logo Kompas.id
OpiniDari Payudara ke Dara ’Payu’...

Dari Payudara ke Dara ’Payu’ (Laku)

Di situlah penyaji ”paradise” bisa saja terjebak neraka perdagangan wanita. ”Okay”, jangan-jangan saya terlalu pesimistis.

Oleh
JEAN COUTEAU
· 1 menit baca
-
CAHYO HERYUNANTO

-

Bila kita ingin mengerti bagaimana Pulau Bali telah menjadi bagian dari dunia imaginer warga dunia, tak pelak harus mengacu pada bagian penting tubuh wanita: payudara. Titik awalnya 100 tahun yang lalu ketika media modern—fotografi waktu itu—mulai menjerat kita di dalam pusaran visual gilanya. Baru Perang Dunia Pertama (1914-1918) selesai, dengan foto-foto yang mengerikan itu, muncullah foto-foto buku Krause, yang memperlihatkan perempuan Bali mandi atau berlalu-lalang santai dengan bertelanjang dada.

Wah! Iri-irilah ibu-ibu Barat yang zaman dadanya sedemikian dikorset. Adapun pria Barat, ya... diam nan kagum, membalik-balik halaman buku Krause satu per satu. Tak ayal, payudara perempuan Bali untuk seterusnya menjadi ikonik. Dan itulah kini kutukannya….

Editor:
MOHAMMAD HILMI FAIQ
Bagikan