logo Kompas.id
OpiniKebakaran Tangki BBM
Iklan

Kebakaran Tangki BBM

Usul saya sebagai orang awam adalah mulai menginventarisasi, meneliti, menguji, dan meninjau seluruh alat keamanan di semua tangki kilang BBM.

Oleh
A Soeritno Chem Eng
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/dpKz88izCRYeBz9FuwCZg890G3w=/1024x2377/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2F20211114-GKT-Peta-Kebakaran-Kilang-Minyak-Indonesia-mumed_1636887481.png

Orangtua saya sering menasihati, jangan jatuh ke dalam lubang yang sama. Hal itu kemudian menjadi pegangan hidup saya sehingga saya selalu berhati-hati, jangan sampai mengulang kesalahan yang sama.

Nasihat ini terngiang lagi melihat kebakaran tangki BBM di kilang Cilacap, yang telah beberapa kali terjadi. Penyebabnya pun sering sama, disambar petir.

Pada zaman yang sudah maju ini, di mana orang bisa terbang ulang-alik ke luar angkasa bahkan mendarat di bulan, adalah ironis jika kebakaran masih terjadi di kilang Cilacap. Seharusnya, hal itu bisa dicegah.

Usul saya sebagai orang awam, pertama, menginventarisasi seluruh safety equipments (alat keamanan) di semua tangki kilang. Kedua, meneliti spesifikasi atas peralatan tersebut, apakah sesuai dengan design spec (spesifikasi desain). Ketiga, menginspeksi fisik, apakah peralatan masih ada dan utuh.

Keempat, safety test (uji keamanan) atas seluruh alat keamanan, antara lain pada penangkal petir, safety valves (katup pengaman), dan man and sample holes (tutup pengambilan contoh).

Kelima, dihitung ulang apakah peralatan masih mampu mengatasi parameter atau existing operation conditions (kondisi kini). Keenam, leak test (pemeriksaan seluruh sistem pipa dan sambungan pelat badan tangki) untuk melihat apakah ada kebocoran, rembesan, atau tidak.

Ketujuh, me-review (meninjau ulang) semua prosedur standar operasi (SOP) pengoperasian tangki. Kedelapan, mengadakan safety refreshing (penyegaran ulang keamanan) semua pekerja operasi tangki.

Semoga bisa berguna. Terima kasih.

A Soeritno Chem Eng

Pulogadung, Jakarta Timur

Tanggapan JNE

Sehubungan dengan surat pembaca di harian Kompas, Jumat (12/11/2021), berjudul ”Tanpa Ada Pemberitahuan”, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami Bapak Achmadi Hidayat.

Sebagai bentuk itikad baik dan tanggung jawab JNE kepada pelanggan, kami telah menghubungi Bapak Achmadi Hidayat, diterima oleh Ibu Yani selaku pihak pengirim.

Kami menginformasikan bahwa permasalahan telah selesai dengan penggantian pada 5 Oktober 2021.

Demikian kami sampaikan. Terima kasih atas kepercayaan kepada JNE. Kritik dan saran juga bisa disampaikan melalui customer care: 021-29278888 atau e-mail customercare@jne.co.id.

Hendrianida Primanti

Head of Media Relations Dept, www.jne.co.id

Mengatur Barisan

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/0i1Viy94txH22LYwHzUwWVIXeeE=/1024x615/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2Fb38aa843-94e5-4f3d-baff-c74aeee700d7_jpg.jpg
KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

Jagung hibrida di Manusak, Kabupaten Kupang, NTT, Mei 2020.

Iklan

Dalam rubrik Sosok, 25 Agustus 2021, diceritakan tentang Rahmat Budiarto. Ia masih muda, anak loper koran, yang meraih doktor bidang agronomi dan hortikultura dari IPB University.

Saya bersyukur dan berharap adik-adik kelasnya juga meniru jejaknya. Biar derajat petani jadi terangkat.

Menurut sejarah, para petani pada akhir abad ke-19 sangat menderita karena tanam paksa. Pemerintah Hindia Belanda yang merugi karena Perang Diponegoro (1925-1930) menugaskan Gubernur Van de Bosch mencari uang lewat pertanian.

Maka, hasil bumi, seperti padi dan tebu yang tumbuh subur, diangkut dan dijual ke pasar dunia dengan laba berlipat ganda.

Para petani yang menanam tidak dapat apa-apa. Mereka hanya bersimbah peluh dan air mata. Uangnya menggelinding ke Amsterdam.

Lama sekali para petani menderita. Bahkan, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, penderitaan tersebut masih ada.

Sekarang lambat laun mulai cerah. Mengingatkan saya pada lagu ”Di Timur Matahari”.

Di timur matahari,

mulai bercahya

Bangun dan berdiri,

kawan semua

Marilah mengatur,

barisan kita

Pemuda pemudi Indonesia

Derajat adalah martabat, yang hanya bisa dibangun oleh bangsa kita sendiri.

Titi Supratignyo

Bendan Ngisor, Gajah Mungkur, Kota Semarang

”Mokal”

Serial televisi yang kemudian dilayarlebarkan dengan judul sama dan dibintangi oleh Tom Cruise, Mission Impossible, mengilhami Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mereka cipta istilah baru.

Ia punya tim ”Mission Mustahil” (Kompas, 5/11/2021), tugasnya mewujudkan proyek-proyek di luar bagian pemerintahan daerah.

Mustahil memang ”pas” untuk terjemahan impossible. Kalau mau lebih singkat, bisa muhal (= mokal, Jawa).

L Wilardjo

Klaseman, Salatiga

Editor:
agnesaristiarini
Bagikan