logo Kompas.id
β€Ί
Opiniβ€ΊPendidikan Tinggi dan...

Pendidikan Tinggi dan Ketimpangan

Kita terjebak dalam arus neoliberalisme di bidang pendidikan tinggi (PT). PT perlu mengintegrasikan riset dan pendidikan yang mencetak manusia yang well-informed yang fokus pada learning bukan hanya skills-production.

Oleh
ARIEF ANSHORY YUSUF
Β· 1 menit baca
-
Heryunanto

-

Ada masa-masa di mana berita tentang anak-anak dari keluarga miskin yang berhasil dalam pendidikannya, memenuhi ruang-ruang media kita. Apakah itu anak seorang petani yang menjadi sarjana dengan predikat cum-laude, atau anak tukang becak yang meraih gelar doktoral. Berita-berita tersebut viral, menjadi bahan perbincangan dan pada banyak orang memberikan kenyamanan bahwa siapa saja bisa menjadi apa saja di negeri ini.

Saya memilih berpikiran lain. Fakta viralnya berita tersebut justru menunjukkan bahwa fenomena tersebut bukanlah hal yang umum. Ini justru bukti bahwa seorang anak dari keluarga miskin yang bisa menjadi sarjana di Indonesia itu lebih bersifat pengecualian (exception) daripada hal yang biasa (norm). Pada masyarakat yang ideal, status sosial ekonomi orangtua seharusnya bukan menjadi faktor penentu utama pencapaian pendidikan seseorang.

Editor:
SRI HARTATI SAMHADI, YOHANES KRISNAWAN
Bagikan