logo Kompas.id
OpiniBelajar Ilmu Sekuler di...
Iklan

Belajar Ilmu Sekuler di Timteng

Mempelajari ilmu-ilmu sekuler di perguruan tinggi Timteng jauh lebih bermanfaat untuk kemaslahatan, kemajuan, dan kemakmuran bangsa dan negara Indonesia di masa datang, selain guna menghindari kemungkinan dampak buruk.

Oleh
SUMANTO AL QURTUBY
· 7 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/aBID4BHoz03LpVBfewWJ5lpLIkU=/1024x2314/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211223-Ilustrasi-Opini6-Belajar-Ilmu-Sekuler_CLR-_1640270651.jpg
Kompas

Didie SW

Bagi sebagian besar warga Indonesia, dunia pendidikan di Timur Tengah, khususnya pendidikan tinggi, dianggap didominasi oleh ”pendidikan Islam”.

Yang dimaksud ”pendidikan Islam” di sini adalah pendidikan untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman (Islamic sciences), seperti fikih, ushuluddin, ilmu tafsir, dan ilmu hadis. Asumsi itu bisa jadi karena mereka beranggapan bahwa Timur Tengah adalah ”kawasan Islam.”

Faktor lain karena peran, pengaruh, dan dominasi alumni Timur Tengah (Timteng). Sejak beberapa dekade silam, banyak sekali mahasiswa Indonesia yang belajar ilmu-ilmu keislaman di sejumlah perguruan tinggi di Timteng, termasuk cabangnya di Indonesia, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA). Ini belum termasuk mereka yang belajar ilmu-ilmu keislaman di sejumlah institusi pendidikan Islam non-perguruan tinggi, khususnya di Yaman dan juga Arab Saudi.

Setelah selesai studi, mereka kemudian mendirikan yayasan, madrasah, pesantren, Islamic center, atau kelompok pengajian, serta menyebarkan corak, ajaran, wawasan, diskursus, paham, atau ideologi keislaman tertentu di Indonesia, baik lewat media daring maupun luring.

Padahal, realitasnya pendidikan di bidang studi ilmu-ilmu sekulerlah yang sebetulnya justru lebih dominan di Timteng.

Padahal, realitasnya pendidikan di bidang studi ilmu-ilmu sekulerlah yang sebetulnya justru lebih dominan di Timteng. Yang dimaksud bidang studi ilmu-ilmu sekuler di sini adalah non-Islamic sciences, seperti ”hard” sciences (fisika, kimia, astronomi, biologi, dan sebagainya), ”soft” sciences (ilmu-ilmu sosial dan humaniora), ataupun bidang studi lainnya (misalnya ilmu komputer, bisnis, manajemen, ilmu teknik, kedokteran dan keperawatan, geoscience, ilmu perminyakan, ilmu pertanian, sistem informasi dan teknologi, dan sebagainya).

Kini, berbagai perguruan tinggi ternama di Timteng sedang gencar membuka program studi di bidang teknologi cerdas (smart technology) guna menyongsong era Revolusi Industri 4.0 (Revolusi Digital), seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), internet of things, robotics, dan blockchains.

Dalam rangka menyambut era Revolusi Digital ini, kampus saya juga membuka lebih dari 30 program studi baru, selain puluhan lembaga riset dan berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan teknologi pintar.

Baca juga : Perguruan Tinggi Diharapkan Memberi Solusi

Tren dan fenomena ilmu-ilmu sekuler

Hasil studi atau temuan riset saya menunjukkan bahwa tren pendidikan ilmu-ilmu sekuler bukan hanya dominan di negara-negara Arab Teluk (the Gulf) yang dikenal sebagai ”kawasan kaya dan makmur”, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman, melainkan juga negara-negara lain, misalnya Lebanon, Mesir, Jordania, dan sebagainya.

Di Arab Saudi, misalnya, tercatat hanya tiga perguruan tinggi yang awalnya atau dalam sejarahnya didesain khusus untuk mengkaji ilmu-ilmu keislaman, yaitu Universitas Islam (Madinah), Universitas Umm al-Qura (Mekkah), dan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud (Riyadh).

Selebihnya, fokus utama kampus-kampus di Arab Saudi ialah di bidang studi ilmu-ilmu sekuler. Memang kampus-kampus tersebut menawarkan Islamic studies, tetapi sangat minor dan komplemen saja.

Sejak 1970-an atau 1980-an, para mahasiswa Indonesia pada umumnya belajar ilmu-ilmu keislaman di tiga kampus ini, termasuk LIPIA di Indonesia yang merupakan cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud.

Menariknya, tiga universitas tersebut dalam perkembangannya juga membuka fakultas atau program studi di bidang ilmu-ilmu sekuler. Misalnya, Universitas Islam Madinah membuka fakultas teknik, komputer, dan ilmu pengetahuan (seperti ilmu-ilmu eksakta).

