logo Kompas.id
OpiniMenghalau Badai Omicron

Menghalau Badai Omicron

Pengalaman kita dua tahun mengelola pandemi memberi pelajaran untuk tetap optimis tanpa mengabaikan tanda-tanda bahaya yang ada. Penerapan protokol kesehatan tak boleh longgar.

Oleh
SYAFIQ BASRI ASSEGAFF
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/k05T5dIUMpXPgIAwO827RLA0A-A=/1024x2072/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211222-Ilustrasi-Opini6-Menghalau-Badai-Omicron_CLR_1640179292.jpg
Kompas

Didie SW

Capek sudah dua tahun kita memerangi wabah Covid-19. Meski telah ditemukan kasus Omicron di Indonesia, kita tetap ingin agar badai segera berlalu. Mengutip Berlian Hutauruk, "enyahlah engkau awan hitam di hati yang gelisah semusim yang lalu; jangan lagi ada daun-daun berguguran".

Cukup sudah 144.000-an orang, termasuk ratusan tenaga kesehatan, yang gugur akibat virus ini. Kini, generasi lebih muda pun, dalam rentang usia enam hingga 11 tahun, disertakan menabuh genderang perang mengganyang sang virus. Jumlah kelompok usia ini 26 juta lebih.

Editor:
Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan
Bagikan