logo Kompas.id
OpiniMenguji Narasi Perpanjangan
Iklan

Menguji Narasi Perpanjangan

Melempar isu perpanjangan masa jabatan Panglima TNI bisa menarik kembali TNI dalam pusaran politik. Selain itu, menjadi ciri negara demokrasi pula bahwa kekuasaan ada batasnya.

Oleh
Budiman Tanuredjo
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/1zNUtKpw0ttq2_xAoMYVkvMB1zs=/1024x1214/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F01%2F20190118iam-bdm_1547801486-e1582964965583.jpg
KOMPAS/ILHAM KHOIRI

Karikatur Budiman Tanuredjo

Jenderal Andika Perkasa tinggal menunggu waktu untuk dilantik. DPR telah menyetujui usulan Presiden Joko Widodo yang mengusulkan Kepala Staf TNI AD Jenderal Andika Perkasa sebagai Panglima TNI. Per 8 November 2021, Panglima TNI Hadi Tjahjanto berusia 58 tahun. Pelantikan Andika dikabarkan pekan depan. ”Pelantikan Panglima minggu depan. Harinya masih dicari hari baik. Minggu depan insya Allah,” ujar Presiden Jokowi, Kamis, 11 November 2021.

Sebagai Panglima TNI, masa jabatan Andika terbilang pendek. Hanya sekitar 400 hari. Dalam uji kelayakan dan kepatutan, Andika mengambil tagline singkat, ”TNI adalah Kita”. ”Jadi, kalau berangkat dari vision statement, Ibu (Ketua Komisi I), saya memilih ’TNI adalah Kita’. Memang singkat sekali, tetapi justru di sini saya ingin masyarakat Indonesia, masyarakat internasional, melihat TNI ini sebagai kita, atau bagian dari mereka,” kata Andika dalam uji kelayakan di Komisi I DPR, Sabtu, 6 November 2021. Tagline itu mirip dengan tagline ”Jokowi adalah Kita” pada saat kampanye pemilu presiden.

Editor:
Madina Nusrat
Bagikan