logo Kompas.id
OpiniGanti BBM dengan BBN

Ganti BBM dengan BBN

Untuk energi listrik dan bahan bakar kendaraan, kita tidak bergantung lagi pada BBM fosil. Upaya itu harus dimulai sekarang dan dengan serius. Jika tidak akan terlambat. Dengan demikian, tanpa minyak bumi pun kita aman.

Oleh
A Soeritno
· 2 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/gibRYLKXOE1IRQJpKIRiNnqVu0E=/1024x782/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2F20211122-H09-ADI-Energi-Baru-Terbarukan-mumed_1637594124.jpg

BBM adalah bahan bakar yang berasal dari minyak bumi. Bisa habis sumbernya atau tidak terbarukan. BBN adalah bahan bakar nabati yang berasal dari produk tumbuhan sehingga bisa berkelanjutan atau terbarukan.

Saat ini lifting atau produksi minyak bumi kita cenderung menurun. Kabarnya lebih kurang 650.000 barel per hari (bph), sedangkan kapasitas kilang 1 juta bph. Jika semua proyek kilang selesai, kapasitas kilang menjadi sekitar 1,5 juta bph. Berarti kilang kurang asupan 350.000 bph.

Jika semua kilang rampung dan belum didapatkan sumber baru, kekurangan 850.000 bph atau hampir 1 juta bph harus diimpor dengan devisa yang sangat besar. Itu pun belum tentu tersedia karena kini hampir semua negara penghasil minyak menurun produksinya.

Apa upaya yang harus segera dilakukan?

Pertama, persiapkan agar BBN bisa diproses di kilang BBM, tentu dengan penambahan dan modifikasi. Cara ini akan lebih efisien karena sudah tersedia lahan, peralatan, tangki, dan sebagainya. Dengan demikian, kilang dapat memproses BBN dari bahan nabati, misalnya minyak dari sawit, kelapa, atau jarak. Jadi, kilang tidak menganggur.

Kedua, ubah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan pembakaran BBM menjadi PLTA atau tenaga air. Di Indonesia terdapat ribuan sungai yang tidak pernah membeku seperti di negara beriklim dingin.

Jadi, untuk energi listrik dan bahan bakar kendaraan, kita tidak bergantung lagi pada BBM fosil. Upaya tersebut harus dimulai dari sekarang dan dengan serius, jika tidak akan terlambat. Dengan demikian, tanpa minyak bumi pun kita tidak khawatir. Devisa dapat digunakan untuk pembangunan dan kemakmuran bangsa.

A Soeritno

Pulogadung, Jakarta Timur

Untuk Puskesmas

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/JMFI-PBjth2Q9aetnhUtJcbKeuo=/1024x671/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2Fdd93113c-769c-452e-924a-7473b3f6da2f_jpg.jpg
KOMPAS/RIZA FATHONI

Staf puskesmas mendata siswa sebelum menerima suntikan vaksin Covid-19 di SD Negeri 02 Pondok Bambu, Jakarta Timur, Selasa (14/12/2021). Sebanyak 141 anak kelas 3 menerima suntikan vaksin Sinovac di sekolah tersebut. Kementerian Kesehatan memulai vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6-11 dengan jumlah sasaran vaksinasi mencapai 26,5 juta di Indonesia. Pada tahap awal, vaksinasi Covid-19 anak usia 6-11 tahun digelar di sekolah dasar atau sederajat. Jadwal vaksinasi ditentukan oleh pihak sekolah bersama puskesmas setempat untuk pelaksanaannya. Selain di sekolah, vaksinasi juga dilaksanakan di fasilitas kesehatan atau pos vaksin.

Puskesmas telah berkontribusi luar biasa bagi masyarakat, khususnya dalam menanggulangi pandemi dan yang terkini memberikan vaksinasi Covid-19.

Meskipun tidak semua puskesmas memiliki sarana dan prasarana memadai, seperti ruang isolasi dan lemari berpendingin untuk menyimpan vaksin dan pelbagai sarana medis lainnya, puskesmas bisa dikatakan berhasil meredam Covid-19.

Pada era disrupsi, di mana inovasi telah mengubah semua sistem dan tatanan, pemerintah perlu menyikapi masalah ini sebaik-baiknya.

Selain membangun sarana dan prasarana, seperti jaringan kabel listrik yang tidak asal direntang, sinyal Wi-Fi yang memadai, komputer, printer, dan pemasok daya darurat, perlu peningkatan kapasitas sumber daya manusianya.

Semoga dengan demikian, puskemas benar-benar menjadi ujung tombak penjaga kesehatan bangsa Indonesia.

FX Wibisono

Jl Kumudasmoro Utara, Semarang 50148

Editor:
Agnes Aristiarini
Bagikan