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/oDrKKhWNc6zSf_UukenNA_QQeqM=/1024x636/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F01%2FFC-04976-I-11-DJ7BJQ_81_1580387004.jpg
KOMPAS/MUSTHAFA ABD RAHMAN

Universitas Al-Azhar di Mesir.

Di Universitas Umm al-Qura, fakultas baru yang dibuka lebih banyak lagi, seperti fakultas kedokteran, farmasi, keperawatan, teknik, komputer dan sistem informasi, ilmu terapan, administrasi bisnis, dan ilmu sosial. Hal yang sama juga dilakukan oleh Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud.

King Abdullah Scholarship Program, sebuah program beasiswa pemerintah untuk putra-putri Saudi yang ingin belajar di kampus-kampus top di luar negeri (terutama Amerika Serikat, Kanada, Australia, negara-negara di Eropa Barat dan Skandinavia, atau China, Jepang, Korsel, dan Singapura) juga difokuskan untuk studi ilmu-ilmu sekuler.

Kenapa perguruan tinggi (dan pemerintah) di Arab Saudi (juga negara-negara Arab Timteng lainnya) fokus di bidang studi ilmu-ilmu sekuler, dan bahkan tiga universitas yang awalnya ”diprogram” khusus untuk studi ilmu-ilmu keislaman, juga ikut-ikutan berubah dan ”mereformasi” diri?

Tuntutan pasar dan pekerjaan

Salah satu faktor utama ialah karena kebutuhan zaman dan tuntutan pasar pekerjaan. Alumni pendidikan ilmu-ilmu keislaman sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin keilmuan mereka karena keterbatasan pangsa pasar dan lapangan pekerjaan.

Iklan

Profesi yang biasa diisi oleh para alumnus ilmu-ilmu keislaman adalah khatib/takmir masjid, hakim, ”polisi syariat”, atau guru studi Islam di sekolah. Semuanya terbatas.

Sekolah-sekolah pun banyak mengajarkan ilmu-ilmu sekuler. Mereka juga tidak bisa seenaknya membuat sekolah/madrasah atau lembaga pengajian sendiri karena corak negara yang bersifat ”raja sentris”, sementara lembaga ”polisi syariat” sudah dibubarkan.

Lapangan pekerjaan yang melimpah ruah adalah sektor industri dan lainnya yang membutuhkan keahlian non-ilmu-ilmu keislaman.

Lapangan pekerjaan yang melimpah ruah adalah sektor industri dan lainnya yang membutuhkan keahlian non-ilmu-ilmu keislaman. Karena faktor inilah, para alumnus SMA di Arab Saudi berlomba-lomba masuk perguruan tinggi umum untuk belajar ilmu-ilmu sekuler.

Sejumlah kampus favorit yang menjadi rebutan mahasiswa untuk belajar ilmu-ilmu sekuler adalah King Fahd University of Petroleum & Minerals, King Abdulaziz University, King Saud University, dan sebagainya. Tren dan fenomena ini, sekali lagi, tidak hanya di Arab Saudi, tetapi juga di negara-negara lain di Timur Tengah.

Pendidikan Islam dan radikalisme

Faktor berikutnya yang tak kalah penting adalah pendidikan ilmu-ilmu keislaman, jika salah asuh dan salah urus, berpotensi memproduksi para alumnus yang berkarakter konservatif, militan, rigid, tertutup, dan bahkan radikal-ekstrem yang anti terhadap kemodernan, perubahan zaman, kemajuan teknologi, dan perkembangan sosial-budaya. Hal itu bisa menghambat upaya pemerintah untuk mewujudkan Arab Saudi menjadi sebuah negara yang maju, modern, inklusif, moderat, dan berbasis teknologi canggih seperti dicanangkan dalam Saudi Vision 2030.

Baca juga : Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia 2022

Arab Saudi sudah membuktikan dan mengalami hal tersebut. Pendidikan model Islam radikal-konservatif yang dulu didesain oleh faksi Wahabi garis keras dan kelompok militan Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan Suriah yang kabur ke (dan ditampung oleh) Arab Saudi telah melahirkan jenis, genre, atau varian keislaman baru atau ”Islam hibrida” yang bercorak militan-ekstrem, seperti kelompok Sahwa yang anti terhadap kemodernan dan kebudayaan.

Mengapa studi ilmu-ilmu sekuler?

Seperti tren dan fenomena masyarakat Arab Timteng, masyarakat Indonesia, jika ingin belajar di perguruan tinggi Timteng, akan lebih baik dan bermanfaat jika mengambil bidang studi ilmu-ilmu sekuler, seperti studi perminyakan, ekonomi dan bisnis, dan ilmu sosial. Beasiswa Pemerintah Indonesia yang dikelola sejumlah kementerian juga sebaiknya diarahkan untuk bidang studi non-Islamic studies ini.

