaknya, ungkapan ”bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa” yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 sejajar dengan ungkapan ”Aku ini binatang jalang” dalam puisi ”Aku” Chairil.

Sayangnya, Chairil (1922-1949) wafat pada usia belia, 27 tahun. Namun, dalam rentang waktu tujuh tahun menulis puisi (1942-1949), Chairil telah mengonkretkan ungkapan aku ingin hidup seribu tahun lagi. Sementara itu, Indonesia yang sudah berusia 77 tahun masih harus terus berjibaku dalam meneguhkan semangat keakuannya. Bukahkah ungkapan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati menggambarkannya?

Editor:
YOHANES KRISNAWAN
Bagikan