logo Kompas.id
OpiniAtas Nama Pembangunan

Atas Nama Pembangunan

Hari-hari ini demokrasi seperti cangkang kosong. Ia terlihat bagus dari luar, tetapi di dalamnya tak berisi. Di dalam bungkus pemilu dan seremoni kelembagaan demokrasi, nilai-nilai demokrasi substantif tak diterapkan.

Oleh
Bivitri Susanti
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/w2k3YJf9FV0quilc7Zc8DNxr3lY=/1024x1368/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2FWhatsApp-Image-2021-10-13-at-20.29.29_1634139428.jpeg
DOKUMENTASI PRIBADI BIVITRI SUSANTI

Bivitri Susanti

”Pembangunan, Yes; Hak Asasi Manusia dan Lingkungan, No”. Adaptasi dari semboyan Orde Baru tentang pembangunan ini sepertinya tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini. Pada masa Soeharto, semboyan ”Pembangunan Yes. Politik, No” digunakan untuk menjauhkan warga dari politik. Sekarang, bukan politik yang jadi soal karena ia hanya dipahami sebagai prosedur demokrasi.

Hari-hari ini demokrasi seperti cangkang kosong. Ia terlihat bagus dari luar, tetapi di dalamnya tak berisi. Di dalam bungkus pemilihan umum dan seremoni kelembagaan demokrasi, nilai-nilai demokrasi substantif tidak diterapkan. Pengambilan keputusan di DPR, misalnya, sangat jauh dari demokrasi substantif karena yang dihitung hanya pandangan umum fraksi yang dikontrol oleh elite partai. Individu anggota DPR hanya dibutuhkan untuk melengkapi jumlah anggota, sementara keputusan politik ada di tangan elite politik.

Editor:
Suhartono
Bagikan