Ada beberapa alasan mendasar. Pertama, banyak kampus bermutu, berstandar, dan berkualitas internasional di Timteng yang memiliki reputasi global dan diakui oleh sejumlah lembaga peranking kampus dunia, seperti Quacquarelli Symonds dan Times Higher Education.

Banyak dari kampus itu menggunakan bahasa Inggris sebagai instrumen belajar-mengajar (atau campuran bahasa Inggris dan Arab). Tenaga pengajarnya pun dari berbagai suku bangsa dan negara, termasuk negara-negara Barat, China, dan lainnya.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/mP2lCK0_5dLHW5XTrKIhfNCFnMs=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F05%2F20171114_SAUDI-ECONOMY.jpg
REUTERS/Faisal Al Nasser

Aktivitas pembangunan properti di Distrik Finansial King Abdullah di Riyadh, Arab Saudi, 12 November 2017.

Sebut saja King Abdullah University of Science and Technology (Arab Saudi), The American University of Beirut (Lebanon), The American University in Cairo (Mesir), King Abdulaziz University (Arab Saudi), Qatar University (Qatar), University of Jordan (Jordania), dan sebagainya. Kampus saya juga dalam beberapa tahun terakhir menjadi universitas terbaik di kawasan Arab Timteng dan bahkan program studi Petroleum Engineering-nya menempati peringkat ketujuh dunia.

Selain itu, cukup banyak kampus top Barat yang mendirikan cabang di negara-negara di kawasan Arab Teluk. Ini juga bisa menjadi alternatif studi. Misalnya, New York University, Georgetown University, Texas A&M University, Northwestern University, Virginia Commonwealth University, Sorbonne University, HEC Paris, dan masih banyak lagi.

Alasan berikutnya, kedua, program studi ilmu-ilmu sekuler itulah yang jauh lebih bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Para alumnusnya diharapkan bisa turut berkontribusi memajukan perkembangan ekonomi, sains, teknologi, budaya, dan sebagainya.

Ketiga, Indonesia kini sudah surplus lembaga pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang fokus di bidang Islamic studies. Pada dasarnya belajar Islamic studies di mana pun sama saja karena basisnya adalah membaca, mempelajari, dan menelaah teks (buku/kitab). Bahkan sekarang kajian Islamic studies di perguruan tinggi Indonesia tampak jauh lebih maju ketimbang di Timteng karena mereka menggunakan model pendekatan riset dan keilmuan yang beragam serta referensi bacaan yang bervariasi dan lintas mazhab.

Beasiswa Pemerintah Indonesia yang dikelola sejumlah kementerian juga sebaiknya diarahkan untuk bidang studi non-Islamic studies ini.

Keempat, untuk mengurangi produksi ”Islam militan” dan penyebaran radikalisme agama yang membahayakan tatanan kebudayaan, kebangsaan, dan kenegaraan Indonesia. Saya perhatikan banyak sekali alumnus pendidikan Islam Timteng yang gencar mengafirsesatkan tradisi dan budaya lokal Nusantara, memperkenalkan dan memaksakan praktik keberagamaan ”model Islam Arab” yang tak sesuai dengan konteks, tradisi, dan kultur masyarakat Indonesia (misalnya, pemaksaan pemakaian cadar untuk anak-anak sekolah).

Atau, bahkan, memprovokasi publik agar ”menggugat” eksistensi dan otoritas sistem pemerintahan dan fondasi kenegaraan (seperti konstitusi UUD 1945 dan dasar negara Pancasila) yang mereka anggap sebagai ”tidak Islami”, ”tidak syar’i”, dan ”produk kafir”.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/gtO_puKZJPLwwKwHnocJUWWaj9g=/1024x973/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2FSumanto-Al-Qurtuby_1627758363.jpeg
ARSIP PRIBADI

Sumanto Al Qurtuby

Tentu saja tidak semua alumnus pendidikan Islam Timteng melakukan hal ini. Pula, bukan hanya alumni pendidikan Islam Timteng yang melakukan hal tersebut.

Poinnya adalah mempelajari ilmu-ilmu sekuler di perguruan tinggi Timteng akan jauh lebih bermanfaat untuk kemaslahatan, kemajuan, dan kemakmuran bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang, selain guna menghindari kemungkinan terjadinya dampak buruk yang lebih besar di masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah dan elemen masyarakat sangat layak untuk mempertimbangkan hal tersebut.

Sumanto Al Qurtuby, Pendiri Nusantara Institute dan Pengajar King Fahd University of Petroleum & Minerals

Editor:
Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan
Bagikan