logo Kompas.id
β€Ί
Opiniβ€ΊSekoci Antikorupsi
Iklan

Sekoci Antikorupsi

Sekoci antikorupsi seperti komunitas PAK perlu berjejaring dan bersatu menjadi gerakan sangkil dan mangkus, terutama untuk merawat mata hati dan mata pikiran kaum muda dalam menghadapi dan merespons kejahatan korupsi.

Oleh
SUWIDI TONO
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/MopBGM6_3OPPqqM4egut1E3H4lo=/1024x820/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211208-Ilustrasi-Opini6-Sekoci-AntiKorupsi_CLR_1638970328.jpg
Kompas

Didie SW

Pasca-Reformasi, konsolidasi menuju demokrasi substansial justru melemah dengan menguatnya oligarki dan suburnya korupsi. Regresi demokrasi ini memberi petunjuk pengingkaran atas mandat politik elektoral dan mandat pengelolaan dana publik. Pendeknya, pengkhianatan terhadap aspirasi dan kepercayaan rakyat.

Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut lebih dari 429 kepala daerah (bupati, wali kota, gubernur) hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) sejak tahun 2005 terjerat korupsi, dengan sekitar 130 orang di antaranya ditangani KPK. Politik uang yang melekat dalam kultur dan praktik politik belum direspons serius sehingga kasus baru terus bermunculan laksana fenomena gunung es.

Editor:
Sri Hartati Samhadi, yohaneskrisnawan
Bagikan