logo Kompas.id
β€Ί
Opiniβ€ΊCahaya dari Bandar Lampung
Iklan

Cahaya dari Bandar Lampung

Tradisi dan keadaban (politik) yang ditunjukkan NU adalah kontribusi untuk bangsa dan dunia. Bangsa yang sedang terjebak pada pembelahan tajam. Pembelahan akibat kontestasi pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah.

Oleh
Budiman Tanuredjo
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/1zNUtKpw0ttq2_xAoMYVkvMB1zs=/1024x1214/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F01%2F20190118iam-bdm_1547801486-e1582964965583.jpg
KOMPAS/ILHAM KHOIRI

Budiman Tanuredjo

Sudah dua Sabtu, kolom ini tak muncul. Beberapa orang bertanya melalui telepon. Saya jawab karena koran tidak terbit. Banyak peristiwa yang sebenarnya layak diulas, tetapi tak sempat diulas. Salah satu peristiwa yang membanggakan sekaligus juga mengharukan adalah transisi kepemimpinan di  Nahdlatul Ulama melalui Muktamar Ke-34 di Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

Bukan soal menang dan kalah, melainkan keadaban dan tradisi yang ditunjukkan oleh elite Nahdlatul Ulama. Luar biasa. Saya menyaksikan melalui tayangan televisi bagaimana keadaban tinggi dipertontonkan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan KH Said Aqil Siroj. Rivalitas yang begitu tinggi menjelang muktamar selesai dengan adem setelah terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar NU (PBNU) periode 2021-2026 dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU.

Editor:
Madina Nusrat
Bagikan