logo Kompas.id
OpiniSolusi Tiang Trotoar

Solusi Tiang Trotoar

Ambil contoh Jalan Panglima Polim Raya dan Jalan RS Fatmawati, yang merupakan lingkungan tempat usaha. Di sana tempat parkir di depan toko terbatas, lagi pula tidak ada fasilitas parkir umum khusus untuk mobil.

Oleh
Gunawan Suryomurcito
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/IJaNGo2PF0z6r_TyEbUVUbLJelw=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F8260122f-c619-4ab2-96d2-6cbf15cffdf1_jpg.jpg
Kompas/Wawan H Prabowo

Pejalan kaki menyusuri totoar menuju Stasiun Kereta Dukuh Atas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (15/12/2021). Trotoar yang selesai direvitalisasi menjelang perhelatan Asian Games 2018 lalu itu diharapkan bisa mendorong minat masyarakat untuk berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum.

Di media sosial beredar keluhan pemasangan tiang-tiang trotoar di Jakarta Selatan, khususnya di depan tempat usaha. Pemasangan tiang trotoar itu menyulitkan pengendara mobil untuk masuk keluar tempat parkir.

Menanggapi keluhan itu, Wagub DKI Ahmad Riza Patria menjelaskan, tiang trotoar dipasang untuk mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas, juga agar mobil dan motor tidak mengganggu kenyamanan para pejalan kaki.

Untuk trotoar di jalan-jalan lingkungan perumahan, pemasangan tiang trotoar tidak menjadi soal. Namun, di tempat usaha, hal itu menjadi persoalan besar.

Ambil contoh Jalan Panglima Polim Raya dan Jalan RS Fatmawati, yang merupakan lingkungan tempat usaha. Di sana tempat parkir di depan toko terbatas, lagi pula tidak ada fasilitas parkir umum khusus untuk mobil.

Pengunjung toko kesulitan mendapat tempat parkir sehingga terpaksa berbelanja di tempat lain. Ini tentunya sangat merugikan para pemilik toko. Bagaimana solusinya?

Salah satunya adalah mengubah letak tiang trotoar pada sisi lebar trotoar yang tadinya segaris dan berbentuk segi empat menjadi zig-zag dan berbentuk diagonal. Dengan demikian, mobil dapat masuk keluar tempat parkir secara serong sehingga lebih leluasa bermanuver. Ruang parkir juga bertambah setidaknya untuk satu mobil lagi.

Semoga saran ini didengar dan diterapkan Pemprov DKI. Harapannya, pejalan kaki nyaman di trotoar dan pengemudi mobil dapat leluasa memarkir mobil.

Gunawan Suryomurcito

Pondok Indah, Jakarta Selatan

Lahir di Surabaya 1

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/On-UOp_bwuOJkWl4jdpsHSP1W58=/1024x784/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2FPON-2-ANRI-42_1633706437.jpeg
ANRI/TJUK ATMADI

Presiden Soekarno didampingi Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII sedang berjabat tangan dengan para panitia besar PON Ke-2 pada hari pembukaan PON.

Ada sedikit catatan tentang artikel pendek menarik ”Mengenal Selera Lidah Soekarno” (Kompas, 10/12/2021) di halaman 5. Tulisan itu menyebut bahwa Bung Karno dilahirkan di Blitar, Jawa Timur.

Dalam berbagai buku tertera bahwa presiden pertama kita itu lahir di Surabaya, 6 Juni 1901. Hal ini bisa dilihat, misalnya, pada Lambert Giebels, Soekarno: Biografi 1901-1950, 2001, halaman 9-10; John D Legge, Sukarno: Sebuah Biografi Politik, 1985, halaman 27-28; Bob Hering, Soekarno: Bapak Indonesia Merdeka, 2003, halaman 2; Kapitsa MS dan Maletin NP, Soekarno: Biografi Politik, 2009, halaman 9.

Eduard Lukman

Jl Warga, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta 12510

Lahir di Surabaya 2

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/P8HAD7-RuF0Eqw6LX_bTO6i5rv8=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2Fc007789d-490b-4671-a529-bcd78c66d2c5_jpg.jpg
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Chef Davina Hermawan yang dibantu beberapa asisten menyiapkan sajian makanan untuk dihidangkan dalam acara Pameran Kuliner Kegemaran Presiden RI Ir Soekarno di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Istana Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/12/2021). Melalui pameran ini disampaikan pesan betapa sang Proklamator RI sangat menggemari masakan Nusantara dibandingkan dengan makanan asing. Beberapa masakan kegemaran Bung Karno ini dimasak dan disajikan oleh Chef Devina Hermawan. Masakan tersebut, antara lain, adalah sayur lodeh, opor ayam, sambel terasi, tempe bacem, tahu bacem, dan lumpia. Acara pameran ini dihadiri sejumlah undangan terbatas dan mereka pun disajikan masakan-masakan tersebut sebagai menu sajian santap siang.

Harian Kompas melakukan kekeliruan mendasar berkaitan dengan kota tempat lahir Presiden Soekarno.

Terbit Jumat (10/12/2021) berita di rubrik Humaniora berjudul ”Mengenal Selera Lidah Soekarno” menyebut, ”Kecap yang dikonsumsi Bung Karno harus dipesan langsung dari produksi rumah tangga di Blitar, Jawa Timur, yang juga merupakan kota kelahiran sang proklamator tersebut”.

Blitar adalah kota tempat Bung Karno dimakamkan, bukan kota kelahiran.

Kepada Cindy Adams, Bung Karno mengatakan, kota kelahirannya adalah Surabaya.

Hock Windah

Perum Puri Wahid Regen, Ledok, Argomulyo, Salatiga

Catatan Redaksi:

Terima kasih atas penjelasan Saudara. Dengan ini kesalahan kami perbaiki.

PON

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/9XIfDl8QH4SGFPkGb_owtXb1df4=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F06%2F20190620dra12_1561021949.jpg
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Instruktur mengenakan masker pada Iqbal (22), penyandang disabilitas cerebral palsy, dalam kegiatan latihan selam bagi difabel diveable, di mata air Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (20/6/2019). Selain untuk mengajarkan cara menyelam kepada penyandang disabilitas, kegiatan ini untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa kegiatan menyelam juga dapat dilakukan oleh penyandang disabilitas secara aman dengan didampingi instruktur. Melalui kegiatan ini, diharapkan akses terhadap wisata bawah air Nusantara semakin terbuka lebar bagi seluruh masyarakat.

Melihat tayangan warga disabilitas yang gembira dengan kemenangan di PON, saya berpikir bagaimana dengan PON untuk warga miskin?

Mereka yang kekurangan pantas merasakan festival dan bergembira ikut pertandingan. Mosok sengsara terus. Mereka harus benar-benar miskin, bukan pura-pura atau mengaku-aku. Pengurus desa, RT, RW, tentu memiliki datanya.

Mungkin bisa ditemukan bibit-bibit atlet dari berbagai cabang. Biarkan mereka bangga menyanyi ”Indonesia Raya”, dapat medali atau uang.

Kalau kita berbaik hati terhadap keluarga miskin, mudah-mudahan Tuhan memberi ganjaran berupa negeri yang baik, aman, dan sejahtera. Doa orang miskin mustajab walau tidak diucapkan.

Titi Supratignyo

Bendan Ngisor, Semarang

Editor:
Agnes Aristiarini
Bagikan